Bab 1 — Laut, Tidur, dan Sebuah Pertanyaan
Kalau laut itu luas dan dalam, maka mungkin... aku juga harus belajar punya kesabaran yang seluas itu.
Tapi gimana kalau aku malah tenggelam di dalamnya?
Namaku Zomera, tapi semua orang memanggilku Mera.
Aku bukan tipe gadis yang terlalu suka ramai. Hidupku sederhana: sekolah, belajar, dan menatap langit kalau sedang bingung harus apa.
Hari itu, udara di kelas 12 IPA 3 terasa lebih hangat dari biasanya. Sinar matahari menembus jendela, menyentuh wajah teman sebangkuku yang sedang tidur pulas namanya Nauren.
Rambutnya berantakan, dan ujung pensilnya masih menempel di buku catatan yang belum selesai ia isi.
Aku menghela napas pelan.
“Nauren... Nau... Nauren,” panggilku sambil menepuk pelan lengannya.
Ia bergumam kecil, setengah sadar, lalu membuka mata.
“Hah? Apa, Mer?”
“Udah jam istirahat, mau jajan nggak?”
Dia mengucek mata, wajahnya masih lelah, tapi senyum tipis muncul di bibirnya.
“Ngantuk banget. Aku mimpi aneh barusan.”
“Mimpi apa?”
“Mimpi laut,” jawabnya pelan. “Aku berenang, tapi nggak bisa balik ke permukaan.”
Aku diam.
Nauren sering ngomong aneh akhir-akhir ini. Kadang tentang laut, kadang tentang kehilangan, kadang tentang takut sendirian.
Tapi aku tahu, dia bukan orang yang suka bercanda soal hal-hal begitu. Ya, walaupun Nauren kadang bercanda, tapi... entahlah, kali ini rasanya beda.
Kami akhirnya keluar kelas, beli minuman di kantin yang mulai padat. Suara anak-anak tertawa, aroma gorengan, dan teriakan penjaga kantin bercampur jadi satu.
Namun di tengah keramaian itu, Nauren malah menatap langit.
“Mer,” katanya, “kamu percaya nggak kalau semua orang udah ditulis takdirnya jauh sebelum lahir?”
Aku mengerutkan dahi.
“Hah? Kamu kenapa sih tiba-tiba ngomong gitu? Ini gara-gara tidur, ya?”
Nauren menatap ke arahku dengan wajah manisnya.
“Enggak gitu, Mer. Cuma pengen tahu aja,” katanya sambil tersenyum.
Tapi senyumnya kali ini aneh — kayak dipaksakan. Seolah ada banyak kata yang ia simpan tapi nggak bisa diucapkan.
Beberapa minggu terakhir, Nauren mulai jarang masuk. Katanya sakit, tapi setiap aku tanya, jawabannya cuma,
“Cuma capek aja, Mer.”
Tapi aku tahu itu bukan capek biasa. Wajahnya pucat, matanya sayu, dan kadang tangannya gemetar saat menulis.
Aku sempat mau cerita ke guru, tapi Nauren minta jangan.
“Aku nggak mau kelihatan lemah,” katanya.
Bagiku... walaupun kamu begitu, aku nggak mau orang kesayanganku harus merasakan hal seperti itu.
Sampai suatu hari, aku datang ke rumahnya. Ibunya membuka pintu dengan mata sembab. Di ruang tamu, aroma obat tercium samar.
“Nauren lagi istirahat, Mera. Dia senang banget kamu datang,” katanya dengan suara bergetar.
Aku tahu, ada sesuatu yang nggak beres di sini.
Aku melangkah masuk pelan. Nauren terbaring di tempat tidur, infus di tangannya, tapi matanya masih sempat menatapku.
“Kamu datang juga,” ucapnya lirih.
“Bodoh, kenapa nggak bilang kalau kamu separah ini?”
Dia tersenyum tipis.
“Soalnya aku tahu kamu bakal khawatir. Aku nggak mau bikin kamu sedih.”
Air mataku jatuh begitu saja.
“Kamu tuh aneh banget, Nauren. Aku temen kamu, tahu. Bukan cuma buat ketawa bareng, tapi juga buat nangis bareng.”
Dia diam sejenak, lalu pelan-pelan berucap,
“Kalau suatu hari aku nggak bisa bangun lagi... jangan lupa ya, Mer. Cerita tentang aku jangan berhenti.”
