Namaku Laura , Saat berusia 17 tahun Aku di jodohkan dengan anak rekan kerja ayahku yang bernama Raz. Aku pernah menolak pertunangan seperti ini sekali dan membuat ayah begitu murka pada ku, itu pertama kalinya Aku melihat ayah yang marah seperti itu sampai membentak ku di depan keluarga, ayah bahkan memukuliku dan mengurung ku di gudang, membuat ku takut dan trauma. Saat pertunangan yang kedua kalinya Aku hanya pasrah menerima takdir yang sudah ayahku tetapkan saat ini, hari-hari ku lalui tanpa semangat Bahkan saat bersama teman-temanku.
Keesokan harinya kami bertemu, Aku melihat pria di hadapanku begitu lama, entah kenapa saat itu kami bingung harus memulai pembicaraan dari mana dan bersikap seperti apa karena ini pertama kalinya bagi kami.
" Perkenalkan namaku Raz " katanya sambil menjulurkan tangannya padaku.
" Laura " Kataku sambil menjabat tangannya.
Tanpa sengaja Aku lihat wajahnya yang memerah, bahkan genggam tanganku saat itu tidak di lepaskan olehnya. Keluarga yang melihat kami hanya tersenyum dengan puas termasuk ayahku, Ayah sangat senang mengetahui anak rekan bisnisnya sangat menyukaiku. Pesta pertunangan berjalan dengan lancar hingga selesai, pada Saat Raz ingin pulang dia mengecup pundak tanganku dan berkata;
" Sampai bertemu besok " ucapnya sambil tersenyum.
Seketika wajahku terasa panas, Aku hanya membalasnya dengan senyuman sambil melihatnya masuk kedalam mobil dan pergi. Akuu berjalan masuk kedalam rumah, Saat di kamar Aku hanya mengingat semua hal menyenangkan yang ku lakukan hari ini. Aku berharap semoga malam cepat berlalu ( kataku dalam hati), karena merasa lelah Aku mulai tertidur pulas.
Keesokkan paginya Aku sedang berdandan dan bersiap, Aku meminta pada perias wajah untuk memakaikan make-up yang tipis agar tidak terlalu pucat dan terlihat lebih segar saat bertemu dengannya. Setelah selesai Aku melihat diriku di depan cermin, Tak lama pelayanan mengetuk pintu kamarku dan mengatakan bahwa tuan Raz sudah tiba dan menungguku di bawah. Ku buka pintu kamarku dan mengikuti kepala pelayan dari belakang, pelayanan yang lain melihatku hanya diam terpaku tanpa kata.
" Ada apa? Apa ada yang aneh dengan bajuku?" Tanyaku padanya.
" Ti-tidak, nona sangat cantik " jawabnya.
" Ayo nona ikut saya" katanya.
Raz yang melihatku turun dari tangga mulai berdiri dan menungguku. Tanpa sadar dia menjulurkan tangannya dan aku menerimanya, Raz berjalan ke arah ayahku dan meminta izin padanya untuk mengajakku berjalan-jalan dan dengan cepat perbolehkan oleh ayah. Raz menuntunku kearah mobil dan membukakan pintu mobilnya, Aku pun masuk dan duduk dengan manis.
Raz Mengajakku ke beberapa tempat yang belum pernah Dia kunjungi sebelumnya, Dia mengajakku Ke tengah kota dan sesekali menemaniku berbelanja. Setelah selesai Raz mengajakku mencoba makanan yang sedang trend saat itu, Hari-hari kami lewati dengan menyenangkan dan beberapa kali dia mengucapkan kata cinta padaku. Aku pun membalas pernyataan cintanya, Kami menghabiskan waktu bersama selama seminggu Hingga menjelang malam pergantian tahun.
Keesokan harinya Raz kembali Mengajakku ke suatu tempat, Dia meminta agar mataku di tutup dan Aku memenuhi keinginannya itu. Sepanjang perjalanan Raz terus menggenggam tanganku, Aku mulai bersandar di bahunya dengan rasa bahagia karena ini pertama kalinya ada seseorang yang memperlakukan ku seperti ini. Tak terasa kami sampai di tempat tujuan, Raz membantuku keluar dari dalam mobil dan terus menuntun ku tanpa melepas tanganku. Sesampainya di tempat tujuan Dia mulai membuka tutup mataku, Aku mulai membuka mata walaupun agak samar akan tetapi perlahan-lahan semua mulai terlihat jelas.
