Langit London sore itu tidak memberikan perpisahan yang manis. Warnanya abu-abu keruh, seperti genangan air di pinggir jalanan Kensington yang terinjak-injak sepatu bot para pejalan kaki. Di dalam flat sempit yang dindingnya mulai berjamur karena kelembapan musim dingin, Maya menatap tumpukan koper yang sudah terkunci rapat. Di atas salah satu koper, tergeletak sebuah buku kecil berwarna biru tua dengan lambang Royal Coat of Arms yang berkilau tertimpa lampu neon yang berkedip. Paspor Inggris milik Liam.
Liam baru berusia tiga tahun. Dia sedang asyik bermain dengan miniatur bus merah dua tingkat di lantai, sesekali bergumam dalam bahasa Inggris yang jauh lebih fasih daripada bahasa ibunya. "Red bus goes to the park, Mummy!" serunya riang. Maya hanya tersenyum getir. Di sudut ruangan, Aris, suaminya, sedang sibuk dengan laptop, keningnya berkerut dalam. Bukan sedang merevisi disertasi S3-nya yang baru saja dinyatakan lulus, melainkan membaca barisan kalimat yang menghantam mereka seperti badai peluru di layar ponsel.
Semua bermula dari sebuah unggahan sederhana. Maya, yang selama ini mendokumentasikan perjalanannya sebagai penerima beasiswa LPDP di UCL, mengunggah foto kelulusan mereka bertiga. Di foto itu, Liam memegang paspor biru Inggrisnya, sementara Maya dan Aris memegang ijazah dan paspor hijau Indonesia mereka. Caption-nya niatnya romantis: "Lulus dengan bonus warga negara dunia. Terima kasih Inggris untuk perlindungannya pada Liam selama kami berjuang di sini. Kini saatnya pulang membawa ilmu untuk Indonesia."
Dalam hitungan jam, romantisme itu berubah menjadi tragedi digital.
"May, ini sudah di-retweet sepuluh ribu kali," suara Aris terdengar parau. Ia memutar layar laptop ke arah Maya.
Seorang influencer dengan jumlah pengikut jutaan telah mengunggah ulang foto mereka dengan narasi yang mematikan: "Enak ya, kuliah dibiayai pajak rakyat, katanya mau mengabdi, tapi anaknya malah dibikin jadi WNA. Ini namanya penyelundupan status atau memang nggak mau rugi? Uang saku LPDP itu uang rakyat, bukan uang buat cetak bule."
Kolom komentar di bawahnya adalah manifestasi dari kemarahan kolektif yang tak terkendali. Nama Maya dan Aris dicari hingga ke akar-akarnya. Alamat flat mereka di London hampir saja terungkap. Orang-orang mulai menghitung berapa miliar rupiah yang telah negara keluarkan untuk menyekolahkan mereka, lalu membandingkannya dengan "pengkhianatan" karena memberikan kewarganegaraan asing pada anak mereka.
"Mereka tidak tahu prosesnya, Ris," bisik Maya, suaranya bergetar. "Mereka tidak tahu kalau Liam lahir prematur saat kita sedang krisis finansial, dan sistem kesehatan di sini memberikan perlindungan penuh karena status residensi kita yang panjang. Mereka tidak tahu kalau ini otomatis, bukan kita yang memohon-mohon jadi pengkhianat."
"Netizen tidak butuh penjelasan teknis hukum kewarganegaraan, May. Mereka butuh pelampiasan," jawab Aris getir.
Malam itu, bukannya merayakan gelar Doktor yang mereka raih dengan darah dan air mata, Aris dan Maya justru duduk di depan kamera ponsel yang disangga oleh tumpukan buku referensi tebal. Mereka memutuskan untuk membuat video klarifikasi. Cahaya lampu ring yang mereka beli murah di pasar loak memantul di mata Maya yang sembap.
