Namaku Rani. Hobiku satu: mengarang pasangan di kepala sendiri.
Di angkot, aku bayangin sopirnya jadi cowok sabar yang bakal bilang, “Tenang, aku anter kamu pulang.”
Di kelas, aku ngelirik cowok pendiam di pojok dan mikir, “Pasti dia tipe setia yang cuma jatuh cinta sekali.”
Masalahnya, semua itu cuma di kepalaku.
Setiap malam aku nulis nama pasangan khayalanku di buku catatan. Bukan nama asli siapa pun—aku takut kalau pakai nama nyata, khayalanku runtuh. Di dunia pikiranku, dia selalu ngerti aku, nggak pernah ninggalin, dan nggak pernah bikin aku nunggu balasan chat.
Sampai suatu hari, Dimas—teman sekelasku—duduk di sebelahku dan bilang,
“Ran, kamu tuh sering senyum sendiri. Lagi mikirin siapa sih?”
Aku refleks jawab, “Nggak, cuma mikir masa depan.”
Padahal yang kupikirkan bukan masa depan, tapi pasangan imajiner yang selalu sempurna.
Dimas nyata, tapi nggak sempurna. Kadang telat, kadang salah ngomong, kadang cuma bisa ketawa kalau aku curhat.
Anehya… justru dia yang dengerin.
Malam itu, aku buka buku catatanku lagi.
Aku hapus satu nama khayalan.
Terus aku nulis satu kalimat:
“Mungkin pasangan itu bukan yang sempurna di kepala, tapi yang mau duduk dan dengerin di dunia nyata.”
Sejak itu aku masih penghayal.
Tapi sekarang, khayalanku mulai belajar