Aku menggenggam tangannya erat.
“Nggak bakal. Aku bakalan terus sama kamu. Aku janji.”
**************************
Hari itu, orang tuanya membawanya ke puskesmas, lalu langsung dirujuk ke rumah sakit.
Nauren dibawa ke IGD. Aku hampir nggak percaya.
Baru kemarin kami bercanda, berbagi koran lama... dan sekarang Nauren terbaring di balik tirai putih.
Ruangan rumah sakit hidup dalam bahasa yang asing: tes ini, rontgen itu, obat tetes, bisik-bisik dokter.
Nauren mendengar suaranya sendiri samar, seperti dari bawah laut — jauh, tapi masih bisa dimengerti.
“Aku takut,” bisiknya pada ibunya.
“Ibu juga takut, Nak. Tapi Ibu di sini.”
Mereka masuk ruang ICU. Dunia di sana berbeda — mesin berdengung, layar berwarna hijau, dan suara alarm yang kadang berteriak lalu tenang lagi.
Nauren menatap waktu yang berjalan pelan detik demi detik terasa sebesar bukit.
Aku datang.
Aku duduk di kursi, memegang tangannya lewat selimut, menempelkan telinga ke napasnya berharap bisa menyimpan suara itu di kepalaku selamanya.
Dokter-dokter menjelaskan diagnosis yang sulit diucapkan. Penyakit yang menuntut perawatan intens, yang tak selalu bisa disembuhkan.
Mereka bekerja siang malam.
Di mataku, mereka seperti penjaga mercusuar yang berusaha menuntun kapal yang hampir karam.
Hari berganti hari.
Kadang harapan muncul, kadang hilang. Kadang Nauren membuka mata, kadang tenggelam lagi.
Aku membawa majalah, boneka kecil, dan bisikan doa.
“Jangan pergi dulu, Nau... Maaf kalau badai ini bikin kamu jatuh. Jangan salahin badai, ya.”
Keluarga menunggu di kursi, saling memberi senyum yang dipaksa. Guru-guru datang, teman-teman mengirim poster penuh warna dan doa.
Tapi di balik semua itu, rasa kehilangan perlahan menunggu di pintu.
Malam itu, ketika langit di luar bersisik lampu jalan, Nauren memegang tangan ibunya.
“Ibu... kalau aku pergi, jangan sedih terlalu lama, ya. Aku udah belajar sabar, seperti laut yang Ibu bilang.”
Ibunya menunduk, menahan air mata.
Aku menggenggam tangannya kuat-kuat. “Kau keras kepala banget, Nau. Kalau kau pergi, aku bakal bawa cerita tentangmu setiap hari.”
Dokter masih berjuang sampai detik terakhir. Mesin bekerja, suara alarm naik turun.
Lalu... Nauren membuka matanya sekali lagi. “Mera... ingat waktu kita bagi roti? Aku rasa enak banget. Makasih.”
“Jangan ngomong gitu. Kamu bakal sembuh,” bisikku — tapi suaraku patah.
Nauren tersenyum, lalu menutup mata.
Suara monitor memanjang.
Dan waktu berhenti.
Beberapa minggu setelah itu, sekolah terasa sepi.
Guru masuk dengan wajah muram.
“Anak-anak... teman kalian, Nauren, telah berpulang pagi tadi.”
Dunia mendadak membeku. Aku bahkan lupa caranya bernapas.
Aku hanya menatap meja Nauren yang kosong — pensilnya masih di sana, dan selembar kertas bertuliskan: “Kalau laut luas dan dalam, aku ingin istirahat di dasarnya. Di sana tenang. Jangan cari aku, Mer. Cukup kirim doa.”
Hari pemakaman penuh tangis dan doa. Aku berdiri di samping pusaranya, menggenggam bunga putih.
Tapi di tengah kerumunan itu, aku melihat satu wajah asing yang tak pernah aku lihat seorang cowok dengan jaket hitam. Wajahnya penuh amarah.
“Kamu Mera?”
Aku mengangguk pelan.
“Jadi kamu yang bikin dia kayak gini?” katanya dingin. “Kamu yang ninggalin dia waktu dia butuh seseorang.”
Aku terdiam. Hujan turun. Langit seolah ikut berduka.
Siapa dia?