" Aku menyiapkan ini semua untukmu, semoga kamu menyukainya" katanya sambil menggenggam tanganku.
Terlihat sebuah taman yang begitu luas dan di hias dengan beberapa dekorasi bunga, lalu di tengah sudah tersedia makan malam kami yang di hiasi dengan lilin yang membuat kesan terlihat sangat mewah. Raz sengaja tidak memasang penerangan dengan memanfaatkan cahaya bulan purnama agar terlihat lebih indah, Aku tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa memeluknya dengan bahagia sambil beberapa kali mengucapkan Aku mencintainya. Raz membalas cintaku dan di waktu yang sama ciuman pertama kami di iringi dengan kembang api yang mulai menghiasi langit menandakan pergantian tahun. Aku hanya berharap saat itu kami bisa seperti ini selamanya, Saling mencintai satu sama lain hingga hari tua namun ternyata semua tidak berjalan seperti yang Aku harapkan.
Beberapa hari setelah pergantian tahun Raz mengatakan akan melanjutkan studinya di luar negeri, Aku mengungkapkan kesedihan ku padanya karena akan di tinggal selama 2-3 tahun. Raz Masih berusaha menjelaskan semuanya demi masa depan perusahaan orang tuanya dan masa depan kami berdua nantinya, Aku yang tidak bisa apa-apa hanya mengikuti keputusan yang ada. Aku terus menemaninya dan mengurus segala keperluannya, Sesekali Raz berusah menghiburku agar Aku tidak terlihat sedih lagi.
" Aku akan menghubungimu setiap hari dan Menceritakan keseharian ku di sana, Jadi jangan sedih lagi" katanya sambil memegang kepalaku
Aku hanya bisa menghela nafas sambil memikirkan betapa tidak berdayanya diriku, Kami selalu saja menuruti kemauan orang tua kami tanpa memikirkan keinginan kami sendiri. Walaupun terkadang mengikuti keinginan orang tua ada sisi baiknya juga, contohnya pertunangan ini yang membuatku bisa bertemu dengan Raz ( itu yang ku fikirkan dulu ). Hari-hari berlalu hingga saat hari dimana Dia akan berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studinya, Tentu saja Aku ikut mengantarnya ke bandara.
" Aku berangkat yah, jaga dirimu baik-baik" katanya sambil memeluk ku.
" Kamu juga jaga diri disana, Makan yang teratur dan istirahat yang cukup" Kataku.
Aku hanya bisa melihatnya pergi dan menghilang hingga Aku tidak lagi melihatnya, Kaki ku terasa berat meninggalkan bandara. Saat itu Aku berharap dia berbalik padaku hanya untuk melihat ku walau hanya sesaat, Namun Dia tidak kembali bahkan untuk melihatku sekali lagi. Ayah mengajakku untuk pulang ke rumah, Sepanjang jalan aku hanya melihat keluar jendela mobil. Sesekali Aku melihat ke arah langit, Sesampainya di rumah Aku langsung berjalan ke arahnya kamar dan mengunci pintu kamarku. Aku hanya berbaring sambil sesekali melihat ponselku dan Tanpa sadar Aku tertidur.
Keesokan harinya Aku mengambil ponselku dan melihat ada beberapa pesan dari Raz, Aku merasa lega karena dia sampai disana dengan selamat. Kami saling menceritakan keseharian kami selama setahun hingga akhirnya Raz mulai jarang memberikan kabar padaku ;
" Tidak ada kabar darinya, mungkin dia mulai sibuk dengan studinya" gumam ku sambil ini melihat ponsel yang aku genggam.
Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun Aku lewati tanpa kabar darinya, Karena merasa kesal Aku mulai menyibukan diriku dengan kegiatan di kampus hingga suatu hari Aku mendapatkan kabar dari ibunya bahwa Raz sudah menyelesaikan studinya dan akan kembali ke rumah. Aku yang mendengar kabar itu merasa sangat bahagia namun juga sedih karena Aku mendengar kabar ini dari orang lain, bukan darinya langsung. Aku terus menunggunya dengan perasaan yang campur aduk, Aku bingung harus bersikap seperti apa nanti. Aku meminta pada perias wajahku untuk mendandaniku dengan sangat cantik karena akan menjemput Raz di bandara, Aku harap Raz akan senang melihatku. Saat tiba di bandara sambil menunggu Raz keluar Aku mengambil bunga yang sudah ku siapkan untuknya.
Tak lama Raz keluar dan berjalan ke arah kami, Aku hanya melihatnya dari belakang sambil menunggunya melepaskan rindu dengan kedua orang tuanya. Tak sengaja tatapan kami bertemu dan dia lalu menghampiriku, ku berikan bunga yang sedari tadi Aku genggam dan menyambut kedatangannya. Dia Langsung memeluk ku tanpa mengatakan apapun dan Aku membalas pelukannya, Entah kenapa Aku merasa sedikit aneh akan sikapnya namun Aku aku tidak ingin merusak suasana saat ini. Dalam perjalanan pulang Aku hanya melihatnya dari belakang, bahkan dia tidak melihat ku sama sekali dan itu membuatku sedikit bingung dan sedih.
Sesampainya di rumah Raz Aku mencoba untuk bicara berdua dengannya;
" Kamu apa kabar?" Tanyaku lebih dulu
" Baik" jawabannya singkat
" Ada apa? Apa ada kesalahan yang Aku lakukan?" Tanyaku
" Tidak ada, Aku hanya merasa lelah saja." Jawabnya
Dia pergi meninggalkanku begitu saja tanpa berbalik, Aku merasa ada sesuatu yang salah di antara kami berdua. Saat ingin pamit pulang ibu Raz meminta padaku untuk menginap, Aku yang awalnya menolak tidak bisa apa-apa karena ibunya terus memaksa ku untuk tinggal. Ayahku yang melihat itu akhirnya mengizinkan ku menginap sehari, ibu Raz langsung membawaku ke kamar yang sudah dia siapkan dari awal. Saat tengah berbaring Aku berfikir untuk mengunjungi kamar Raz, Aku berjalan sangat pelan dan hati-hati agar tidak ketahuan oleh yang lainnya. Begitu berada depan pintu Aku bermaksud untuk mengetuknya lebih dulu, Namun sebelum ku mengetuk pintunya Aku mendengarkan pembicaraannya dengan seseorang melalui telepon.
" Aku juga rindu padamu sayang," katanya.
Aku begitu terkejut mendengar percakapannya Dengan seorang wanita dari balik pintu, tubuhku terbujur kaku di depan pintu kamarnya.
" Sayang, Kapan kita ketemu?" Kata wanita itu.
" Secepatnya sayang, Aku akan menjemputmu di bandara nanti begitu kamu sudah tiba." Kata Raz
" Janji yah sayang," kata wanita itu.
" Iya Aku janji, sudah Dulu yah tunangan ku menginap di rumah." Katanya
" Cewek itu ngapain sih? Bikin kesal saja." Kata wanita itu
" Sayang jangan kesal begitu, Aku cuma cinta kamu seorang." Kata Raz
" I love you sayang," kata wanita itu
" I love you more Nay," jawab Raz lalu menutup telponnya.
Begitu mendengar Raz menutup telponnya Aku segera pergi meninggalkan nya, Aku berjalan tertatih-tatih dan masuk kedalam kamar. Ku kunci pintu kamarku dan terduduk di depan pintu, Air mata membasahi pipiku, Nafasku terasa begitu sesak akan rasa rindu yang begitu lama ku simpan dan ku pendam di hancurkan oleh kenyataan bahwa dia tidak mencintaiku lagi. Aku terus menangis dalam diam Sembari memukuli dadaku, Semua kenangan indah yang dia ciptakan untuk ku, kata cinta yang selalu dia ucapkan untuk ku di hancurkan dalam semalam olehnya, Aku menelpon supir di rumah ku untuk membawa ku pulang karena merasa sangat tidak nyaman berada di rumah ini.
