Hujan turun perlahan sore itu, seperti sengaja membawa kenangan yang sudah lama Melani kubur dalam-dalam.
Ia berdiri di depan jendela kafe kecil langganannya, menatap jalanan yang basah. Aroma kopi dan suara sendok beradu dengan cangkir terasa menenangkan—sampai pintu kaca itu terbuka dan seseorang masuk dengan langkah yang sangat ia kenal.
Ringgo
Nama itu seperti gema yang tak pernah benar-benar hilang dari hatinya.
Melani membeku. Dunia terasa melambat. Lelaki itu masih sama—tinggi, dengan senyum setengah miring yang dulu membuatnya jatuh cinta tanpa rem. Rambutnya kini lebih rapi, wajahnya lebih dewasa. Tapi tatapannya… tatapan itu masih sama. Hangat, tajam, dan berbahaya.
Ringgo juga melihatnya.
Dan seperti takdir yang gemar bercanda, ia berjalan mendekat.
“Melani?”
Suara itu masih sanggup membuat jantungnya salah irama.
“Ringgo.” Ia memaksakan senyum tipis. “Lama nggak ketemu.”
Empat tahun. Empat tahun sejak mereka berpisah tanpa benar-benar menyelesaikan apa pun. Empat tahun sejak Melani memutuskan pergi karena lelah menunggu kepastian.
“Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini,” kata Ringgo sambil menarik kursi di depannya. “Boleh duduk?”
Melani ragu. Tapi ia mengangguk.
Mereka berbicara tentang hal-hal biasa—pekerjaan, keluarga, kota yang makin ramai. Melani kini bekerja sebagai desainer interior, sibuk membangun kariernya. Ringgo baru kembali dari luar kota setelah merintis usaha yang katanya mulai berkembang.
Semuanya terdengar dewasa. Terkendali.
Sampai Ringgo berkata pelan, “Kamu masih marah sama aku?”
Pertanyaan itu seperti batu yang dijatuhkan ke permukaan danau tenang.
Melani menatap cangkirnya. “Aku cuma belajar buat nggak berharap lagi.”
Runggo terdiam. Lalu ia tersenyum tipis, senyum yang dulu selalu jadi kelemahannya.
“Aku salah waktu itu,” katanya jujur. “Aku terlalu fokus ke mimpi aku sendiri. Aku pikir kamu bakal selalu nunggu.”
“Dan aku pikir kamu bakal selalu pilih aku,” balas Melani, suaranya tetap lembut meski hatinya bergetar.
Hening menyelimuti meja kecil itu.
Melani membenci kenyataan bahwa berada sedekat ini dengan Ringgo membuatnya merasa seperti dulu—seperti perempuan yang rela menunggu pesan singkat, rela membatalkan rencana hanya untuk menemuinya, rela mengabaikan luka demi bertahan.
“Aku nyesel,” kata Ringgo tiba-tiba. “Waktu aku tahu kamu benar-benar pergi, rasanya baru sadar aku kehilangan apa.”
Godaan itu datang perlahan. Bukan lewat sentuhan, bukan lewat rayuan berlebihan. Tapi lewat penyesalan yang terdengar tulus.
“Aku belum nikah,” lanjut Ringgo pelan, seolah membaca pikirannya. “Dan… aku belum pernah bisa serius sama siapa pun setelah kamu.”
Jantung Melani kembali tak karuan.
Ini yang berbahaya dari mantan. Mereka tahu persis bagaimana cara mengetuk pintu hati yang pernah mereka tinggali.
“Melani,” suara Ringgo melembut, “kalau aku minta kesempatan lagi, kamu bakal kasih?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Di luar, hujan makin deras.
Di dalam, Melani berperang dengan dirinya sendiri.
Ia tahu betul bagaimana rasanya mencintai Ringgo. Rasanya seperti rumah—hangat dan nyaman. Tapi juga seperti badai—melelahkan dan tak terduga.
“Aku udah berubah,” kata Ringgo meyakinkan. “Sekarang aku tahu apa yang penting.”
Melani menatapnya lama. Ia ingin percaya. Ingin kembali ke masa di mana cinta terasa sederhana. Tapi ia juga ingat malam-malam menangis sendirian. Ingat pesan yang tak dibalas. Ingat perasaan selalu jadi pilihan kedua.
“Kenapa sekarang?” tanyanya pelan.
“Karena aku sadar nggak semua orang bisa aku temuin dua kali.”
Jawaban itu hampir membuatnya luluh.
Hampir.
Melani menghela napas panjang. “Ringgo, kamu itu bagian dari hidup aku yang indah. Tapi juga bagian yang paling bikin aku belajar.”
Ringgo terdiam, menunggu.
“Aku sayang sama kamu dulu. Sangat.” Suaranya bergetar sedikit. “Tapi aku nggak bisa kembali cuma karena kamu menyesal.”
Wajah Ringgo berubah, ada kecewa yang tak bisa disembunyikan.
“Jadi… nggak ada kesempatan?” tanyanya lirih.
Melani tersenyum, kali ini tulus. “Kesempatan itu dulu sudah aku kasih. Berkali-kali.”
Ia berdiri, meraih tasnya. Hatinya masih bergetar, tapi langkahnya mantap.
“Aku nggak mau jadi perempuan yang sama lagi, Go. Aku sekarang lebih sayang sama diri sendiri.”
Ringgo menatapnya, mungkin baru benar-benar melihat perempuan yang dulu ia anggap akan selalu menunggu.
“Kalau suatu hari nanti kita ketemu lagi,” lanjut Melani lembut, “aku harap itu bukan karena kamu takut kehilangan. Tapi karena kamu benar-benar siap.”
Ia berjalan menuju pintu. Hujan masih turun, tapi kali ini terasa berbeda. Dingin, tapi menyegarkan.
“Melani!” panggil Ringgo.
Ia menoleh.
“Terima kasih… sudah pernah jadi rumah buat aku.”
Melani tersenyum kecil. “Dan terima kasih sudah ngajarin aku cara berdiri sendiri.”
Ia melangkah keluar, membiarkan hujan membasahi rambutnya. Dulu ia mungkin akan berlari kembali, memeluk masa lalu yang memanggilnya.
Tapi sekarang tidak.
Godaan sang mantan memang manis—semanis kenangan yang belum selesai. Namun Melani akhirnya mengerti, tidak semua yang pernah indah harus diulang kembali.
Kadang, yang paling mencintai adalah yang berani pergi.
Dan sore itu, di bawah hujan yang deras, Melani memilih dirinya sendiri.
Selesai