Pagi di Jakarta Selatan tidak pernah tenang. Suara tukang bubur yang memukul mangkuk, deru motor knalpot brong, dan kelembapan yang merayap masuk lewat celah ventilasi menyambut hari pertama Aris dan Maya di rumah orang tua Maya. Rumah itu besar, penuh dengan piagam penghargaan milik ayah Maya, seorang pensiunan pejabat departemen yang selalu menjunjung tinggi heroisme dan pengabdian. Namun, pagi itu, suasana di meja makan terasa lebih menyesakkan daripada kabut polusi di luar sana.
Liam duduk di kursi tinggi, berjuang mengunyah kerupuk yang menurutnya terlalu keras. "Mummy, it’s crunchy but weird," keluhnya dengan aksen London yang masih kental.
Ibunda Maya, Lastri, meletakkan teko teh dengan denting yang sengaja dikeraskan. "Liam, panggilnya bukan Mummy. Panggil Ibu. Atau Mama. Biar nggak kayak turis di rumah sendiri," sindir Lastri tanpa menatap cucunya.
Aris mencoba mencairkan suasana dengan menyendokkan nasi uduk ke piringnya. "Sabar, Bu. Liam kan baru dua hari di sini. Nanti juga terbiasa dengan lidah Indonesia."
"Masalahnya bukan cuma lidah, Aris," sahut Ayah Maya, Pak Broto, yang sejak tadi hanya terdiam di balik koran paginya. Beliau melipat korannya perlahan, menatap Aris dan Maya dengan tatapan mengadili yang biasa beliau gunakan saat memimpin rapat staf dulu. "Bapak sudah baca berita itu. Teman-teman pensiunan Bapak di grup WhatsApp sudah mulai tanya-tanya. 'Broto, itu cucumu beneran jadi orang Inggris? Kok anakmu yang disekolahin negara malah bikin cucu asing?' Bapak mau taruh di mana muka ini?"
Maya meletakkan sendoknya. Selera makannya hilang seketika. "Yah, ini proses otomatis karena aturan di sana saat itu. Kita nggak punya pilihan kalau mau akses medis Liam lancar waktu dia lahir prematur. Lagipula, Liam tetap anak kami. Darahnya tetap darah kami."
"Tapi kertasnya biru, Maya! Paspornya biru!" Pak Broto menggebrak meja, tidak keras, tapi cukup untuk membuat Liam tersedak. "Negara sudah kasih kalian miliaran rupiah. Rakyat itu bayar pajak supaya kalian pintar dan bawa manfaat buat bangsa. Tapi kalau anak kalian saja bukan warga negara sini, itu namanya kalian sudah mulai cicil kaki buat kabur lagi ke sana. Itu penghinaan buat kontrak beasiswa kalian!"
"Kami pulang, Yah. Kami di sini sekarang. Apa itu belum cukup jadi bukti pengabdian?" suara Maya mulai meninggi, bergetar karena menahan tangis.
"Belum," sahut Lastri ketus. "Ibu sama Bapak sudah sepakat. Mumpung kalian baru sampai, urus itu perpindahan kewarganegaraan Liam. Jadikan dia WNI murni. Buang itu paspor Inggris. Ibu nggak mau pas arisan nanti orang-orang bisik-bisik bilang cucu Ibu itu 'produk gagal' nasionalisme."
Aris mencoba menengahi. "Bu, Pak, masalah kewarganegaraan anak itu ada aturannya. Di Indonesia ada hukum kewarganegaraan ganda terbatas sampai usia 18 tahun. Kami bisa urus itu, tapi prosesnya tidak bisa semalam. Dan sejujurnya, kami masih mempertimbangkan apa yang terbaik buat masa depan Liam kalau nanti dia mau sekolah spesialis ke luar negeri lagi—"
"Nah! Itu dia!" potong Pak Broto dengan telunjuk mengacung. "Kalian sudah mulai mikir buat kirim dia balik ke sana. Kalian itu sudah dicuci otak sama Barat. Beasiswa itu tujuannya buat membangun Indonesia, bukan buat bikin dinasti ekspatriat! Kalau netizen bilang kalian oportunis, Bapak sekarang mulai setuju."
Suasana meja makan meledak dalam keheningan yang menyakitkan. Maya merasa dikhianati oleh orang tuanya sendiri. Di luar sana, ribuan orang asing menghujatnya, dan di dalam rumah, benteng terakhirnya justru ikut meruntuhkan mentalnya.
Siang harinya, tekanan tidak berkurang. Kakak tertua Maya, Mas Panji, datang berkunjung. Panji adalah seorang politisi lokal yang sangat peka terhadap citra publik. Ia masuk ke rumah dengan wajah tegang, langsung menunjukkan layar ponselnya kepada Maya.
"May, ini sudah sampai ke grup partai kantorku. Ada yang mulai goreng isu kalau keluarga kita itu 'antek asing terdidik'. Kamu tahu kan aku mau maju lagi tahun depan? Ini bisa jadi amunisi buat lawan politikku untuk menjatuhkan kredibilitas keluarga kita," ujar Panji tanpa basa-basi.
"Mas, ini urusan privasi keluargaku. Kenapa jadi urusan partai?" Maya bertanya dengan nada tak percaya.
"Di zaman sekarang, nggak ada yang privasi kalau kamu pakai uang negara buat sekolah! Kamu itu tokoh publik dadakan karena viral. Pilihannya cuma dua: kamu bikin pernyataan publik kalau Liam akan segera diproses jadi WNI dan kamu unggah foto kalian di depan kantor imigrasi, atau karir kita sekeluarga bakal kena imbasnya. Netizen itu nggak akan berhenti sampai mereka lihat kamu 'menyerah' secara ideologi."
