Bobby selalu percaya bahwa hidup adalah tentang target dan pencapaian. Cinta? Itu hanya jeda yang tidak perlu dalam jadwalnya yang padat.
Di kampus, namanya dikenal hampir di setiap sudut. Ia aktif di organisasi, sering menjadi koordinator acara, dan tak jarang dipercaya dosen untuk memimpin proyek. Wajahnya yang tegas dan caranya berbicara yang tenang membuat banyak orang segan sekaligus kagum.
Di luar kampus, ia memiliki sebuah toko makanan kecil yang dirintisnya sejak semester dua. Awalnya hanya gerobak sederhana, lalu berkembang menjadi kedai mungil yang ramai tiap malam. Bobby mengelolanya sendiri—mengatur stok, keuangan, bahkan sesekali ikut memasak ketika pegawainya kewalahan.
Waktunya habis untuk kuliah dan usaha. Jika teman-temannya sibuk memikirkan hubungan, Bobby sibuk memikirkan ekspansi cabang.
“Aku nggak punya waktu buat cinta,” katanya suatu malam pada sahabatnya, Raka, sambil menghitung pemasukan di buku kas.
Raka tertawa. “Hati itu nggak pakai jadwal, Bob.”
Bobby hanya tersenyum tipis. Ia tak percaya pada kalimat semacam itu.
Namun, hidup memang gemar menertawakan keyakinan seseorang.
---
Pertemuan itu terjadi di sebuah pesta ulang tahun yang bahkan tidak ingin ia hadiri. Ibunya, dengan nada setengah memerintah setengah memohon, memaksanya untuk menemani.
“Kamu itu jarang banget bisa nemenin Mama. Sekali ini saja,” ujar sang ibu.
Dengan setengah hati, Bobby datang.
Rumah tempat pesta berlangsung tampak mewah, dipenuhi lampu gantung kristal dan tawa para tamu. Bobby berdiri canggung di sudut ruangan, memainkan ponselnya.
Lalu ia melihatnya.
Seorang perempuan dengan gaun sederhana berwarna biru muda. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya tanpa riasan berlebihan. Ia tertawa bersama beberapa tamu seusianya, tetapi sikapnya tenang, tidak berlebihan. Tatapannya teduh, cara bicaranya terukur.
“Arina,” sang ibu memperkenalkan ketika mereka akhirnya berhadapan.
Ternyata Arina adalah anak dari sahabat lama ibunya. Dan yang lebih mengejutkan, ia adalah adik tingkat Bobby di kampus yang sama.
“Mas Bobby, kan?” Arina tersenyum sopan.
Senyum itu sederhana. Tidak genit. Tidak dibuat-buat. Namun ada sesuatu yang membuat dada Bobby terasa sesak untuk pertama kalinya tanpa sebab jelas.
Sejak malam itu, ada yang berubah.
---
Bobby mulai mencari alasan untuk bertemu Arina di kampus. Kadang ia pura-pura lewat depan fakultas Arina. Kadang ia mengirim pesan singkat, sekadar menanyakan tugas atau kegiatan organisasi.
Arina berbeda dari kebanyakan perempuan yang pernah ia temui. Ia aktif, mengikuti beberapa kegiatan sosial kampus, dan dikenal mandiri. Cara bicaranya dewasa, pikirannya terstruktur.
“Aku suka cowok yang punya visi,” kata Arina suatu sore ketika mereka duduk di bangku taman kampus.
Bobby tersenyum. “Visiku jelas. Lulus cepat, buka cabang kedua.”
Arina tertawa kecil. “Bukan cuma soal uang, Mas. Soal hidup.”
Kalimat itu terngiang lama di kepala Bobby.
Perlahan, tanpa ia sadari, Bobby mulai meluangkan waktu. Ia menyisihkan satu malam dalam seminggu untuk mengajak Arina makan di kedainya. Kadang hanya sekadar mengantar Arina pulang setelah rapat organisasi.
Ia, yang dulu tak pernah peduli pada pesan masuk selain urusan bisnis, kini menunggu notifikasi dari satu nama.
Hubungan mereka mengalir cepat. Tidak ada drama besar, tidak ada pertengkaran berarti. Arina selalu terlihat matang dalam menyikapi masalah. Bobby merasa menemukan perempuan yang bukan hanya cantik, tapi juga sejalan.
Ketika Bobby akhirnya menyatakan perasaan, Arina menerima dengan senyum yang membuat dunia seakan berhenti berputar.
“Aku juga nyaman sama Mas Bobby,” katanya pelan.
Sejak itu mereka resmi berpacaran.
---
Semua terasa begitu tepat.
Bobby merasa hidupnya lengkap. Usahanya semakin berkembang, nilai kuliahnya stabil, dan di sisinya ada Arina yang selalu mendukung.
“Aku bangga sama kamu,” ujar Arina suatu malam ketika mereka duduk di kedai setelah tutup.
Bobby menggenggam tangan Arina dengan hati-hati, penuh hormat. Ia bukan tipe laki-laki yang mudah bersentuhan. Ia menjaga batasan, menghargai Arina sepenuhnya.
