Kisah ini memiliki judul panjang : MAHKOTA SURGA DI KERONGKONGAN NAZAR: NYANYIAN SUNYI DARI BALIK NISAN. Terinspirasi dari kisah nyata. Selamat menyimak!
Gerimis jatuh tipis-tipis di atas tanah merah yang masih basah, meresap ke dalam sela-sela kelopak bunga kamboja yang mulai layu. Di atas gundukan itu, tertancap nisan kayu yang masih menyisakan aroma cat hitam: Nazar Syaifullah bin Arfan (14 Tahun). Nama itu, yang dulunya diteriakkan dengan penuh harap oleh para guru mengaji di Pondok Pesantren Al-Ikhlas, kini hanya menjadi pahatan bisu yang memicu badai penyesalan.
Aku melihat mereka dari dimensi yang berbeda. Aku melihat Ayah, laki-laki yang biasanya tampak gagah dengan seragam kerjanya, kini terduduk lesu dengan mata sembab yang mengerikan. Di sampingnya, Ibu kandungku—wanita yang sempat menyerahkan hak asuhku setahun lalu—merungku, mencakar tanah makamku hingga kuku-kukunya berdarah. Suaranya serak, hilang ditelan teriakan yang menuntut keadilan.
"Nazar... Anakku... Kiai kecilku..." rintih Ibu kandungku, Melati. Suaranya memecah kesunyian pemakaman, membuat siapapun yang mendengar akan merasa dadanya diremas hebat.
Dua hari yang lalu, dunia bagiku bukan lagi tempat yang indah. Di sebuah sudut gelap di belakang rumah Ayah, aku meringkuk seperti binatang yang dibuang. Ibu tiri yang Ayah panggil "Bunda"—wanita berwajah manis bernama Sandra—telah melepaskan topengnya begitu gerbang rumah terkunci dan mobil Ayah menderu menjauh.
"Kau pikir kau siapa, Nazar? Sok suci dengan hafalanmu itu!" bentakan Sandra masih terngiang, lebih tajam dari sembilu.
Dua hari aku dikurung di gudang pengap tanpa cahaya. Tanpa air. Tanpa sebutir nasi pun. Setiap kali aku mencoba melantunkan ayat suci untuk mengusir rasa takutku, sebuah tendangan mendarat di tulang rusukku. Lebam biru dan ungu menghiasi sekujur tubuhku, dari pundak hingga pergelangan kaki. Tubuh santriku yang kurus tak punya daya untuk melawan. Aku hanya bisa pasrah, membayangkan wajah Ayah yang sedang bekerja keras, tak menyangka bahwa di balik dinding rumahnya sendiri, putranya sedang dihancurkan.
Puncaknya terjadi di sore yang sunyi itu. Dahagaku luar biasa, kerongkonganku seolah pecah karena kering. Aku memohon dengan sisa tenaga, menyentuh kaki Sandra. "Bunda... haus... sedikit air saja..."
Sandra tersenyum. Bukan senyum kasih sayang, melainkan senyum iblis yang haus darah. Ia pergi ke dapur, kembali dengan sebuah teko listrik yang masih berbunyi—tanda air di dalamnya baru saja mendidih sempurna. Uap panas mengepul dari moncong teko itu.
"Kau mau minum? Ini, habiskan!"
Tanpa ampun, ia menjambak rambutku, memaksa kepalaku mendongak, dan menuangkan air mendidih itu langsung ke dalam mulutku.
Detik itu, duniaku runtuh. Suara teriakan yang ingin kukeluarkan tertahan oleh rasa panas yang menghanguskan kerongkonganku. Air itu mengalir seperti lava, membakar esofagus, merusak paru-paru, dan membuat jantungku seolah meledak di dalam dada. Aku tersedak, tubuhku kejang-kejang di lantai gudang yang dingin. Oksigen seolah menghilang. Dalam napas yang tersenggal-senggal, aku hanya bisa membisikkan doa terakhir di dalam hati: Ya Allah, biarkan aku menghafal satu ayat lagi sebelum aku pulang...
Aku meninggal dalam kesunyian yang paling menyakitkan.
Kini, rahasia itu terbongkar. Hasil otopsi yang dibacakan polisi di depan Ayah membuat dunia seolah berhenti berputar. Dokter menyatakan jantung dan paru-paruku mengalami kerusakan permanen akibat luka bakar internal yang hebat. Luka lebam di sekujur tubuhku menceritakan kisah penyiksaan yang bahkan tak sanggup dibayangkan oleh akal sehat.
"Aku membunuhnya... aku membiarkannya mati di tangan wanita itu," raung Ayah di kantor polisi. Ia teringat setahun lalu, saat aku mengadu bahwa Sandra memukulku, namun Ayah memilih untuk berdamai. Ayah terlalu mencintai wanita itu hingga menutup mata pada tangisanku. "Nazar... maafkan Ayah..."
Ibu kandungku berdiri di depan sel tempat Sandra ditahan. Wajahnya yang dulu lembut kini penuh amarah yang purba. Ia tidak lagi peduli pada etika. Ia meraung, memaki, dan menuntut agar Sandra dijatuhi hukuman mati. "Kau meminumkan air panas pada calon kiai! Kau menghancurkan masa depannya! Kau bukan manusia!"
Aku melihat Sandra hanya tertunduk, tangannya yang dulu menyiramkan air panas kini terborgol besi dingin. Tak ada lagi kecantikan di wajahnya, hanya ada ketakutan akan jeruji penjara yang menantinya seumur hidup.
Di sini, di alam yang tenang ini, aku mengenakan jubah putih yang selalu kuimpikan. Tidak ada lagi rasa sakit di dadaku. Tidak ada lagi haus yang mencekik. Aku melihat cita-citaku menjadi kiai tetap hidup di hati teman-temanku di pesantren yang kini sedang membacakan Yasin untukku.
Ayah, Ibu... jangan terus meratapi nisan ini. Aku sudah menang. Aku pergi dengan membawa hafalan Al-Qur'anku sebagai mahkota. Biarlah hukum dunia mengadili wanita itu, sementara aku di sini, menunggu kalian di depan pintu surga, tempat di mana tidak akan ada lagi air mata, dan tidak akan ada lagi ibu tiri yang jahat.
Aku Nazar Syaifullah. Aku telah pulang, dengan kerongkonan yang kini sejuk oleh telaga Kautsar.