Kenapa dia menuduhku begitu?
Sebelum aku sempat bicara, dia sudah pergi — meninggalkan tatapan penuh benci yang membekas di dadaku.
Namanya baru aku tahu kemudian — Bara.
Dan sejak hari itu, hidupku berubah.
Dari hanya seorang Mera biasa, jadi seseorang yang menyimpan rahasia... dan penyesalan yang tak akan pernah hilang.
Bab 2 — Dendam yang Membara
Hari-hari setelah pemakaman Nauren terasa seperti mimpi buruk yang tak pernah berakhir. Sekolah yang dulu ramai dengan tawa kami sekarang hampa, seperti ruangan kosong yang hanya diisi oleh bisikan angin. Aku duduk di bangku belakang, menatap meja Nauren yang masih kosong. Pensilnya masih di sana, seperti yang ia tinggalkan, dan selembar kertas itu... aku tak berani menyentuhnya lagi. Setiap kali aku membaca tulisannya, air mataku jatuh. "Kalau laut luas dan dalam, aku ingin istirahat di dasarnya. Di sana tenang. Jangan cari aku, Mer. Cukup kirim doa."
Aku merasa bersalah. Kenapa aku tidak lebih peka? Kenapa aku tidak memaksa Nauren untuk cerita lebih banyak? Sekarang, dia pergi, dan aku ditinggalkan dengan penyesalan yang menusuk-nusuk seperti duri. Malam-malam aku menangis sendirian, memeluk boneka kecil yang aku bawa ke rumah sakit. "Nau, maaf... aku nggak bisa jagain kamu," bisikku pada kegelapan.
Orang tuaku khawatir. Ibu sering memelukku, bilang, "Nak, hidup harus terus. Nauren pasti mau kamu bahagia." Tapi bagaimana aku bisa bahagia tanpa teman sejati seperti dia? Sekolah terasa berat. Aku jarang bicara, hanya menatap langit dari jendela kelas, berharap bisa tenggelam seperti Nauren di laut mimpinya.
Suatu hari, saat istirahat, aku duduk sendirian di bawah pohon besar di halaman sekolah. Angin sepoi-sepoi, tapi hatiku dingin. Tiba-tiba, bayangan seseorang menutupi cahaya matahari. Aku mendongak, menatapku seperti musuh.
Bara.
Cowok dengan jaket hitam di hari pemakaman itu.
Tatapannya tajam, seperti bara api yang belum padam.
dia Bara, cowok itu, yang menuduhku di pemakaman.
Dia berdiri dengan tangan di saku, wajahnya masih penuh amarah seperti dulu. "Mera," katanya dingin, suaranya seperti pisau. "Kamu masih di sini? Nggak malu apa, setelah apa yang kamu lakuin ke Nauren?"
Aku terdiam, jantungku berdegup kencang. "Aku... aku nggak ngerti. Siapa kamu sebenarnya?"
Dia tertawa sinis. "Aku Bara. Teman Nauren dari SMP. Kami dekat banget. Aku suka sama dia, Mera. Lebih dari suka. Tapi takdir berkata lain — dia nggak pernah lihat aku kayak gitu. Dia cuma cerita tentang kamu, temen barunya yang lucu dan perhatian. Kamu yang selalu ada di sisinya, sementara aku... aku cuma bayangan."
Awalnya aku pikir semua sudah berlalu. Tapi ternyata, luka bisa hidup lebih lama dari kenangan.
Aku menggeleng, air mata mulai menggenang. "Aku nggak tahu... aku cuma temennya. Aku nggak pernah ninggalin dia. Aku datang ke rumah sakit setiap hari!"
Bara mendekat, matanya menyala-nyala. "Tapi kamu nggak bisa nyelamatin dia, kan? Kamu yang bikin dia sakit karena nggak peka! Sekarang, aku bakal bikin kamu ngerasain apa yang aku rasain. Dendam ini nggak bakal hilang gitu aja."setiap kali mataku bertemu dengan Bara, yang kulihat bukan manusia... tapi amarah yang menunggu meledak.
