London terasa lebih menggigit ketika Aris terbangun dengan rasa pening yang luar biasa. Ia menemukan dirinya terbaring di atas ranjang sebuah losmen murah yang hanya berjarak beberapa blok dari bar Soho tempat ia menumpahkan segala depresi semalam. Hal pertama yang ia periksa adalah pakaiannya. Lengkap. Kemeja flanelnya terkancing rapi, celana jinnya pun terpasang sempurna. Tidak ada yang aneh, pikirnya, selain rasa mual yang terus mengaduk perut dan rasa berat di sekujur persendiannya.
Pria itu, yang semalam mengaku bernama Andrew, berdiri di dekat jendela kecil yang menghadap ke gang sempit. Tubuhnya tegap, dengan siluet yang mengingatkan Aris pada kegagahan David Beckham dalam iklan-iklan di papan reklame London. Rambutnya tersisir rapi, senyumnya tampak begitu tulus dan protektif.
"Kau sudah bangun, kawan?" suara Andrew rendah dan menenangkan. Ia mendekat, menepuk bahu Aris dengan hangat—sebuah gestur yang bagi Aris terasa seperti dukungan antar pria. "Semalam kau benar-benar hancur. Aku tidak tega melihatmu pingsan di jalanan, jadi aku membawamu ke sini agar kau bisa istirahat."
Aris mencoba mengingat-ingat, tapi ingatannya berhenti pada gelas kelima. "Terima kasih, Andrew. Maaf jika aku merepotkanmu. Aku hanya... terlalu stres dengan urusan di negaraku."
Andrew tersenyum penuh arti. Matanya menatap Aris dengan cara yang ganjil, sebuah tatapan yang memuja. "Jangan khawatir. Aku jarang melihat pria sepertimu. Kau sangat gagah, Aris. Kulitmu bagus, dan... ya, kau punya kharisma yang kuat," Andrew berhenti sejenak, jarinya seolah hendak merapikan kerah baju Aris tapi tertahan. "Pria Asia yang atletis dengan dada sepertimu, kau seharusnya lebih percaya diri. Kau terlihat sangat jantan bahkan saat sedang rapuh."
Aris merasa sedikit kikuk dengan pujian itu, namun karena kondisinya yang masih linglung, ia menganggapnya sebagai keramahan khas warga lokal yang mencoba menyemangatinya. Ia tidak pernah tahu bahwa di balik kerapian pakaiannya sekarang, Andrew telah melancarkan aksi bejatnya saat Aris benar-benar tak sadarkan diri karena obat bius. Andrew yang rapi dan terencana telah memakaikan kembali seluruh pakaian Aris, menghapus jejak, dan menyisakan kehampaan yang tak teraba.
"Lekaslah pulang segera," lanjut Andrew sambil membukakan pintu untuk Aris. "Istrimu pasti menunggumu. Dan soal masalah paspor anakmu yang kau ceritakan sambil meracau semalam, percayalah, itu pasti akan segera beres. Dunia ini luas, Aris. Jangan biarkan orang-orang berpikiran sempit di negaramu menghancurkan pria sepertimu."
Aris menjabat tangan Andrew dengan erat, merasa seolah ia baru saja mendapatkan dukungan dari seorang "saudara" di tanah asing. Ia keluar dari losmen itu dengan langkah yang sedikit lebih tegak, tidak menyadari bahwa ia baru saja keluar dari sebuah TKP di mana martabatnya dirampas tanpa ia rasakan.
Begitu sampai di flat, Maya menyambutnya dengan ledakan amarah. "Aris! Jam berapa ini? Kamu mabuk-mabukan sampai pagi? Kamu pikir ini cara menyelesaikan masalah?"
Aris hanya diam, menerima cacian istrinya dengan pasrah. Pikirannya masih melayang pada kata-kata Andrew. Masalah anakmu pasti akan segera beres. Ada semacam harapan palsu yang ia bawa pulang. Ia masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin, mencoba menghapus aroma bar yang menempel. Namun, di bawah kucuran air, ia merasa ada sesuatu yang janggal pada tubuhnya—rasa nyeri yang samar, sensasi asing yang tak bisa ia jelaskan. Tapi ia menepisnya. Ia merasa "bersih" karena saat bangun tadi, semua pakaiannya masih melekat sempurna.
"Aku hanya butuh udara segar, May," ujar Aris dari balik pintu kamar mandi, suaranya parau. "Aku bertemu seseorang di sana. Dia bilang semuanya akan baik-baik saja."
Maya berdiri di luar pintu, menyandarkan keningnya di kayu yang dingin. "Siapa? Siapa yang bisa menjamin itu, Ris? Netizen masih menghujat, bapakku masih marah, dan kamu malah percaya pada orang asing di bar?"
Aris tidak menjawab. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Ia melihat dirinya sebagai pria gagah seperti yang dipuji Andrew, namun jauh di dalam hatinya, ada rasa cemas yang tak beralasan yang mulai tumbuh. Rahasia malam itu—yang bahkan ia sendiri tidak tahu kebenarannya—mulai menjadi bumbu baru dalam dilema panjang mereka. Aris merasa telah mendapatkan kekuatan baru dari Andrew untuk menghadapi Indonesia, tanpa pernah sadar bahwa kekuatan itu berdiri di atas luka yang tidak berdarah.