Namaku Amalia.
Sejak SMA, satu nama yang selalu kutulis di sudut buku tulis adalah Kim Seok Jin.
Bukan nama gebetan.
Bukan nama mantan.
Nama idola.
Aku hafal suaranya lebih dari suara guru matematika.
Aku hafal senyumnya lebih dari wajah tetangga.
Di kamarku, posternya lebih besar dari cermin. Kadang aku bercanda sendiri,
“Kalau dia nyata di depanku, aku pasti pingsan.”
Ternyata, dunia suka ngetawain ucapan orang.
Hari itu aku ikut lomba menulis di luar negeri. Hadiahnya bukan cuma piala, tapi tiket ke acara fan meeting internasional. Aku ikut tanpa mikir ketemu siapa. Yang penting nulis.
Sampai email pengumuman datang.
“Selamat, Anda terpilih sebagai peserta undangan fan meeting Kim Seok Jin.”
Aku baca tiga kali.
Aku cubit tangan sendiri.
Sakit.
Berarti nyata.
Di pesawat, aku latihan kalimat: “Annyeonghaseyo.”
“Oppa, I love you.”
“Thank you for existing.”
Semua terdengar bodoh di kepalaku.
Hari fan meeting itu, ruangan penuh teriakan.
Lampu terang.
Musik pelan.
Dan dia muncul.
Kim Seok Jin berdiri di panggung.
Lebih tinggi dari yang kubayangkan.
Lebih manusia dari yang kulihat di layar.
Tanganku gemetar. Kakiku lemas.
Aku nggak teriak. Aku diam.
Karena kalau teriak, aku takut nangis.
Satu per satu fans maju untuk foto dan tanda tangan.
Namaku dipanggil.
“Amalia.”
Aku melangkah ke depan.
Jantungku rasanya mau lompat keluar.
Dia menatapku dan tersenyum.
“Hello.”
Suaranya nyata.
Bukan speaker.
Bukan video.
Aku refleks bilang,
“I… I come from Indonesia.”
“Oh, Indonesia,” katanya, sambil mengangguk.
“Thank you for coming.”
Tanganku hampir jatuh waktu dia menjabatnya.
Hangat.
Nyata.
Aku kasih buku kecilku buat ditandatangani.
Dia nulis namaku: Amalia.
“Apa kamu suka menulis?” tanyanya.
Aku kaget.
“Iya… saya ikut lomba menulis.”
“Teruslah menulis,” katanya.
“Kata-kata bisa nyelametin orang.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi rasanya kayak ditaruh di dadaku.
Setelah foto, aku turun dari panggung.
Tanganku masih gemetar.
Mataku panas.
Bukan karena aku “bertemu pacar khayalan”.
Tapi karena aku sadar sesuatu:
Dia bukan milikku.
Aku bukan dunianya.
Kami cuma dua manusia yang sebentar bertemu.
Dan itu cukup.
Malamnya, di hotel, aku buka buku harian.
Aku tulis:
Hari ini aku bertemu idolaku.
Dia tersenyum, aku hidup.
Tapi aku juga sadar, hidupku nggak boleh berhenti di dia.
Aku tetap fangirl.
Tetap simpan fotonya.
Tetap putar lagunya.
Tapi sejak hari itu, Kim Seok Jin bukan lagi “pacarku di khayalan”.
Dia jadi alasan kenapa aku mau jadi versi diriku yang lebih baik.
Karena aku pernah berdiri di depannya.
Dan aku tahu:
aku juga harus berdiri di hidupku sendiri.