Dia pergi begitu saja, meninggalkan aku yang gemetar. Dari hari itu, hidupku di sekolah berubah jadi neraka. Bara punya komplotan — beberapa cowok dan cewek yang ikut dengannya, mungkin karena takut atau ikut-ikutan. Mereka mulai bully aku. Di kelas, mereka bisik-bisik, "Hei, pembunuh temen," sambil melempar kertas bekas ke mejaku. Di kantin, mereka sengaja tumpah minuman ke bajuku, bilang, "Maaf, salah tangan. Kayak kamu salah tangan ninggalin Nauren."
Aku mencoba abaikan, tapi rasanya sakit. Setiap hari, aku pulang dengan mata bengkak. Ibu tanya, aku cuma bilang, "Capek aja, Bu." Tapi di dalam, aku hancur. Aku ingat kata-kata Nauren: "Jangan lupa ya, Mer. Cerita tentang aku jangan berhenti." Tapi sekarang, cerita itu malah bikin aku jadi sasaran.
Suatu sore, setelah sekolah, Bara dan komplotannya mengejarku di lorong. "Mera, tunggu!" teriak Bara. Mereka mengerumuni aku, salah satu ceweknya mendorong bahuku. "Kamu pikir kamu siapa? Nauren udah mati karena kamu nggak jagain dia!"
Aku jatuh, tas sekolahku terjatuh. Buku-buku berserakan. Air mataku jatuh. "Aku... aku nggak salah apa-apa," bisikku, suaraku gemetar.
Bara tertawa. "Salah? Kamu yang bikin takdir ini salah! Aku suka Nauren, tapi dia milih kamu sebagai temen. Sekarang, aku bakal bikin kamu ngerasain kesepian kayak aku."
Mereka pergi, meninggalkan aku yang meringkuk di lantai. Aku merasa seperti tenggelam di laut yang Nauren bilang — luas, dalam, dan tak ada yang bisa nyelamatin. Penyesalan, kesedihan, dan sekarang dendam Bara... semuanya bercampur jadi badai yang nggak pernah reda.
Malam itu, aku menatap langit dari balkon. "Nau, tolong... aku nggak kuat lagi." Tapi jawaban hanya keheningan, dan hujan mulai turun, seolah langit ikut menangis untukku.
***********************************
Suatu hari, Ozen muncul.
Dia berdiri santai di depan kelas, senyum licik.
“Mera masih kuat juga ya? Kirain udah pindah sekolah.”
Mera membeku.
Ozen adalah mantan yang dulu ninggalin dia tanpa alasan. Dan sekarang… dia teman dekat Bara.
Ozen berbisik ke Bara: “Kalau dia nggak dihancurin pelan-pelan, dia bakal hidup enak. Mau Nauren dilupain gitu aja?”
Bara terdiam.
Tapi malam itu, Bara melihat sesuatu.
Dia melihat Mera duduk sendirian di tangga belakang sekolah. Tangannya gemetar. Matanya kosong.
Bukan seperti orang bersalah. Tapi seperti orang yang kelelahan berperang sendirian.
Dan untuk pertama kalinya, Bara ragu.
“Kenapa kamu nggak pernah bela diri?” tanya Bara pelan.
Mera tertawa kecil, pahit. “Karena aku capek. Kalau laut itu luas dan dalam… mungkin aku cuma lagi belajar berenang. Tapi kayaknya aku kehabisan napas.”
Kalimat itu bikin Bara terdiam.
Dan di situlah puncaknya: Mera jatuh sakit karena stres. Masuk UKS. Semua orang mulai sadar ini kelewatan.
Bara mulai curiga: Apa benar Mera penyebab semuanya?
Bab 3 — Retak di Dasar Laut
Hari-hari makin berat.
Bisik-bisik makin tajam. Tatapan makin dingin.
Tapi yang paling menyakitkan bukan ejekan mereka.
Melainkan diamnya Bara.
Dia masih berdiri di kejauhan.
Masih menatapku dengan wajah tak terbaca.
Tidak ikut mendorongku.
Tapi juga tidak menghentikan siapa pun.
Dan itu lebih sakit dari kata-kata.
Suatu sore, setelah komplotan itu menjatuhkan buku-bukuku lagi, aku tidak memungutnya.
Aku hanya duduk di lantai lorong sekolah.
Diam.
Kosong.
“Kalau laut luas dan dalam…” gumamku pelan,
“…mungkin aku sudah terlalu lama menahan napas.”
Langkah kaki berhenti di depanku.
Bara.
Dia tidak berkata apa-apa.
Hanya berdiri.
