Di kota yang lampunya tak pernah benar-benar padam, semua orang mengenal satu nama: Tuan Arga. Ia bukan politisi, bukan pengusaha resmi, tapi setiap uang gelap dan jalan pintas selalu melewati tangannya. Senyumnya tipis, suaranya rendah, dan keputusan-keputusannya selalu berdarah.
Malam itu, hujan menghapus jejak ban di gang sempit. Raka, kurir kecil yang baru tiga bulan bekerja, berdiri gemetar di depan meja marmer. Tasnya kosong. Uang setoran hilang—dirampok, katanya.
“Cerita orang lemah,” ucap Arga tanpa mengangkat kepala. Ia menatap peta kota, seolah nyawa bisa dipindah-pindah seperti pin catur. “Kehilangan berarti lalai. Lalai berarti memilih hukuman.”
Raka berlutut. Ia menyebut ibunya yang sakit, adiknya yang masih sekolah. Kata-kata itu jatuh ke lantai, dingin seperti air hujan.
Arga akhirnya menatapnya. Mata itu tak marah—lebih buruk: dingin, menghitung. “Kalau aku memaafkanmu, semua akan belajar mencuri alasan. Sistem runtuh.” Ia menggeser pistol kecil ke tepi meja, bukan untuk ditembakkan, tapi sebagai tanda akhir diskusi. “Pergi. Besok kau bukan milikku lagi.”
Raka pergi dengan napas tercekik. Hukuman Arga bukan peluru, melainkan pengusiran dari jaringan yang menguasai kota. Tanpa perlindungan, tanpa pekerjaan, tanpa nama. Di kota ini, itu setara dengan mati perlahan.
Namun, malam itu Arga sendirian lebih lama dari biasanya. Ia membuka laci rahasia, mengeluarkan foto tua: seorang bocah kurus dengan seragam sekolah—dirinya, bertahun-tahun lalu. Di belakang foto, satu kalimat: Jangan jadi seperti mereka.
Ia menutup laci dengan keras. Keesokan harinya, kabar beredar: setoran Raka ditemukan, dijatuhkan oleh perampok yang tertangkap. Orang-orang menunggu perintah balasan. Arga hanya berkata, “Urusi yang