Keputusan itu akhirnya diambil secara impulsif dalam satu malam yang penuh isak tangis. Setelah pertemuan dingin dengan pihak legal beasiswa yang berakhir dengan "saran" untuk menonaktifkan media sosial, dan setelah Pak Broto berhenti menyapa mereka di meja makan, Aris mengeluarkan tabungan pribadinya. Mereka butuh bernapas. Menggunakan sisa cuti sebelum masa pengabdian resmi di universitas dimulai, mereka memesan tiket kembali ke London. Bukan untuk melarikan diri selamanya, tapi untuk mencari sisa-saran kewarasan yang tertinggal di sana.
Jakarta memudar di balik jendela pesawat, meninggalkan kebisingan komentar netizen yang masih berdenging di telinga Maya. Begitu mendarat di Heathrow, udara dingin yang menusuk justru terasa seperti pelukan yang jujur. Di sini, mereka bukan "penjahat pajak" atau "pengkhianat bangsa". Di sini, mereka hanyalah orang tua yang sedang menggandeng anak kecil berjaket tebal.
"Mummy, we are back to the cold home!" teriak Liam riang saat mereka keluar dari stasiun kereta bawah tanah. Kata "home" yang keluar dari mulut Liam sempat menyentak hati Maya, namun ia mencoba tidak memikirkannya.
Mereka sudah berjanji untuk bertemu dengan Satria dan Elena di sebuah kafe kecil di kawasan Southbank. Satria adalah kawan lama Aris sesama penerima LPDP angkatan awal yang kini bekerja di sebuah perusahaan teknologi di London setelah menyelesaikan masa pengabdiannya di Indonesia beberapa tahun silam. Yang membuat Maya merasa perlu bertemu mereka adalah fakta bahwa kedua anak Satria juga menyandang status Warga Negara Inggris.
Kafe itu hangat, beraroma kopi dan kayu manis. Begitu melihat Satria dan Elena, Maya merasa beban di pundaknya sedikit luruh.
"Kalian terlihat seperti orang yang baru saja selamat dari kecelakaan kereta api," ujar Satria sambil memeluk Aris erat.
"Lebih buruk, Sat. Kami baru saja selamat dari pengadilan massa tanpa hakim," jawab Aris getir.
Mereka duduk mengelilingi meja kayu bundar. Liam langsung asyik bermain dengan anak-anak Satria di area bermain kecil. Setelah memesan minuman, Maya menceritakan semuanya—tentang viralitas yang kejam, tentang tuduhan Pak Broto, hingga tentang rasa bersalah yang terus menghantuinya karena merasa telah "mencemari" nama baik beasiswa yang ia banggakan.
Elena, istri Satria, menggenggam tangan Maya. "May, dengarkan aku. Kamu tidak mencuri apa pun. Kamu sudah menyelesaikan studimu tepat waktu, risetmu diakui dunia, dan kamu sudah kembali ke Jakarta untuk melapor. Masalah paspor Liam? Itu adalah konsekuensi hukum, bukan pilihan ideologi."
"Tapi netizen bilang kami sengaja, El. Mereka bilang kami menyiapkan 'sekoci' untuk kabur kalau Indonesia sudah tidak menguntungkan lagi," bisik Maya.
Satria menyesap kopinya, matanya menatap lurus ke arah Aris. "Ris, orang-orang di internet itu bicara dari tempat yang penuh rasa tidak aman. Mereka melihat hak istimewa yang kita miliki sebagai ancaman, bukan sebagai aset. Anak-anakku juga WNA. Tapi apa mereka tahu kalau selama di Indonesia, aku membangun sistem irigasi di pelosok NTT yang sampai sekarang masih dipakai? Paspor anak-anakku tidak mengurangi debit air yang mengalir di sana."
"Tapi bagaimana cara menghadapi keluarga, Sat? Bapakku sendiri yang bilang aku pengkhianat," tanya Maya.