Lalu pelan-pelan berjongkok dan memunguti bukuku.
“Kamu nggak pernah marah?” tanyanya datar.
“Aku capek,” jawabku jujur. “Kalau aku marah, siapa yang peduli?”
Untuk pertama kalinya, matanya tidak terlihat marah.
Tapi… goyah.
Malam itu, Bara tanpa sengaja mendengar Ozen tertawa bersama teman-temannya.
“Gampang banget nyalain Bara,” kata Ozen.
“Dia cuma butuh alasan buat benci Mera. Sisanya? Aku tinggal dorong dikit.”
Bara membeku.
“Lo beneran peduli sama Nauren?” lanjut Ozen santai.
“Atau cuma mau bikin mantan lo hancur?”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.
Dan untuk pertama kalinya… Bara sadar.
Dia bukan sedang membela Nauren.
Dia sedang dimanfaatkan.
Bab 4 — Api yang Tak Lagi Membakar
Besoknya, Ozen berdiri di depan kelas.
“Kasihan banget sih Mera. Masih kuat ya? Padahal—”
“Cukup.”
Suara itu tenang. Tapi tegas.
Bara.
Semua orang diam.
“Ozen, berhenti.”
Ozen tertawa kecil. “Kenapa? Tiba-tiba jadi pahlawan?”
Bara melangkah maju.
Wajahnya tidak marah. Tidak berteriak.
Justru terlalu tenang.
“Lo yang dorong gue buat nyalahin dia. Lo yang bilang dia ninggalin Nauren. Lo yang bikin semuanya makin parah.”
Bisik-bisik mulai terdengar.
Ozen mencoba menyangkal.
Tapi Bara mengeluarkan rekaman suara dari ponselnya — percakapan semalam.
Wajah Ozen memucat.
Untuk pertama kalinya, orang-orang tidak menatapku dengan benci.
Mereka menatap Ozen dengan jijik.
“Lo bukan marah karena Nauren,” kata Bara pelan.
“Lo cuma nggak bisa nerima kalau Mera lebih kuat tanpa lo.”
Ozen pergi dengan wajah tertunduk.
Sendiri.
Dan untuk pertama kalinya… aku merasa tidak tenggelam.
*************
“Zomera… Mera… kamu tahu nggak soal Ozen?” tanya Adel pelan, duduk di depanku saat istirahat.
“Enggak. Kenapa, Del?” jawabku datar, pura-pura fokus pada makananku.
Adel mendekat, suaranya setengah berbisik.
“Katanya dia bully kamu cuma karena dia nggak terima kamu kuat tanpa dia. Dia yang manas-manasin Bara.”
Aku terdiam.
Sendok di tanganku berhenti.
“Sebenarnya aku nggak peduli sama dia,” kataku pelan.
“Aku cuma…”
Kalimatku terputus.
Ada tatapan tajam di depanku.
Bara.
Dia berdiri beberapa langkah dari meja kami.
Tidak marah.
Tidak dingin.
Tapi matanya… seperti orang yang baru sadar sudah menyakiti sesuatu yang berharga.
Adel cepat-cepat pergi, meninggalkan kami berdua.
Hening.
“Aku minta maaf.”
Dua kata itu keluar tanpa ragu.
Aku mengangkat wajah.
“Untuk apa?”
“Untuk semua yang aku percaya tanpa nyari tahu kebenarannya.”
Suaranya rendah. “Aku pikir aku lagi bela Nauren. Ternyata aku cuma dipakai.”
Aku menatapnya lama.
“Kamu tahu apa yang paling sakit?” tanyaku.
Dia diam.
“Bukan ejekannya. Tapi kamu yang diam.”
Kalimat itu membuat rahangnya menegang.
“Aku nggak tahu cara berhenti marah waktu itu,” katanya pelan.
“Tapi sekarang aku tahu… kamu nggak pernah ninggalin dia.”
Angin sore masuk lewat jendela kelas.
Lembut. Tidak lagi terasa dingin.
“Aku juga marah,” kataku pelan.
“Ke diri sendiri. Ke keadaan. Ke laut yang terlalu dalam.”
Bara tersenyum tipis.
“Kalau kamu tenggelam, bilang.”
“Buat apa?”
“Biar aku tahu kapan harus narik kamu naik.”
Jantungku berdegup aneh.