"Kita harus terlihat tenang, tapi tidak boleh terlihat sombong," instruksi Aris.
Maya menarik napas panjang. Kamera mulai merekam. "Halo semuanya, kami ingin mengklarifikasi kegaduhan yang terjadi terkait status kewarganegaraan putra kami, Liam..."
Setengah jam mereka bicara. Maya menjelaskan tentang aturan British Nationality Act, tentang bagaimana mereka tetap akan membawa Liam pulang, dan tentang komitmen mereka untuk mengabdi di universitas negeri di Indonesia sesuai kontrak beasiswa. Aris menambahkan tentang risetnya di bidang energi terbarukan yang ia klaim akan menyelamatkan jutaan dolar devisa negara. Mereka memohon agar publik tidak menyerang identitas pribadi anak mereka.
Namun, saat video itu diunggah, hasilnya justru sebaliknya. Bukannya mereda, api justru semakin berkobar.
"Lihat deh, klarifikasinya saja pakai bahasa Indonesia yang dicampur-campur Inggris. Sok intelek!" tulis salah satu akun teratas.
"Klarifikasi kosong. Kalau memang nasionalis, kenapa nggak langsung urus perpindahan kewarganegaraan anaknya sekarang juga? Takut kehilangan fasilitas gratis di sana ya?" timpal yang lain.
Bahkan, grup WhatsApp keluarga besar mereka di Indonesia mulai berisik. Tante dan sepupu yang biasanya memuji-muji kecerdasan mereka, kini mulai bertanya dengan nada menghakimi. "Maya, apa kata orang nanti kalau cucu pertama keluarga kita bukan orang Indonesia? Apa tidak malu sama negara yang sudah kasih uang banyak?" pesan dari ibunya sendiri membuat pertahanan Maya runtuh.
Keesokan harinya adalah jadwal penerbangan mereka ke Jakarta. Di Bandara Heathrow, suasana terasa sangat asing. Biasanya, perjalanan pulang ke tanah air adalah momen yang paling ditunggu-tunggu. Namun kini, setiap kali Maya melihat orang Indonesia di bandara, ia merasa mereka sedang memperhatikannya, seolah-olah ia mengenakan lencana pengkhianat di dahinya.
Selama belasan jam di pesawat, Maya tidak bisa tidur. Ia menatap Liam yang tertidur pulas di kursi sebelah. Anak itu tidak tahu apa-apa. Bagi Liam, "rumah" adalah taman bermain di dekat flat mereka, suara kereta Underground yang bergemuruh, dan biskuit custard cream. Liam tidak tahu bahwa di sebuah negara tropis yang sangat jauh, jutaan orang sedang mendebatkan apakah dia berhak disebut sebagai bagian dari bangsa itu atau tidak.
Aris mencoba menghibur dengan menunjukkan draf rencana riset mereka, namun pikirannya sendiri tampak melayang. "Kita akan sampai di Jakarta jam sepuluh pagi," kata Aris pelan. "Aku sudah bicara dengan pihak LPDP melalui email. Mereka bilang situasi ini memang sensitif, tapi secara hukum kita tidak melanggar aturan pengabdian. Hanya saja... secara sosial, kita mungkin akan sulit."
"Sulit bagaimana?" tanya Maya.
"Kita akan diawasi. Setiap gerak-gerik kita, setiap prestasi kita akan selalu dikaitkan dengan 'anak WNA' itu. Kalau kita gagal sedikit, mereka akan bilang itu karena hati kita tidak di Indonesia."
Begitu mendarat di Soekarno-Hatta, ketakutan itu menjadi nyata. Di pintu keluar imigrasi, seorang petugas sempat berhenti lama saat memegang paspor biru Liam. Ia menatap paspor hijau Aris dan Maya, lalu menatap Liam bergantian.
"Anaknya pakai paspor Inggris, Pak?" tanya petugas itu dengan nada datar, namun matanya menyelidik.