Aku diam-diam keluar dari rumah begitu mereka semua sudah tertidur, Ku buka pintu mobil ku dan mulai menangis terisak dalam mobil. Sepanjang perjalanan pulang Aku hanya melamun dan melihat ke arah luar jendela kaca mobil, Sesampainya di rumah ayah yang melihatku pulang mulai bertanya kepadaku;
" Apa yang terjadi? Kenapa kamu pulang Dengan keadaan berantakan seperti ini?" Tanya ayahku
" Tadi ada apa-apa, Aku hanya bertengkar kecil dengan Raz " kataku berbohong
" Pasti pertengkaran itu terjadi karena salahmu, ayah tidak mau tau besok kamu harus minta maaf pada Raz." Kata ayah sangat marah
" Kenapa harus Aku yang minta maaf ayah?" Tanyaku
" Kamu mulai membatah pada perkataan ayah yah," kata ayah yang hampir menamparku namun di hentikan oleh ibu.
" Apa yang kamu lakukan, bisa kah kamu sedikit lembut pada putrimu sendiri?" Kata ibu teriak pada ayah.
" Ini semua salahmu, Kamu terlalu memanjakannya sampai dia berani membesarkan suaranya padaku." Kata ayahku pada ibu.
" Ayah tidak ingin alasan apapun, Anggap pertengkaran kalian tidak pernah terjadi. Apa kamu ingin keluarga kita menderita hanya karena kamu" kata ayah padaku.
Ayah berjalan meninggalkan ku berdua dengan ibu, ibu yang melihatku langsung menghampiriku dan memeluk ku sambil menepuk pundak ku, Aku pun perlahan mulai menangis terisak di pelukan ibu.
Keesokan harinya ibu Raz menelepon ke rumah karena mendapati Aku sudah tidak berada di kamar ku, Ayah yang mengangkat telepon mencoba memberikan alasan yang masuk akal hingga ibu Raz percaya pada perkataan ayah ku. Ayahku menutup telponnya dan menghela nafas, Ayah melihat ke arahku tanpa ekspresi dan pergi ke ruang kerjanya tanpa mengatakan apapun.
" Aku yakin semua akan baik-baik saja " kata ibu .
" Aku harap juga begitu " jawab ku
Aku pergi meninggalkan ibuku dan masuk kedalam kamar. Aku hanya berbaring dan menatap langit-langit kamarku, Aku terus berfikir dan mengingat semua percakapan Raz kemarin. ( Jadi namanya Nay, Sejak kapan dia bersama wanita itu? kesalahan apa yang Aku lakukan sampai dia meninggalkan ku. Semudah itukah dia membuang semua? Fikirku bertanya-tanya).
Saat makan malam kami hanya terdiam sambil menikmati makanan kami bertiga, Setelah makan ayah mulai berbicara pada ibu dan mengatakan kakak pertamaku akan pulang Minggu depan. Ayah berencana menyiapkan pesta penyambutan untuknya, Sambil melihat ke arahku ayah mengatakan agar aku lebih menjaga sopan santun agar tidak merusak pestanya. Aku menggenggam erat garpu yang ada di tanganku sambil menerima semua hinaan yang ayah lontarkan padaku, Aku tidak mengerti apa yang membuat ayah sebenci itu padaku padahal Aku anak kandungnya juga sama seperti kedua kakak ku, Tapi kenapa Aku di perlakukan tidak adil seperti ini. Aku berdiri dan meninggalkan meja makan tanpa sepatah katapun, ibu yang melihat ayah Aku bersikap seperti itu padaku mulai ikut kesal.
" Apa kamu sudah puas membuat Laura sedih dengan perkataan mu yang jahat itu" kata ibuku.
" Semua yang Aku katakan adalah kebenaran, itu juga salahmu karena tidak bisa mendidiknya dengan baik" kata ayahku.
" Kenapa semua kesalahan kamu limpahakan padaku, apa kamu sudah mendidik dia dengan benar." Kata ibu.
" Kenapa kau malah marah padaku? Semua ini salahmu, Seandainya dulu dia tidak menolak putra bosku mungkin Kita sudah hidup enak dan tidak di injak-injak seperti ini" kata ayah mulai tersulut emosinya. Ibu hanya terdiam menahan air matanya agar tidak terjatuh, Ayah yang melihat itu mulai menghela nafas dan pergi meninggalkan ibuku. Kepala pelayan yang melihat ibu berusaha menenangkan ibu, Aku yang sedari tadi di kamar mendengarkan perkelahian kedua orang tua ku berusaha untuk tetap mempertahankan kewarasan ku.
