Cinta pertama itu bukan tentang siapa yang paling lama tinggal.
Tapi tentang siapa yang paling dalam ninggalin bekas.
Aku ketemu Raka saat kelas satu SMA.
Dia duduk di bangku dekat jendela, selalu pakai headset, dan jarang ikut ribut.
Bukan tipe populer. Bukan juga tipe bad boy.
Tapi anehnya… mataku selalu balik ke dia.
Awalnya cuma hal kecil.
Pinjam pulpen.
Nanya PR.
Lalu lama-lama, nunggu dia pulang biar bisa jalan bareng sampai gerbang.
Aku bodoh waktu itu.
Aku kira perasaan bisa disimpan lama tanpa perlu diucapin.
Raka baik. Terlalu baik.
Dia dengerin semua ceritaku:
tentang keluarga, tentang capek sekolah, tentang takut masa depan.
Dia nggak pernah sok pinter.
Cuma jawab, “Yaudah, pelan-pelan aja. Hidup nggak lomba.”
Dan di situlah aku jatuh cinta.
Bukan karena dia ganteng.
Tapi karena aku merasa aman jadi diri sendiri.
Masalahnya, aku pengecut.
Aku lihat dia dekat dengan cewek lain, namanya Dina.
Cantik, pinter, aktif organisasi.
Logikaku bilang: ya jelas dia pilih Dina, bukan lo.
Alih-alih jujur, aku malah menjauh.
Jawab chat singkat.
Berhenti nunggu di gerbang.
Berpura-pura sibuk.
Raka nanya sekali,
“Kamu kenapa berubah?”
Aku jawab, “Nggak apa-apa.”
Padahal itu bohong paling mahal dalam hidupku.
Beberapa bulan kemudian, kabar itu datang.
Raka jadian sama Dina.
Aku senyum di depan mereka.
Aku bilang, “Selamat ya.”
Tapi malamnya aku nangis sampai ketiduran.
Yang bikin sakit bukan karena dia punya pacar.
Tapi karena aku tahu:
aku nggak kalah.
aku nggak ditolak.
aku nggak pernah mencoba.
Waktu jalan.
Lulus sekolah.
Kami sibuk dengan hidup masing-masing.
Suatu malam, dia chat lagi.
“Masih ingat aku?”
Pertanyaan bodoh.
Tentu saja aku ingat.
Kami ketemu. Ngopi. Canggung.
Dia cerita hubungannya gagal.
Aku cerita aku juga belum punya siapa-siapa.
Terus dia bilang,
“Dulu… aku nunggu kamu ngomong.”
Dunia langsung terasa berat.
“Nunggu apa?” tanyaku.
“Nunggu kamu bilang kamu suka aku.”
Aku ketawa kaku.
“Kenapa nggak kamu dulu?”
Dia geleng.
“Karena kamu selalu keliatan mau pergi.”
Diam.
Dan di situlah aku sadar:
kami sama-sama takut,
sama-sama nebak,
sama-sama kalah sama asumsi sendiri.
Kami nggak jadian malam itu.
Dan itu bukan karena masih cinta.
Tapi karena kami tahu:
cinta pertama itu bukan untuk diulang,
tapi untuk dimengerti.
Sekarang aku paham:
cinta pertama ngajarin aku satu hal penting —
kalau kamu suka, bilang.
Kalau kamu takut, tetap maju.
Karena yang paling nyakitin itu bukan ditolak.
Tapi hidup dengan kalimat:
“Seandainya dulu aku berani.”
Dan Raka…
akan selalu jadi orang pertama
yang ngajarin aku arti kehilangan
tanpa pernah benar-benar memiliki.
—