Arga dikenal di pasar pagi sebagai “Pak Arga yang terlalu rapi.”
Kemeja disetrika tajam, rambut selalu klimis, sepatu tak pernah berdebu—aneh untuk lelaki yang tiap subuh jualan sayur.
Istrinya meninggal dua tahun lalu karena kanker. Sejak itu, Arga hidup dengan satu aturan:
👉 jangan biarkan hidup berantakan seperti tubuh istrinya dulu.
Ia bangun jam 4, angkat peti kol, timbang tomat, senyum ke pembeli. Banyak ibu-ibu sengaja beli di lapaknya, bukan karena murah, tapi karena Arga… enak dipandang.
“Pak Arga belum nikah lagi?”
Pertanyaan itu datang hampir tiap hari.
Jawabannya selalu sama:
“Belum perlu.”
Yang orang tak tahu: setiap malam, Arga masih masak dua porsi.
Satu ia makan.
Satu ia taruh di meja… lalu buang besok paginya.
Bukan karena ia lupa istrinya mati.
Justru karena ia terlalu ingat.
Suatu hari, datang pembeli baru: Mira, guru TK, janda juga.
Tidak genit. Tidak basa-basi.
Ia cuma bilang, “Masakannya masih buat dua orang, ya?”
Arga kaku.
Karena itu kalimat pertama yang menembus tembok rapinya.
Mira tidak memaksa. Ia hanya datang tiap pagi, beli wortel, lalu pergi.
Kadang titip anaknya main di dekat lapak.
Pelan-pelan, hidup Arga mulai berubah:
– Ia berhenti buang porsi kedua.
– Ia mulai memasak ulang, bukan memanaskan.
– Ia mulai duduk, bukan cuma bekerja.
Sampai suatu malam ia sadar:
rapi itu bukan berarti sembuh.
disiplin bukan berarti ikhlas.
Ia tampan, iya.
Tapi ketampanan itu cuma tameng biar orang tak lihat:
ia pria yang belum berani memilih hidup lagi.
Seminggu kemudian, Arga bilang ke Mira:
“Aku masih cinta sama istriku. Tapi aku capek hidup sendirian.”
Mira jawab pendek:
“Aku juga. Kita bisa mulai dari capek bareng.”
Intinya (biar gak cuma cerita kosong):
Ini bukan cerita soal duda tampan.
Ini cerita soal orang yang pakai ketampanan dan kerapian buat nutup luka.