Aku mengambil ponselku dan membuka pesan ( dia saja tidak mengabari ku) kataku dalam hati, ku letakan kembali ponsel ku dan ku tekukan keduanya kaki ku lalu memeluknya. Bisakah Aku kembali ke masa lalu seperti dalam novel-novel yang ku baca dan mengubah semuanya, Andai itu terjadi Aku akan menolak pentungan ini dan menjadi pribadi yang lebih tegas,kejam dan tidak punya hati seperti pemeran antagonis dalam novel, Fikirkan ku melayang dan tak lama Aku mulai kelelahan lalu tertidur di depan pintu kamarku.
Di dalam mimpi awal semua penderitaan yang Aku alami di mulai dari Aku menikah dengan Raz , Dia lebih memilih untuk tinggal bersama selingkuhannya. Sesekali di pulang ke rumah hanya untuk tidur denganku di saat selingkuhannya sedang datang bulan, Dia terus menyiksa dan memukuli ku tiap kali pulang ke rumah.
Semua penderitaan yang tiada akhir terus berlanjut bahkan Aku tidak bisa melawan karena Aku hanya seorang diri, semua tekanan yang di berikan oleh Raz perlahan membuat akal sehatku hilang.Saat Raz pulang ke rumah tanpa sadar Aku menusuknya dengan pisau hingga Dia sekarat, Beberapa orang yang melihatku mencoba Melerai dan Raz yang sudah terbujur kaku langsung di larikan kerumah sakit.
Beberapa hari setelah kejadian itu Aku menjadi buronan karena melarikan diri dari kejaran polisi, Aku yang sedang bersembunyi mendapatkan kabar bahwa Raz masih hidup akan tetapi dia harus kehilangan satu kaki dan ke enam jarinya . Aku membayar mahal untuk menyewa informan dan orang-orang yang akan membantu ku untuk melancarkan rencana ku, Tidak ada yang bisa Aku percaya lagi di dunia ini termasuk Keluarga ku yang bahkan membuang ku karena tidak ingin terlibat olehku. Mereka bahkan mengatakan Aku bukan salah satu dari keluarga dan Mereka berharap Aku segera tertangkap dan di hukum, Mataku mulai gelap dan menyalakan Nay atas semua penderitaan yang Aku jalani karena ulahnya, Dia merebut semua kebahagiaan ku bahkan suamiku sendiri dan menghancurkan keluargaku.
Keesokan harinya Aku mendapatkan kabar bahwa Nay memesan layanan kamar, Mungkin hari inilah saatnya Aku bertemu dengannya. Aku merencanakan semuanya dengan teliti, Aku mengambil semua barang yang akan ku bawa dan mengganti bajuku. Dari membayar mahal untuk orang-orang yang Aku perintahkan untuk diam-diam mengawasi Nay. Semua berjalan lancar hingga Aku bisa bertemu dengan Nay di apartemennya bahkan saat itu dia sedang hamil.
Sesampainya di depan apartemennya Aku berapihkan sedikit baju dan masker yang Aku gunakan, Aku mulai memencet bel apartemennya;
" Layanan kamar," kataku.
Nay mengintip dan mulai membuka pintunya, Aku pun berjalan masuk kedalam sambil membawa perlahanku. Aku melihat ruangan yang begitu mewah dan besar, bahkan ada bar kecil di dalamnya, sangat berbanding terbalik denganku dia begitu di manjakan oleh suamiku sedangkan istrinya di buat menderita tiap harinya. Ku kepalkan tanganku karena merasa kesal, ku buka masker yang Aku gunakan sedari tadi, Nay yang melihatku mulai melotot sambil ketakutan;
" Hallo Nay, apa kamu memesan layanan kamar?" kataku dengan tatapan kosong sambil tersenyum.
Nay yang melihatku di depan pintu apartemennya mulai menjerit ketakutan sambil berteriak meminta pertolongan;
" Pergi kau wanita gila, Apa kamu tidak puas membuat hidupku hancur berantakan." Katanya berteriak padaku.