"Keluarga adalah yang paling berat karena mereka bicara pakai perasaan, bukan logika hukum," kata Satria. "Solusinya bukan di video klarifikasi, May. Kamu tidak akan pernah bisa memuaskan ego jutaan orang dengan satu video berdurasi dua menit. Solusinya adalah bukti nyata yang membungkam mulut mereka lewat waktu."
Satria kemudian menjelaskan strategi yang ia gunakan dulu. "Kami tidak melawan narasi mereka. Kami biarkan mereka bicara sampai bosan. Sementara itu, kami urus status kewarganegaraan ganda terbatas untuk anak-anak kami secara resmi di KBRI. Itu hak anak. Dan yang paling penting, tunjukkan kalau kamu bekerja lebih keras dari siapa pun di kantormu. Biar prestasimu yang bicara, bukan status imigrasi anakmu."
Elena menambahkan dengan nada yang lebih lembut, "Ada satu hal teknis yang bisa mendinginkan suasana, May. Urus kartu Afinitas untuk Liam. Tunjukkan ke orang tuamu kalau secara administratif, Liam terdaftar sebagai 'Anak Berkewarganegaraan Ganda'. Itu akan memberi mereka rasa tenang bahwa Liam masih 'punya' Indonesia di mata hukum kita."
Malam itu, di London yang sunyi, Maya dan Aris mulai merumuskan rencana baru. Mereka menyadari bahwa pelarian ini bukan untuk menetap lagi di Inggris, tapi untuk mengumpulkan amunisi mental. Konflik yang tadinya terasa seperti benang kusut mulai terurai menjadi langkah-langkah konkret.
Pertama, mereka akan berhenti merespons netizen sama sekali. Keheningan adalah jawaban terbaik untuk kebencian yang haus akan reaksi. Kedua, mereka akan membawa dokumen resmi dari KBRI London sebagai bukti bahwa mereka sedang mengurus status kewarganegaraan ganda Liam—sebuah langkah tengah yang legal di Indonesia. Ketiga, mereka akan bicara dari hati ke hati dengan Pak Broto, bukan sebagai anak yang membela diri, tapi sebagai orang tua yang meminta restu untuk mendidik cucunya menjadi nasionalis tanpa harus menghapus sejarah kelahirannya.
"Kamu tahu, Ris?" Maya berbisik saat mereka berjalan di sepanjang Sungai Thames setelah pertemuan itu. "Tadi Satria benar. Kita tidak perlu membuktikan kita nasionalis kepada semua orang. Kita hanya perlu membuktikannya kepada diri sendiri dan negara lewat kerja kita."
Aris merangkul bahu istrinya. "Besok kita ke KBRI. Kita urus apa yang perlu diurus. Dan lusa, kita pulang. Benar-benar pulang."
Namun, saat Maya membuka ponselnya untuk terakhir kali sebelum masuk ke hotel, ia melihat sebuah notifikasi baru. Seseorang di Indonesia baru saja mengunggah foto Liam saat masih di rumah sakit London dulu, memuji bagaimana Maya tetap berjuang melakukan riset di tengah kondisi bayi prematur. Arus komentar mulai bergeser sedikit, beberapa orang mulai membela dengan narasi kemanusiaan.
Maya menarik napas dalam. Konflik itu belum sepenuhnya selesai. Netizen masih akan tetap ada, dan Pak Broto mungkin masih akan bersikap kaku untuk beberapa waktu ke depan. Namun, kali ini, Maya tidak merasa hancur. Ia menatap paspor biru di tasnya, lalu menatap paspor hijau di tangannya.
Dilema itu masih ada, tapi kini ia tahu cara menjalaninya. Ia akan pulang ke Jakarta, menghadapi sidang dekan, menghadapi sindiran tetangga, dan menghadapi kerasnya hati ayahnya dengan kepala tegak.
Langit London masih kelabu, tapi bagi Maya, mendungnya tidak lagi terasa mengancam. Ia sudah menemukan kompasnya kembali di tengah badai identitas yang hampir menenggelamkannya. Cerita mereka belum berakhir dengan tepuk tangan meriah, tapi setidaknya, mereka tidak lagi berjalan dalam kegelapan.