"Iya, Pak. Lahir di sana," jawab Aris singkat, mencoba tetap sopan.
Petugas itu mengangguk, namun sempat berbisik pada rekan di sebelahnya sambil menunjuk ke arah mereka. Maya mempercepat langkahnya, menarik koper dengan tangan gemetar. Ia merasa seperti buronan yang masuk ke rumahnya sendiri.
Di luar, panas Jakarta menyergap. Debu dan riuh klakson menyambut mereka. Tidak ada penyambutan pahlawan bagi dua doktor baru ini. Mereka segera memesan taksi daring dan menuju apartemen sewaan yang akan menjadi tempat tinggal sementara.
Sepanjang perjalanan, Maya membuka media sosialnya lagi—sebuah kesalahan yang tidak bisa ia hentikan. Video klarifikasi mereka kemarin telah dipotong-potong menjadi potongan pendek di TikTok dengan latar belakang musik yang menyedihkan atau justru musik yang mengejek. Komentar terbaru bahkan lebih menyakitkan: "Jangan-jangan mereka pulang cuma buat ambil gaji gede di sini, terus nanti kalau sudah pensiun kabur lagi ke Inggris pakai jalur anaknya."
"Ris, apa kita buat video lagi? Kali ini kita tunjukkan surat pernyataan kalau kita akan mendidik Liam secara nasionalis?" tanya Maya dengan nada putus asa.
Aris menggeleng lemah. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi taksi yang keras. "Mau berapa ribu video pun, mereka tidak akan percaya, May. Kita sedang berada di ruang di mana kebenaran tidak lebih penting daripada sentimen."
Malam pertama di Jakarta terasa sangat menyesakkan. Liam menangis karena kepanasan dan tidak terbiasa dengan suara nyamuk yang berdengung di telinganya. Aris duduk di meja makan kecil, menatap tumpukan berkas administrasi yang harus diurus untuk melapor ke kantor pusat beasiswa. Sementara Maya, ia berdiri di balkon apartemen lantai dua belas, menatap gemerlap lampu Jakarta yang tak pernah tidur.
Di tangannya, ponselnya bergetar hebat. Notifikasi terus masuk. Sebuah petisi mulai beredar di internet: "Tinjau Ulang Kewajiban Penerima Beasiswa yang Memiliki Anak WNA". Petisi itu sudah ditandatangani oleh ribuan orang.
Maya menatap Liam yang akhirnya tertidur karena kelelahan. Di samping bantal Liam, paspor biru itu terselip. Sebuah benda kecil yang kini menjadi tembok besar antara mereka dan tanah air yang ingin mereka bangun.
"Apa kita salah pulang sekarang, Ris?" tanya Maya tanpa menoleh.
Aris tidak menjawab. Ia hanya terus menatap layar laptopnya, melihat kolom komentar yang terus mengalir, penuh dengan kata-kata "pengkhianat", "oportunis", dan "pajak rakyat". Di luar, hujan mulai turun menyiram Jakarta, namun hawa panas di dalam hati mereka tidak juga kunjung reda. Mereka telah sampai di tanah air, tapi entah mengapa, mereka merasa jauh lebih asing di sini daripada saat berada di London.
Dilema itu menggantung seperti awan hitam yang tak mau menyingkir. Mereka pulang untuk mengabdi, tapi sepertinya, pengabdian mereka tidak akan pernah dianggap cukup selama paspor di dalam laci itu masih berwarna biru. Maya menarik napas panjang, jarinya ragu-ragu di atas tombol Deactivate Account di ponselnya, namun di saat yang sama, ia merasa harus terus membela diri.
Antara kebutuhan untuk bicara dan keinginan untuk menghilang, Maya terjebak di tengah-tengah kebisingan yang ia ciptakan sendiri. Dan malam itu, Jakarta terasa jauh lebih dingin daripada musim dingin di London yang baru saja mereka tinggalkan.