" Apa yang kamu katakan? Siapa yang membuat hidup siapa berantakan?" Kataku berjalan masuk dan menutup pintu apartemennya.
Nay berjalan mundur dan berusaha meraih benda tajam yang berada di dapurnya.
" Jangan mendekat, kalau tidak Aku akan membunuhmu." Katanya sambil mengacungkan pisau padaku dengan tangan yang bergetar.
" Apa kau akan menusuk ku dengan tangan gemetar seperti itu?" Aku terus berjalan mendekatinya tanpa gentar sama sekali.
Nay mulai berlari padaku dengan pisau di tangannya, Aku memukul tangannya hingga pisaunya terlempar jauh. Nay yang terdiam sejenak mulai bergerak mengambil pisau yang terletak di lantai itu, refleks tanganku menarik rambutnya hingga dia menjerit kesakitan.
" Lepaskan," berontak Nay.
" Untuk apa Aku melepaskan mu?" Jawabku.
Ku Arahkan pisau ku pada wajahnya, Nay yang melihat pisau itu mulai syok dan pingsan. Tanpa sadar darah mengalir dan membasahi kakinya, Aku yang melihat itu hanya tersenyum bahagia seakan Aku benar-benar sudah gila.
Saat ingin kabur seluruh apartemen sudah di kepung oleh polisi, Ternyata ada seseorang yang mendengar jeritan Nay saat itu dan langsung menelepon posisi. Aku yang menyamar ketahuan oleh polisi, karena merasa sudah ketahuan Aku berlari ke arah lain namun seorang polisi nembak kaki ku sampai 3 kali saat itu. Aku terjatuh dan akhirnya tertangkap, semua orang yang melihat itu mulai Merekam dan memotret diriku.
Wajahku terpampang di layar tv bahkan sampai di layar ponsel saat itu, Semua orang menghakimi ku dan meminta agar Aku mendapatkan hukuman yang setimpal Tanpa tau penderitaan apa yang sudah Aku lawati hingga Aku menjalani hidup seperti ini. Saat menjalani persidangan Aku di vonis hukuman mati karena aksinya penikaman hingga membunuh seorang bayi yang masih di kandungan, Aku menerima hukuman yang di jatuhkan padaku Tanpa membela diri sama sekali.
Hari dimana aku akan di eksekusi tiba, Semua orang berkumpul untuk melihatku namun tidak di perbolehkan oleh polisi yang menjaga. Aku mendengar beberapa orang yang berteriak bahagia dan menyumpahiku. Aku hanya menatap langit yang begitu cerah hingga di akhir hayat Aku tidak menunjukkan wajah penyesalan dan tersenyum bahagia.
" Dor!!! " Terdengar suara pistol dari dalam, seketika semua orang dan wartawan diam sejenak. Tidak lama mulai bertepuk tangan dan bersorak gembira atas kematian ku.
Suara tepukan tangan dan sorakan gembira terdengar dengan jelas di telingaku, perlahan-lahan suara itu mulai mengecil dan menghilang. Terdengar suara orang yang tidak asing olehku, Seorang pelayan datang ke kamarku dan mengetuk pintu, Aku yang tersentak kaget akhirnya bisa bangun dari mimpi yang Aku alami. Aku memegang tubuh ku dari kaki hingga ujung kepala, keringat dingin mengalir begitu banyak hingga membasahi bajuku.
" Apa ini? Kenapa begitu terasa nyata" Kataku. Ingatannya pun masih teringat jelas di fikirkan ku, Pelayan yang dari tadi mengetuk pintu kamarku mulai menaikan nada suaranya yang terdengar panik. Aku segera membuka pintu agar Dia tidak khawatir dan berfikiran aneh-aneh tentang ku, palayan yang melihat ku membuka pintu akhirnya bisa bernafas lega.
" Aku habis dari toilet tadi " kataku berbohong.
" Apa nona tau saya sangat khawatir tadi, tanganku sudah gemetar karena nona tidak menjawab atau membuka pintu" kata palayan.
" Saya membawakan teh hangat dan cemilan untuk nona" dia meletakan nya di meja dan berdiri di depan pintu kamarku.
" Kalau begitu saya permisi dulu nona," katanya dan pergi sambil menutup pintu kamarku kembali.