Maya masuk ke kamar, membanting pintu, dan menemukan Aris sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memijat pelipisnya. Di lantai, Liam sedang berusaha menirukan kata-kata di televisi yang menyiarkan berita tentang kemacetan Jakarta.
"Ris, mereka menyuruh kita membuang hak Liam," bisik Maya. "Mereka mau kita menyerah pada tekanan netizen lewat tangan keluarga kita sendiri."
Aris mendongak. Matanya merah. "Aku baru saja ditelepon oleh calon dekan di kampus tempatku bakal mengabdi. Dia bilang, 'Mas Aris, tolong kondisikan media sosialnya ya. Kami tidak mau ada aksi protes dari mahasiswa saat Mas Aris mulai mengajar nanti karena isu kewarganegaraan anak ini'. May, kita bahkan belum mulai kerja, tapi kita sudah dikarantina secara moral."
Sore itu, mereka mencoba membuat video kedua. Video yang disarankan oleh Panji dan orang tua mereka. Video yang berisi janji bahwa mereka akan mendidik Liam sebagai "putra bangsa" sepenuhnya.
Maya duduk di depan kamera ponselnya lagi. Kali ini tidak ada latar belakang rak buku London, hanya dinding putih polos rumah orang tuanya. Ia memegang tangan Liam yang tampak bingung.
"Halo teman-teman semua... Kami mendengar masukan dan kritik dari kalian. Kami mengerti kekhawatiran masyarakat..." Maya memulai kalimatnya, tapi tenggorokannya tercekat. Ia teringat betapa sistem medis di Inggris menyelamatkan nyawa Liam saat paru-parunya belum sempurna. Ia teringat bagaimana paspor biru itu adalah simbol perlindungan yang sah secara hukum internasional. Apakah ia harus mengkhianati kenyataan itu demi menyenangkan orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya?
Aris di sampingnya mengambil alih bicara. "Kami sedang mengkonsultasikan langkah-langkah hukum untuk status Liam ke depannya. Fokus kami saat ini adalah bekerja dan berkontribusi..."
"Bukan itu kalimatnya, Aris!" suara Pak Broto terdengar dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit. "Bilang kalau kalian akan segera mengganti paspornya! Tegas!"
Maya mematikan rekaman itu dengan kasar. "Aku nggak bisa, Yah! Aku nggak bisa bohong kalau proses ini gampang, dan aku nggak mau menjadikan identitas anakku sebagai alat politik atau alat penenang netizen!"
"Lalu kamu mau apa? Mau hancur sendiri? Mau kita semua kena getahnya?" Pak Broto masuk ke kamar dengan wajah memerah. "Kamu itu egois! Sekolah tinggi-tinggi cuma buat jadi keras kepala!"
Malam merayap naik, namun suhu di dalam rumah tetap panas. Aris dan Maya mengurung diri di kamar, sementara di ruang tamu, terdengar suara orang tua dan kakak Maya masih berdebat sengit tentang bagaimana "menyelamatkan" nama baik keluarga.
Maya membuka Twitter (X) miliknya. Tagar #PasporBiruLPDP masih bertengger di jajaran trending topic. Seseorang bahkan membuat utas panjang yang membedah total biaya pendidikan Maya dan Aris, lalu membaginya dengan jumlah pembayar pajak di satu kelurahan. Angka-angka itu terlihat sangat besar dan provokatif.
"Keluarga Dokter ini harusnya tahu malu. Anak adalah aset bangsa, kalau asetnya dikasih ke asing, berarti mereka cuma mau ambil ilmunya tapi ogah kasih keturunannya buat negara ini," tulis seorang netizen yang mendapatkan ribuan likes.
Di tengah keributan itu, Liam terbangun. Ia mengusap matanya dan menatap ibunya. "Mummy, why is Grandpa angry? Is it because of me?"
Maya memeluk Liam erat-erat. Air matanya jatuh di rambut anaknya yang halus. Ia merasa seperti berada di dalam penjara yang dindingnya terbuat dari ekspektasi orang lain. Di satu sisi, ada kontrak beasiswa dan kewajiban moral pada negara. Di sisi lain, ada hak identitas anaknya dan privasi keluarganya yang diperkosa oleh opini publik.
Aris mendekati jendela, menatap jalanan Jakarta yang macet dan bising. "Mungkin kita memang tidak pernah benar-benar pulang, May. Kita hanya pindah dari satu jenis tekanan ke tekanan lainnya."
Ponsel Maya bergetar lagi. Sebuah notifikasi email masuk. Itu dari bagian legal pemberi beasiswa, mengundang mereka untuk "pertemuan tatap muka" lusa guna membahas "dampak sosial dari pemberitaan yang beredar".
Maya menatap layar ponsel, lalu menatap paspor biru di atas meja, dan kemudian menatap wajah ayahnya yang masih terlihat gusar dari celah pintu. Ia ingin berteriak, menjelaskan bahwa nasionalisme tidak diukur dari selembar dokumen seorang balita, tapi ia tahu suaranya akan tenggelam dalam riuh rendah hujatan digital.
Ia mengambil ponselnya, jarinya gemetar di atas kolom caption unggahan video klarifikasi setengah jadi itu. Apakah ia harus menekan tombol 'unggah' dan menyerahkan prinsipnya demi ketenangan keluarga? Ataukah ia harus melawan dan menanggung risiko dikucilkan di negerinya sendiri?
Di luar, petir menyambar, menandakan hujan badai akan segera tiba di Jakarta. Dan di dalam kamar itu, Maya dan Aris masih terduduk diam, dikepung oleh tuntutan darah, kontrak negara, dan amarah rakyat yang tak kunjung padam. Dilema itu tetap di sana, menggantung berat, seberat mendung yang siap menumpahkan isinya ke bumi pertiwi.