Di kehidupan yang cuma sekali ini terkadang kita ingin yang nama nya merasakan hidup yang damai, tetapi kenyataan tidak seperti yang kita harapkan. Nyata nya diriku terlahir di dunia ini hanya untuk selalu mengerti orang lain, tanpa harus di beri kesempatan untuk di mengerti. Terlahir menjadi perempuan saja rasa nya sudah sangat menyedihkan, apalagi terlahir menjadi anak perempuan pertama, yang selalu di tuntut menjadi contoh yang baik untuk adik-adik nya, yang selalu di anggap di saat di butuhkan saja. Hidup anak perempuan pertama ini sungguh berat rasanya yang di mana kita harus menjadi tempat bersandar nya keluarga, teman, maupun pasangan. Jika mereka semua bersandar kepada diriku lantas kemana aku harus bersandar. Menjalani hari hari tanpa mengeluh, selalu berusaha kuat, selalu terlihat tenang, tapi percayalah itu semua hanya cover, hanya topeng untuk menutupi semua yang di rasakan. Mungkin saja muka dan badan ini di lihat orang orang tenang menjalani perjalanan tanpa beban, tapi percayalah itu semua tidak dengan pikiran nya, semua nya selalu di pikiran. Diriku bisa menolong orang tapi percayalah disaat aku membutuhkan bantuan tiada seorang pun yang membantuku, jatuh bangun sendiri susah nya selalu di hadapi sendiri, giliran bahagia nya orang lain pun harus merasakan, jika tidak maka akan di cap sebagai orang yang egois. Kehilangan diri sendiri demi orang orang di sekitar diriku, diriku bukan berarti tidak butuh pertolongan tapi cuma ga tau cara meminta tolong. Untuk anak perempuan pertama yang suatu saat bakal menjadi tulang punggung keluarga harus tetap kuat dan semangat, yakin lah semua beban yang di pikul itu bakal ada anugrah yang di kasih orang sang pencipta. Jika dirimu bingung harus bersandar ke siapa bersandarlah ke diri sendiri karena hanya diri sendiri yang memahami, kuat kuat untuk anak perempuan pertama.