Bukankah warna hitam sering dianggap sebagai warna sial? Ia sering menjadi bahan candaan. Namun, siapa sangka, di balik kata “sial” itu tersimpan makna yang jauh lebih dalam.
Hujan tak kunjung reda. Langit seperti ikut memeluk kesedihan seseorang. Sejak tadi seorang gadis masih duduk di halte bus, memeluk payung hitamnya erat-erat. Payung yang seharusnya melindunginya dari hujan justru ia lindungi sepenuh hati. Ia tak membukanya. Lebih baik ia kehujanan dan kedinginan daripada membiarkan payung itu terkena setetes pun air hujan.
Orang-orang berlalu lalang. Beberapa memandangnya heran, sebagian lagi tak peduli. Dunia memang sering kali terlalu sibuk untuk berhenti sejenak dan memahami luka seseorang. Gadis itu menatap payung di pelukannya. Ingatannya kembali pada hari ketika payung tersebut diberikan kepadanya—senyuman hangat dan kalimat yang masih terngiang hingga kini.
“Pakailah payung ini. Jangan kehujanan. Hujan akan terasa lebih deras jika kau sedang sedih dan memilih untuk tetap berdiri di bawahnya.”
Namun kini, jarak itu bukan lagi sekadar jauh. Ia telah kehilangan orang yang memberinya payung tersebut. Bukan karena pertengkaran, bukan pula karena perpisahan biasa, melainkan karena takdir yang merenggut tanpa izin.
Ia tersenyum kecil, meski air mata bercampur dengan air hujan di pipinya. Tangannya gemetar, bibirnya kering dan mulai membiru. Dingin semakin menusuk hingga ke tulang, tetapi ia tak bergeming. Baginya, payung itu adalah sisa terakhir dari rasa hangat yang pernah ia miliki.
Langit mulai gelap dan lampu jalan menyala satu per satu. Hujan perlahan mereda. Di halte yang semakin sepi, gadis itu akhirnya berdiri dan kembali melangkah.
Entah ke mana tujuannya. Ia terus berjalan ditemani angin yang dingin, dengan kaki yang semakin lemah. Hingga akhirnya ia terbaring tak berdaya. Napasnya terhenti, tetapi senyum tipis masih tersisa di wajahnya. Dalam pelukannya, payung hitam itu tetap ia genggam erat.
Tamat!