Awal kita bertemu, mungkin dia sudah lupa atau bahkan tidak pernah mengingatnya sama sekali. Saat itu aku duduk di halte bus dekat sekolahku. Hujan tak kunjung reda, sementara aku tidak membawa payung sehingga terpaksa meneduh di sana. Orang-orang berseragam sepertiku berlalu-lalang. Sebagian dijemput mobil atau motor, sebagian lagi berjalan kaki dengan payung di tangan.
“Huh, kenapa aku nggak bawa payung tadi!” gumamku kesal. Pagi itu aku memang terburu-buru berangkat sekolah.
Karena terlalu lama menunggu dan hujan tak juga berhenti, dengan tekad nekat aku menerobos hujan. Tak peduli jika besok aku sakit. Rintik hujan menetes di kepalaku. Rambut pendek sebahuku basah kuyup, begitu juga seragam, tas, dan sepatu.
Bukannya langsung pulang, aku malah sempat bermain di genangan air di tepi jalan. Tanganku mulai berkerut karena air, rambutku terus meneteskan air hujan. Tiba-tiba sebuah payung ungu menaungi tubuhku. Aku mendongak dan melihat seorang pria yang jauh lebih tinggi dariku. Mata kami saling bertemu.
“Jangan main hujan,Celyn Levite” ucapnya singkat, lalu menggenggamkan gagang payung itu ke tanganku.
Aku terus menatapnya sampai sosoknya menghilang di balik derasnya hujan.
“Haishh, lo mikirin cowok itu lagi, Lyn?” tanya Zahra, sahabatku
“Iya, Zah… kepikiran mulu,” jawabku jujur.
“Ck, udah kecintaan lo itu,” ceplosnya sambil tertawa.
Sejak hari itu, bayangan pria berpayung ungu itu terus mengisi pikiranku. Setiap hujan turun, aku selalu berharap bisa melihatnya lagi. Dan harapanku terkabul. Beberapa hari kemudian, di halte yang sama, payung ungu itu kembali muncul.
“Lagi?” katanya ringan.
Sejak saat itu, setiap hujan turun kami sering berjalan bersama. Namanya Arka. Ia bukan siswa sekolahku, melainkan mahasiswa yang sering lewat karena tempat les adiknya berada di sekitar situ. Hubungan kami tak pernah jelas. Tidak ada pernyataan apa pun, hanya langkah berdampingan di bawah payung ungu.
Namun kebersamaan itu mulai menimbulkan masalah. Teman-teman sekolahku mulai berbisik-bisik.
“Hati-hati, Lyn. Katanya dia udah punya pacar,” ujar salah satu temanku.
Rumor menyebar cepat. Ada yang bilang Arka sering terlihat dengan perempuan lain. Ada yang mengatakan aku hanya dimanfaatkan. Aku mencoba mengabaikannya, tapi hatiku mulai dipenuhi rasa cemas.
Suatu sore, aku melihat sendiri Arka berdiri di depan kampus bersama seorang perempuan. Mereka tertawa di bawah payung ungu yang sama. Perempuan itu memegang payung itu, berdiri begitu dekat dengannya.
Dadaku terasa sesak.
Malamnya hujan turun sangat deras. Aku mendatanginya di halte dengan hati yang kacau. Arka datang, wajahnya terlihat terkejut melihatku basah kuyup.
“Kamu kenapa hujan-hujanan lagi?” tanyanya cemas.
“Payung ungu itu… bukan cuma buat aku, ya?” tanyaku pelan, menahan tangis.
Arka terdiam cukup lama. “Aku nggak pernah bilang itu cuma buat kamu, Lyn.”
Jawaban itu sederhana, tapi terasa seperti pisau yang menembus hati.
“Aku juga mau bilang sesuatu,” lanjutnya lirih. “Minggu depan aku pindah kota. Ikut orang tua.”
Semua terasa runtuh dalam sekejap. Ternyata waktu yang kupikir akan panjang, hanya sebentar. Ternyata kebersamaan yang kurasa istimewa, hanyalah momen singkat dalam hidupnya.
“Kenapa baru bilang sekarang?” suaraku bergetar.
“Aku nggak mau bikin kamu berharap lebih.”
Kalimat itu justru yang paling menyakitkan.
Hari keberangkatannya tiba. Hujan kembali turun, seolah mengulang awal pertemuan kami. Namun kali ini aku tidak datang ke halte. Aku hanya berdiri di balik jendela kamar, memandangi jalan yang basah.
Sebuah pesan masuk di ponselku.
Jangan main hujan lagi. Jaga kesehatanmu.
Tak ada kata rindu. Tak ada janji untuk kembali.
Di sudut kamarku tergeletak payung ungu yang pernah ia tinggalkan. Kugenggam gagangnya erat, air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Hujan tetap turun, tapi kini tak ada lagi yang memayungiku.
Sejak hari itu, setiap kali langit berubah kelabu, aku tidak pernah lagi bermain di genangan air. Karena aku tahu, tidak semua yang datang bersama hujan akan tinggal setelah hujan reda.
Tamat!