Warna putih kebaya itu kini terasa seperti kain kafan yang membungkus harga diri Aldila. Di depan cermin, ia melihat dirinya sebagai badut paling malang tahun ini. Dua tahun ia terjebak dalam delusi yang dirajut Farhan lewat layar datar berukuran enam inci.
"Mas Farhan tentara, Bu. Dia lagi pendidikan, makanya kalau telepon sering malam dan sebentar saja," itu alasan yang selalu Aldila gunakan untuk membela kekasihnya di depan sang ibu.
Aldila ingat betul bagaimana Farhan—dengan foto profil gagah berseragam (yang kini ia sadari hanyalah hasil comotan internet)—selalu punya cara untuk mengeruk isi dompetnya. Awalnya hanya pulsa. Lalu merambat ke uang makan karena "gaji ditahan komandan". Kemudian melonjak menjadi jutaan rupiah dengan alasan ibunya masuk rumah sakit atau biaya mutasi agar bisa segera meminang Aldila.
Totalnya? Aldila takut menghitungnya. Mungkin sudah setara dengan harga satu motor baru. Belum lagi biaya katering, tenda, dan sewa dekorasi yang semuanya menggunakan uang tabungan Aldila karena Farhan berjanji akan menggantinya secara *cash* saat tiba di Jawa.
---
"Dila, ini ada surat dari kurir," suara kakaknya, suara yang biasanya tegas, kini terdengar penuh belas kasihan.
Aldila menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Bukan surat cinta, bukan pula konfirmasi kedatangan. Itu adalah surat tagihan dari salah satu aplikasi pinjaman online atas nama Farhan, namun nomor darurat yang dicantumkan adalah nomor Aldila.
Tepat di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya, sebuah kebenaran pahit meledak. Farhan bukan tentara. Farhan bukan anak orang kaya yang sedang berjuang melawan restu. Farhan hanyalah seorang pengangguran di seberang pulau yang terlilit utang judi online dan pinjol, yang menjadikan Aldila sebagai "mesin ATM" berjalan sekaligus penjamin atas kebangkrutannya.
*Video Call* yang mereka lakukan selama ini hanyalah akting. Latar belakang tembok hijau yang diklaim Farhan sebagai asrama, ternyata hanyalah kamar kontrakan sempit. Janji tanggung jawabnya hanyalah umpan agar Aldila terus mengirimkan uang.
"Dia nggak cuma kabur, Mas," bisik Aldila, air matanya jatuh menghancurkan riasan *foundation* di pipinya. "Dia ngerampok aku. Dia ngerampok harapan aku, uang aku, harga diri keluarga kita..."
---
Tamu di luar mulai gelisah. Ayah Aldila sudah tertunduk lesu di kursi pelaminan yang kosong. Harum melati di ruangan itu kini tercium seperti bau bangkai kebohongan.
Aldila mengambil ponselnya. Ia mencoba menghubungi Farhan untuk terakhir kalinya. Di luar dugaan, panggilan itu tersambung.
"Halo, Farhan? Kamu di mana?" suara Aldila tercekat.
"Dila..." suara di seberang sana terdengar santai, tidak ada nada bersalah, justru terdengar suara deburan ombak dan tawa wanita di latar belakang. "Maaf ya, aku nggak bisa datang. Orang tuaku beneran nggak setuju. Lagian, kamu terlalu baper jadi cewek. Makasih ya buat uang-uangnya selama ini, anggap aja itu biaya sewa karena aku udah nemenin kesepian kamu dua tahun ini."
*Klik.* Sambungan diputus. Farhan memblokir nomornya detik itu juga.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Aldila. Keistiqomahan yang selama ini ia banggakan—kesetiaannya menunggu, pengorbanan finansialnya, kepercayaan butanya—ternyata hanya menjadi bahan tertawaan di seberang sana. Ia dikhianati oleh sosok yang bahkan tidak pernah ia sentuh kulitnya, namun telah menguras habis hidupnya.
---
Aldila berdiri. Ia tidak pingsan. Kemarahan yang teramat sangat memberikan kekuatan yang aneh pada kakinya. Ia meraih gunting kecil di meja rias, lalu dengan satu gerakan cepat, ia memotong ronce melati yang menjuntai di rambutnya.
Ia melangkah keluar dari kamar. Ibunya mencoba menahan, tapi Aldila terus berjalan menuju pelaminan di mana ayahnya duduk hancur. Ia naik ke atas panggung dekorasi yang megah itu, mengambil mikrofon dari atas meja penghulu yang kosong.
"Bapak, Ibu, dan para tetangga sekalian," suara Aldila menggema melalui pengeras suara. "Laki-laki yang seharusnya duduk di sini tidak akan pernah datang. Dia bukan tentara, dia hanya penipu yang menggunakan topeng agama dan cinta untuk memeras saya."
Hening. Semua tamu berhenti mengunyah.
"Saya berdiri di sini bukan sebagai pengantin, tapi sebagai perempuan yang baru saja sadar dari mimpi buruk. Silakan nikmati hidangan yang ada. Saya membayarnya dengan keringat saya sendiri, bukan dengan uang laki-laki pengecut itu. Hari ini tidak ada pernikahan, tapi hari ini adalah hari saya merayakan selamatnya saya dari iblis yang menyamar jadi manusia."
Aldila turun dari pelaminan dengan kepala tegak, meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Ia tahu, esok hari ia harus mulai mencicil utang-utang yang ditinggalkan Farhan atas namanya. Ia tahu, ia akan menjadi buah bibir satu kecamatan untuk waktu yang lama.
Namun, saat ia mencopot cincin pertunangan murah yang dulu ia beli sendiri tapi diakui Farhan sebagai "warisan keluarga", Aldila merasa satu beban berat terangkat. Keistiqomahan cintanya memang telah dikhianati, tapi mulai detik ini, ia berjanji akan istiqomah pada satu hal saja: menjaga dirinya sendiri agar tidak pernah lagi menjadi mangsa bagi kata-kata manis di balik layar kaca.
---