Namanya Rangga. Anak kelas 10 yang kalau dilihat sekilas, ya… biasa saja. Rambutnya sering sedikit berantakan, tasnya selalu terasa lebih berat dari seharusnya, dan dia punya kebiasaan buruk: tidur saat tidak mengerti materi yang disampaikan guru.
Di kelas, Rangga bukan ketua kelas. Bukan juga anak yang paling ribut. Dia tipe yang ikut tertawa kalau ada yang lucu, ikut diam kalau suasana serius, dan sering jadi “nyamuk” saat teman sebangkunya sedang berpacaran.
Rangga juga langganan dicatat OSIS karena seragamnya belum lengkap—tidak ada logo sekolah, tidak ada logo SMA, dan tidak ada tanda nama.
Tapi setiap Rabu sore, Rangga berubah menjadi orang yang berbeda.
Dengan seragam cokelat Pramuka yang sudah dipres rapi membentuk tubuhnya, dia berdiri tegap di lapangan dengan evolet Bantara di bahu kanan dan kirinya. Suaranya lantang memberi aba-aba kepada pasukan LKBBT yang sedang bersiap untuk lomba di SMA Garuda Laksana. Suaranya yang biasanya santai mendadak tegas saat membawakan pidato variasi berjudul, “Variasi Kisah Sang Laksamana Laut Nusantara.”
Dia tidak ikut Pramuka karena terpaksa. Dia suka sensasi lelah setelah latihan, suka bau tanah saat kemah, dan suka momen teriakan suporter di pinggir lapangan saat dia dan pasukannya memasuki arena lomba.
Bagi Rangga, Pramuka bukan cuma soal baris-berbaris atau tali-temali. Bagi Rangga, Pramuka adalah keluarga kedua rumah yang tidak menuntut kesempurnaan, rumah yang di dalamnya ada kebersamaan.
Dan anehnya, setiap kali dia memakai seragam cokelat itu, dia merasa lebih menjadi dirinya sendiri.
Kadang, sebuah “rumah” tidak selalu berbentuk bangunan kokoh. Rumah bisa menjadi tempat kita melepaskan seluruh emosi, menghabiskan waktu berharga untuk tujuan yang sama, serta merasakan kehangatan kebersamaan yang maknanya lebih dari sekadar “organisasi”.
Rumah bukan selalu tentang tembok dan pintu.
Kadang ia hadir dalam bentuk kebersamaan.
Dalam tawa yang dibagi, lelah yang kita rasa bersama, dan tujuan yang diperjuangkan bersama.
Di sanalah kita menemukan kehangatan bukan hanya sebagai anggota, tapi sebagai keluarga.
Hahahaha, bisa saja.
Rangga adalah anggota Pramuka aktif yang memiliki satu masalah besar: tidak mendapat izin dari orang tua. Aduh, permasalahan yang sulit. Karena itu, sekarang Rangga hanya bisa tersenyum sendiri sambil membayangkan keseruan lomba, tawa bersama anggota lain, atau melihat foto-foto lamanya bersama teman-teman Pramuka.
Sebenernya rangga ga dapet izin ortu karena kesalahannya juga, dia sering terlena sama tugas sekolah karena sering latihan kemaleman, aduhhhh
Tapi aman kok ges sekarang rangga masih aktif Pramuka, tetep ikut lomba walau ga se sering dulu
Selain kisah heroiknya di lapangan lomba, Rangga juga punya kisah cinta yang tidak semulus PBB tongkatnya.
Namanya, Arunika.
Bukan anggota Pramuka.
Bukan juga anak osis yang sangat rangga benci.
Dia anak PASKIBRA. Kalem, Rajin, Dan entah kenapa selalu muncul di momen-momen penting hidup Rangga.
Awalnya biasa saja.
Cuma saling pinjam pulpen.
Cuma membahas vafor keren dari pasukan sekolah lain.
Cuma saling lempar komentar soal guru matematika yang terlalu cepat menjelaskan.
Tapi semuanya mulai berubah saat Arunika sering menonton Rangga latihan di lapangan sekolah.
Di samping lapangan Arunika tidak berisik, tidak banyak berkomentar tentang kekurangan pasukan, Nayla hanya menyaksikan Rangga yang sedang memberikan aba aba tegas di lapangan.
Dan entah kenapa, Rangga yang biasanya fokus mendadak salah mengambil aba aba .
"Hadap kanan henti jalan".
Yang bikin pelatihnya melotot dari jauh "ulang, oon rangga henti jalan gimana konsepnya" kang nopal berkata tegas.
"Siap salah kang" balas rangga dengan muka panik dan sedikit malu
Arunika yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa tertawa kecil sambil berkata di dalam hati "hahahah konyol banget".
Sejak itu, Rangga sadar satu hal:
Ternyata yang bisa bikin dia gugup bukan cuma orang tua yang memanggil namanya lengkap.
Tapi "cinta"
ANJAYYY
Masalahnya?
Orang tua Rangga sudah pernah memperingatkan:
“Kalau nilai turun lagi gara-gara kegiatan luar, Ayah minta kamu berhenti semuanya.”
Dan “semuanya” itu terdengar seperti ancaman untuk Pramuka… dan mungkin juga untuk Arunika.
Nilai Rangga memang sempat turun.
Bukan karena bodoh.
Tapi karena terlalu membagi diri.
Latihan sampai malam.
Tugas menumpuk.
Orang tua kecewa.
Izin hampir dicabut.
Sekarang Rangga sedang ada di titik yang sulit.
Dia ingin jadi anak yang bertanggung jawab.
Dia ingin tetap jadi danton pasukan yang bisa diandalkan.
Dan diam-diam… dia juga ingin tetap bisa ngobrol santai sama Arunika sepulang sekolah.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rangga sadar:
Menjadi kuat bukan cuma soal baris-berbaris yang rapi.
Tapi soal berani memilih prioritas.
Dan mungkin…
Pramuka dan Arunika adalah hal yang paling rangga suka.
Tapi....
Izin ortu adalah hal yang paling ia takut.
Wkwkwkwkwkwk
Follow ig
@izzatathalla