Sepuluh tahun sejak malam reuni yang menyesakkan itu, dunia bukan lagi sekadar panggung untuk "siapa yang paling eksis", melainkan "siapa yang paling punya pengaruh". Bagi Sania Permata, kacamata tebalnya memang sudah berganti dengan lensa kontak berkualitas, tapi visi hidupnya tidak pernah berubah.
Sania kini dikenal sebagai co-founder sebuah start-up teknologi kesehatan yang masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30. Namanya wira-wiri di LinkedIn sebagai sosok inspiratif. Ia bukan lagi sekadar wanita yang "ikut suami sukses", Sania adalah definisi independent woman yang membangun kekaisarannya sendiri dari nol.
Pagi itu, Sania baru saja menyelesaikan sesi wawancara dengan sebuah media nasional di kantornya yang bergaya industrial-elegan di SCBD. Saat ia melangkah keluar menuju lobi, langkahnya terhenti.
Di pojok lobi, seorang petugas kebersihan sedang berjongkok, mencoba membersihkan tumpahan kopi di lantai marmer dengan tangan yang sedikit gemetar. Seragamnya tampak kebesaran, wajahnya kusam, dan rambut yang dulu dicat cokelat terang itu kini tumbuh kasar, kering, dan tak terawat.
"Diandra?" panggil Sania lirih.
Wanita itu mendongak. Matanya yang sayu bertemu dengan mata Sania yang bersinar tenang. Diandra refleks menyembunyikan tangannya yang pecah-pecah ke balik kain pel. Ia ingin lari, tapi kakinya seolah terpaku pada lantai yang ia bersihkan sendiri.
"S-Sania..." suara Diandra serak, nyaris tak terdengar.
Sania tidak memanggil sekuriti. Ia justru mengajak Diandra ke kafe di lantai bawah—kafe mewah yang harga satu cangkir latte-nya setara dengan upah harian Diandra.
---
Diandra duduk dengan gelisah, merasa semua mata pengunjung kafe yang aesthetic itu memandangnya dengan jijik.
"Bella masuk penjara, San," ucap Diandra tiba-tiba tanpa ditanya. Air matanya menetes, merusak riasan murah yang ia paksakan pakai pagi tadi. "Kasus penipuan arisan bodong. Dia nekat karena terlilit hutang pinjol. Citra... Citra meninggal dua tahun lalu. Komplikasi ginjalnya makin parah, dan dia nggak punya biaya buat cuci darah rutin."
Sania terdiam. Ada rasa perih di dadanya. Ia tidak merasa menang. Ia hanya merasa sedih melihat bagaimana masa muda yang disia-siakan bisa berujung pada tragedi yang begitu nyata.
"Aku hancur, San," isak Diandra. "Dulu aku pikir kamu yang aneh karena nggak pernah mau 'hidup'. Ternyata aku yang mati sejak dulu. Aku sibuk cari validasi dari cowok-cowok yang bahkan nggak ingat namaku sekarang. Aku bodoh banget."
Sania memegang tangan Diandra yang kasar. "Di, nggak ada kata terlambat buat sadar. Tapi sadar aja nggak cukup. Kamu harus mau 'berdarah-darah' buat perbaiki semuanya."
---
Sania tidak memberikan Diandra uang cuma-cuma. Sebagai seorang profesional, ia tahu bahwa memberi ikan hanya akan membuat Diandra manja.
"Aku punya yayasan pelatihan kerja. Aku mau kamu masuk ke sana. Belajar administrasi lagi, belajar skill digital. Aku bakal kasih kamu beasiswa, tapi syaratnya satu: kamu harus kerja keras 18 jam sehari kalau perlu. Kamu harus kejar ketertinggalanmu selama sepuluh tahun ini dalam satu tahun."
Diandra menatap Sania tak percaya. "Kamu nggak benci aku? Aku dulu jahat banget sama kamu."
Sania tersenyum tipis, sebuah senyuman yang begitu berkelas. "Di, orang sukses itu nggak punya waktu buat simpan dendam. Fokusku adalah masa depan, bukan sampah masa lalu."
Satu tahun kemudian, keajaiban kecil terjadi. Diandra lulus dari pelatihan tersebut dengan predikat terbaik. Ia mulai mengerti apa yang dulu Sania lakukan di perpustakaan. Ia mulai paham bahwa membaca buku bukan tentang menjadi "cupu", tapi tentang membangun senjata untuk menghadapi dunia yang kejam.
---
Malam itu, Sania mengadakan acara launching fitur terbaru aplikasinya. Diandra hadir, bukan sebagai petugas kebersihan, melainkan sebagai salah satu staf administrasi junior di kantor cabang Sania. Ia mengenakan kemeja rapi, rambutnya hitam alami, dan wajahnya mulai memancarkan kesehatan karena gaya hidup yang diperbaiki.
Diandra berdiri di balkon gedung, menatap lampu-lampu Jakarta yang berkelap-kelip. Ia melihat Sania di atas panggung, memberikan pidato yang memukau ribuan orang. Sania yang dulu diledek "calon PNS", kini justru menjadi orang yang menciptakan lapangan kerja bagi ribuan orang.
Diandra mengeluarkan ponselnya, menghapus semua foto-foto masa lalunya yang penuh dengan asap rokok dan kegelapan klub malam. Ia lalu mengunggah satu foto: sebuah buku catatan dan laptop dengan caption:
"Ternyata keren itu bukan tentang seberapa keras musik di klub, tapi seberapa keras usahamu buat bangun masa depan. Makasih sudah bangunin aku dari tidur panjang, Sania."
Di sudut ruangan, Sania melihat unggahan itu dan me-repost-nya dengan tambahan satu kalimat singkat yang membuat seluruh Gen Z yang mengikuti akunnya tersadar:
"Self-love terbaik adalah dengan tidak membiarkan masa depanmu hancur di tangan masa mudamu sendiri."
Sania kembali melangkah, menggandeng tangan suaminya, Adrian, yang tetap setia menatapnya dengan rasa bangga yang luar biasa. Sania telah membuktikan: berlari pelan namun konsisten menuju puncak jauh lebih baik daripada berlari kencang menuju jurang.