Dan untuk pertama kalinya… aku tidak merasa sendirian di ruang itu.
Bab 5 — Laut yang Tak Lagi Menakutkan
Beberapa minggu setelah semuanya reda, sekolah terasa berbeda.
Bangku Nauren masih kosong.
Tapi sekarang… kosongnya tidak lagi menelan.
Suatu sore, Bara mengajakku ke pantai.
Langit jingga. Ombak tenang. Angin lembut.
Kami duduk berdampingan tanpa banyak kata.
Seperti biasa, dia tidak banyak bicara.
Tapi kehadirannya… cukup.
“Aku dulu pikir,” katanya pelan,
“kalau marah itu cara paling gampang buat tetap merasa dekat sama orang yang pergi.”
Aku menatapnya.
“Ternyata salah. Aku cuma takut sendirian.”
Aku tersenyum kecil.
“Kita semua takut sendirian, Bara.”
Dia menoleh ke arahku. Matanya tidak lagi membara.
Hangat. Dalam. Tapi tenang.
“Aku nggak mau kamu sendirian lagi, Mer.”
Jantungku berdegup.
Angin laut berdesir pelan.
“Kalau laut itu luas dan dalam…” kataku seperti kebiasaan lama.
“Kita berenang bareng,” jawabnya cepat.
“Dan kalau kamu capek, aku yang tarik kamu naik.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu yakin? Aku berat, loh.”
Dia mengangkat alis tipis.
“Beratnya bukan di badan.”
Hening.
Lalu dia berdiri. Menghadapku.
Tangannya terulur.
“Zomera,” katanya untuk pertama kalinya menyebut nama lengkapku.
“Aku nggak mau lagi jadi api yang ngebakar. Aku mau jadi orang yang jaga kamu. Bukan karena kasihan. Bukan karena rasa bersalah. Tapi karena… aku nyaman sama kamu.”
Dadaku terasa penuh.
“Jadi?” tanyaku pelan.
Dia menarik napas.
“Jadi… mau nggak kamu jadi orang yang aku pilih sekarang? Bukan karena masa lalu. Tapi karena kita mau jalan ke depan bareng.”
Aku menatap laut.
Dulu, laut terasa seperti tempat tenggelam.
Tempat kehilangan.
Tapi sekarang… laut hanya luas.
Dan aku tidak lagi takut.
Aku menggenggam tangannya.
“Iya, Bara.”
Senyumnya pelan. Tapi nyata.
Dan untuk pertama kalinya sejak Nauren pergi…
aku tidak merasa kehilangan.
Karena kebahagiaan ternyata bukan tentang tidak pernah tenggelam.
Tapi tentang menemukan seseorang
yang memilih tetap tinggal.
Beberapa bulan kemudian, di bangku yang dulu kosong, aku menaruh bunga kecildan septak surat kecil bertuliskan "Sampai detik ini, aku sadar bahwa kebahagiaan dan ketenangan tak perlu dikejar. Ia akan datang sendiri, seperti ombak yang tahu caranya kembali ke pantai—tanpa kita harus mengemis belas kasih pada siapa pun." Yang terpenting di hidupku aku belajar bahwa semua akan ada batasnya. Pada akhirnya kita akan mentakdirkan kisah kita sendiri, bagiku ini sebuah pelajaran yang tak akan ad habisnya, Nauren aku cuman mau bilang:
“Nau, ceritanya nggak berhenti kok.
Cuma babnya berubah.”
Di kejauhan, Bara menungguku.
Dan kali ini… aku berjalan ke arahnya tanpa takut.
Disitu aku mengerti pada dasarnya aku berlayar diantara lumba-lumba.
' Sampai detik ini, aku sadar bahwa kebahagiaan dan ketenangan datang bukan karena aku memohon untuk dipilih, tapi karena akhirnya ada seseorang yang memilih untuk tinggal. '
****************************************
TAMAT
TERIMAKASIH SEMUANYA TELAH MEMBACA CERITA SAYA, MUNGKIN CERITANYA BEGITU BIASA AJA,AKU HARAP KALIAN TERHIBUR.
JIKA ADA CERITA YANG KURANG MENYENANGKAN KALIAN BISA MEMBERIKAN KRITIK DAN SARAN.
SAYA UCAPKAN TERIMAKASIH TELAH MEMBACA.