Dulu, Rani selalu duduk di sebelah gue. Sekarang? Kursinya kosong.
Bukan karena pindah sekolah—tapi karena dia selalu duduk di pojok bareng pacarnya.
“Bentar ya, Ki,” katanya tiap gue ajak makan.
Bentar versi dia: dua jam.
Suatu hari, gue benar-benar butuh dia. Nilai gue jeblok dan gue hampir kena panggil guru BK.
Gue chat Rani.
✔✔ tapi gak dibalas.
Besoknya, dia datang dengan mata sembab.
“Putus,” katanya singkat.
Baru hari itu dia ingat gue masih ada.
Gue cuma bilang,
“Lo kehilangan pacar sehari.
Gue kehilangan teman berbulan-bulan.”
Dia diem.
Sejak itu, Rani gak pernah duduk di pojok lagi.
Bukan karena kapok pacaran,
tapi karena akhirnya sadar:
kalau semua hidupnya dikasih ke satu orang,
begitu orang itu pergi,
dia gak punya siapa-siapa.