Temanku, Sinta, tiba-tiba berubah sejak punya pacar.
Setiap hari statusnya penuh foto tangan bergandengan, caption-nya selalu: “Bahagia bareng kamu.”
Di sekolah, dia sengaja duduk dekatku cuma buat cerita,
“Eh, kemarin dia jemput aku, loh. Terus bilang aku satu-satunya.”
Aku cuma angguk. Bukan iri. Capek.
Kalau mereka lewat di depan kelas, Sinta selalu tarik tangan pacarnya lebih erat, ketawa lebih keras, seolah-olah dunia harus tahu: kami bahagia.
Padahal aku sering lihat mereka berantem lewat chat—Sinta curhat ke aku, pacarnya cemburu berlebihan, marah kalau dia telat balas.
Suatu hari aku bilang,
“Kenapa sih kamu pamer terus?”
Dia jawab,
“Biar orang tahu aku punya siapa-siapa.”
Di situ aku ngerti.
Yang dia pamer bukan bahagia, tapi bukti.
Bukti kalau dia nggak sendirian.
Besoknya, mereka lewat lagi sambil pegangan tangan.
Aku lihat senyum Sinta, tapi matanya capek.
Aku cuma mikir satu hal:
kalau hubungan perlu dipamer terus supaya kelihatan hidup,
mungkin di dalamnya sedang sepi