Beberapa bulan berlalu, dan Bobby mengambil keputusan besar.
Ia melamar Arina.
Bukan lamaran mewah dengan pesta besar, hanya makan malam sederhana bersama keluarga. Sebuah cincin kecil melingkar di jari Arina, disaksikan doa dan senyum kedua orang tua mereka.
Arina menerima.
Malam itu Bobby merasa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia.
---
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Beberapa hari setelah pertunangan, Arina meminta bertemu dengan wajah yang tidak biasa. Pucat. Gelisah.
“Ada yang harus aku bilang,” suaranya bergetar.
Bobby menatapnya tenang. “Apa pun itu, kita bisa hadapi.”
Arina menggigit bibirnya. Tangannya gemetar.
“Aku… aku hamil.”
Waktu seakan berhenti.
Bobby terdiam. Kata-kata itu berputar di kepalanya, menolak masuk akal.
“Hamil?” ulangnya pelan.
Arina mengangguk, air mata mulai jatuh.
Bobby mencoba tetap rasional. Tapi ada satu hal yang membuat dadanya terasa dihantam keras—ia tidak pernah menyentuh Arina sejauh itu. Bahkan setelah bertunangan, ia menjaga semuanya tetap dalam batas.
“Bagaimana bisa?” suaranya kini lebih dalam.
Arina menangis. “Itu… itu dari mantanku waktu SMA. Aku… aku nggak tahu kalau ternyata—”
Kalimatnya terpotong oleh isakan.
Dunia Bobby runtuh dalam satu detik.
Harga diri yang ia jaga. Kepercayaan yang ia bangun. Kasih sayang yang ia beri tanpa setengah-setengah.
Semua terasa diinjak-injak.
“Kamu bilang kamu sudah selesai dengan masa lalu,” ujar Bobby, suaranya bergetar, bukan karena marah, tapi karena kecewa yang terlalu dalam.
“Aku pikir sudah… aku benar-benar pikir sudah,” jawab Arina lirih.
Bobby tertawa hambar. “Pikir?”
Tak ada bentakan. Tak ada makian. Hanya sunyi yang menyesakkan.
Ia menatap perempuan yang selama ini ia anggap dewasa, matang, dan siap berjalan bersamanya. Namun kini, di hadapannya berdiri seseorang yang ternyata menyimpan ketidakjujuran besar.
“Aku mencintaimu dengan cara yang bersih,” kata Bobby pelan. “Aku menjaga kamu. Aku menjaga diri aku sendiri. Karena aku percaya kamu juga begitu.”
Air mata Arina tak berhenti.
“Aku takut kehilangan kamu, Mas…”
“Dan sekarang?” Bobby menatapnya, mata berkabut. “Kamu justru kehilangan aku.”
---
Malam itu Bobby berjalan pulang sendirian. Langkahnya berat, pikirannya kacau. Ia tidak pernah menyangka, cinta yang datang begitu cepat bisa runtuh secepat itu.
Ia duduk lama di kedainya yang sudah tutup. Lampu-lampu redup menyinari meja kosong.
Raka datang tanpa diundang, seolah tahu sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.
“Apa yang terjadi?” tanyanya pelan.
Bobby menatap lurus ke depan. “Ternyata… tidak semua yang terlihat dewasa benar-benar dewasa.”
Ia tidak membenci Arina. Tidak sepenuhnya. Tapi ada garis kepercayaan yang telah patah dan tak bisa disambung.
Beberapa hari kemudian, pertunangan itu dibatalkan secara baik-baik. Tanpa drama besar. Tanpa saling menjatuhkan. Hanya dua keluarga yang terdiam dalam rasa malu dan kecewa.
Arina memilih kembali pada keluarganya, menghadapi konsekuensi masa lalu yang belum benar-benar ia selesaikan.
Dan Bobby?
Ia kembali pada kesibukannya. Kampus. Usaha. Target.
Namun kali ini, ada satu pelajaran yang terukir dalam.
Bahwa cinta bukan hanya tentang aura, bukan tentang kesan dewasa, bukan tentang kata-kata manis dan dukungan semu.
Cinta adalah tentang kejujuran dan keberanian bertanggung jawab.
Suatu malam, ketika kedainya kembali ramai, seorang pelanggan bertanya, “Mas, kok jarang lihat Mas sekarang senyum lebar kayak dulu?”
Bobby tersenyum tipis.
“Senyum itu tetap ada,” katanya tenang. “Cuma sekarang lebih hati-hati.”
Ia tidak lagi menutup hati sepenuhnya. Tapi ia belajar, bahwa sebelum mencintai seseorang, ia harus memastikan orang itu telah berdamai dengan masa lalunya.
Karena luka yang belum sembuh, jika disembunyikan, hanya akan menjadi bom waktu dalam hubungan.
Dan Bobby telah merasakan ledakannya.
Di antara aroma makanan dan riuh pelanggan, ia berdiri lebih dewasa dari sebelumnya. Bukan karena keberhasilan usahanya.
Melainkan karena ia pernah jatuh cinta—dan belajar bahwa tidak semua cahaya itu utuh.
Beberapa hanya tampak bersinar, sebelum akhirnya retak.