Aku menikmati secangkir teh hangat yang membuat fikirkan dan perasaan ku kembali membaik, ( kenapa pelayan tadi bersikap seperti itu padahal ini bukan zaman kerajaan ) gumam ku dan kembali menikmati teh ku. Saat sedang bersantai-santai terdengar beberapa langkah kaki yang begitu banyak berjalan ke arahnya kamar ku, Aku merasa seperti melupakan sesuatu namun aku tidak mengingatnya, saat itu juga Beberapa orang datang ke kamar dan membawa gaun.
" Kenapa nona belum mandi? Nona ingat kan siang ini kakak anda akan pulang ke rumah " kata kepala pelayan.
" Itulah yang Aku lupakan" kataku.
" Apa maksud nona melupakan, Jangan bilang nona lupa hari ini?" Tanya kepala pelayan .
" Ti-tidak bukan itu maksud ku, Tolong bantuannya yah" kataku
Kepala pelayan mulai menyuruh beberapa anak buahnya untuk menyiapkan air mandi dan beberapa pelayan lainnya menyiapkan gaun dan alat make-up, Aku mulai berendam di dalam air yang sudah di beri pewangi dan Beberapa pelayanan mulai menggosok punggung ku.
" Kulit nona sangat putih dan sehat, bahu nona bahkan berwarna pink " kata salah satu pelayan.
" Benarkah? Terima kasih sudah memujiku " jawabku.
" Tapi itu bukan pujian nona, saya berkata jujur" jawabnya. Akhirnya selesai juga Aku membersihkan tubuh ku, Aku mengeringkan tubuhku dan selanjutnya berjalan ke meja rias. Aku melihat seseorang yang tidak asing, seseorang yang sangat terkenal dan dia yang akan merias wajahku, Beberapa pelayan melihatnya dengan tatapan kagum.
" Saya yakin tuan Raz adalah lelaki yang beruntung karena bisa mendapatkan calon istri seperti nona kita" kata seorang pelayan.
( Aku tidak yakin, walaupun Aku terlihat cantik seperti kata orang-orang tetap saja dia lebih mencintai wanita lain ) Fikir ku.
" Apa yang anda fikirkan nona?" Tanya perias wajah padaku.
" Aku tidak memikirkan apa-apa " jawabku dengan nada lembut padanya.
" Apa nona tau, Saya sangat ingin merias wajah nona. Saya sering merias banyak wajah dari Artis, model sampai orang-orang yang luar biasa dan terkenal tapi wajah nona lah yang terbaik" katanya.
" Saya dengar nona sering mengikuti acara amal, Ada beberapa rumor yang beredar bahwa wajah nona dan hati nona sama cantiknya dan dari situlah saya sangat bersemangat ketika ibu nona meminta ku untuk merias nona " katanya.
" Terima kasih atas pujiannya " jawab ku dengan wajah yang memerah.
" Itu bukan pujian nona, Seperti yang pelayan nona tadi bahwa semua yang ucapan adalah fakta. Saya berharap nona bisa terus menjadi pribadi yang rendah hati dan baik seperti sekarang " katanya.
" Aku senang orang-orang berfikir seperti itu tentang ku " jawabku.
" Akhirnya selesai juga" kata perias sambil tersenyum. Aku berdiri dan mulai mengenakan gaun ku, semua orang yang melihat ku hanya bisa terdiam dan takjub.
Semua tamu undangan sudah memenuhi aula tersebut bersama Raz keluarga besarnya tentunya, Kepada pelayan membukakan pintu dan Aku mulai berjalan memasuki aula. Gaun ku yang berwarna ungu Lilac di padukan dengan rambut ku yang berwarna pink seperti warna burung flamingo membuat mata semua orang menatap padaku begitu dengan Raz.
Pupil mataku melebar melihat semuanya terlihat sama, bahkan dekorasi yang kecil dan sedetail itu semuanya sama seperti yang aku lihat di mimpi itu.
( Apa yang sebenarnya terjadi, Apa Aku pergi ke masa depan saat itu? Bahkan jam dan tamu undangan terlihat sama) Fikirku melayang, kepala pelayan yang melihatku langsung memegang tubuhku agar tidak terjatuh.