Eliza adalah seorang pianis berbakat yang kehilangan semangatnya setelah mengalami kegagalan dalam sebuah kompetisi internasional. Ia merasa tidak mampu lagi menciptakan musik yang indah. Di bulan Februari yang dingin, ia kembali ke rumah masa kecilnya, sebuah rumah tua yang penuh kenangan. Di sana, ia menemukan sebuah kotak musik antik yang memainkan sonata yang indah namun asing.
Ia merasa terdorong untuk mencari tahu asal-usul sonata itu. Ia menemukan catatan-catatan lama milik kakeknya, seorang komposer yang telah lama meninggal. Catatan itu mengungkapkan bahwa sonata itu adalah karya terakhir kakeknya, yang tidak pernah selesai karena ia meninggal dunia mendadak.
Eliza merasa terhubung dengan kakeknya melalui musik itu. Ia memutuskan untuk menyelesaikan sonata yang belum selesai itu. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di depan piano, mencoba mencari nada dan melodi yang tepat. Ia merasakan kehadiran kakeknya membimbingnya.
Namun, Eliza mengalami kesulitan. Ia merasa buntu dan tidak bisa menemukan inspirasi. Ia mulai meragukan kemampuannya lagi. Ia hampir menyerah.
Suatu malam, Eliza berjalan-jalan di taman belakang rumahnya. Ia melihat bunga-bunga Februari yang mulai bermekaran meskipun cuaca masih dingin. Ia terinspirasi oleh ketahanan dan keindahan bunga-bunga itu. Ia menyadari bahwa meskipun ia telah mengalami kegagalan, ia masih memiliki potensi untuk menciptakan sesuatu yang indah.
Eliza kembali ke piano. Ia memainkan sonata itu dengan sepenuh hati. Ia tidak lagi berusaha untuk sempurna, tetapi ia berusaha untuk menyampaikan emosi yang ia rasakan. Ia berhasil menyelesaikan sonata itu.
Eliza memainkan sonata itu di sebuah konser kecil di kota kelahirannya. Orang-orang terpesona dengan keindahan musiknya. Mereka merasakan emosi yang kuat yang terpancar dari musik Eliza. Eliza kembali menemukan semangatnya. Ia tahu bahwa musik adalah bagian dari dirinya, dan ia tidak akan pernah menyerah pada mimpinya. Sonata Februari yang terlupakan telah membawanya kembali ke jalurnya.