—Aku pernah menjadi seseorang yang paling takut akan kehilangan. Namun, setelah aku pikir pikir lagi. Buat apa aku begini? Sedangkan orang lain saja tak pernah takut akan kehilanganku.
--------
Yogyakarta, 5 Februari 2020
-------
“Bunda…”
Suara itu lirih, semanis petikan dawai yang nyaris putus. Pemuda itu berdiri di sana, Navarren Langit Trienna. Surai hitamnya membingkai sepasang netra biru yang berkilau serupa permata safir paling murni, namun di dalamnya tersimpan mendung yang tak kunjung pecah menjadi hujan.
“Jangan panggil aku dengan sebutan menjijikkan itu, Anak Haram.”
Jawaban itu menghantam udara seperti sebuah belati . Lianne Wyvern, wanita yang seharusnya menjadi pelabuhan bagi Langit, duduk memunggungi sang putra. Jemarinya mencengkeram botol wine seolah benda itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya. Baginya, kehadiran Langit adalah noda tinta di atas gaun sutra putih yang tak pernah bisa ia bersihkan.
“M-maaf…” Langit menunduk. Kata maaf adalah satu-satunya kosakata yang ia kuasai dengan sempurna. Ia sudah terbiasa memeluk luka sebelum luka itu sempat menyentuhnya.
“Katakan maumu. Cepat! Aku tidak punya waktu untuk meladeni anak haram sepertimu,” desis Lianne. Suaranya dingin, membekukan setiap sisa keberanian di dada Langit.
Langit menggigit bibir bawahnya, menahan isak yang meronta ingin keluar dari tenggorokan. Dengan suara yang bergetar hebat, ia bertanya, “Jika Langit tiada… apakah Bunda akan menemukan bahagia yang selama ini hilang?”
Lianne beranjak, melirik dengan tatapan yang lebih tajam dari sembilu. “Ya. Aku akan berpesta jika kau mati lebih awal. Dan sekali lagi, jangan panggil aku ‘Bunda’. Aku tidak sudi rahimku diingat karena melahirkan aib sepertimu.”
Lianne melenggang pergi, meninggalkan aroma alkohol dan kebencian yang menyesakkan.
Langit terpaku. “Begitu rupanya… aku hanyalah jelaga di mata bunda?” batin Langit pilu.
--------
Malam itu, Yogyakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Langit berdiri di tepi trotoar yang sepi, di bawah temaram lampu jalan yang berkedip sekarat. Jemarinya menari di atas layar ponsel, mengirimkan pesan pada satu-satunya sahabat yang ia miliki.
--------
Lucas:
“Ren... Lo beneran mau nyerahin beasiswa lo?”
Langit: “Iya, Cas. Kurasa aku akan segera putus sekolah… selamanya.”
Lucas:
“Hah? Candaan lo nggak lucu tau, Ren”
Langit: “Hahaha, aku tidak sedang bercanda. Aku hanya mengatak yang sesungguhnya.”
------
Langit melangkah ke aspal. Dunianya kini hanya terpaku pada layar kecil di tangannya, tempat ia menuangkan sisa-sisa napasnya. Ia tidak mendengar raungan mesin yang mendekat. Ia tidak melihat cahaya lampu yang menyilaukan dari arah samping.
----
BRAKK!
Tubuh seringan kapas itu terpental hebat. Aspal yang kasar mencumbu kulitnya dengan kejam, menyeretnya hingga beberapa meter. Darah mengalir, merembes di sela-sela aspal, warnanya merah pekat, sangat kontras dengan netra birunya yang kini mulai meredup menatap rembulan.
Dengan sisa kesadaran yang kian menipis dan jemari yang bersimbah darah, ia mengetik pesan terakhir. Pesan ulang tahun yang selama ini ia simpan di palung hati.
------
Langit:
“Bunda… selamat ulang tahun. Nanti Bunda harus tersenyum, ya? Setelah ini, Bunda tidak akan lagi melihat wajah yang paling Bunda benci. Langit pamit pulang duluan. Selamat ulang tahun, Bunda. Langit tetap sayang Bunda… meski Bunda tidak.”
-------
Sebuah notifikasi masuk tepat sebelum kelopak matanya tertutup rapat.
------
Bunda (Lianne): “Gak usah omong aneh-aneh. Buruan pulang, Langit. Rumah masih kotor belum kamu beresin.”
--------
Langit tersenyum tipis. Sangat tipis. Ia sudah tidak merasa sakit lagi. Dunianya yang biru kini perlahan berubah menjadi hitam yang tenang. Ia tidak lagi takut kehilangan, karena kini, ia adalah pihak yang akhirnya hilang.
Tbc...
(Umn... Ini kayaknya sinopsis buat cerita baru nanti... Kayaknyaaa)
Dont copy my write!
Original ide by : Nattadecoco!
(Maaf bila ada kesamaan alur atau karakter itu tidak di sengaja)