Lantai marmer rumah mewah itu terasa dingin di bawah telapak kaki Arini, sedingin tatapan laki-laki yang berdiri di hadapannya. Wisnu, suaminya selama tujuh tahun, baru saja meletakkan selembar kertas di atas meja kopi dengan gerakan yang sangat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menghancurkan hidup orang lain.
"Tanda tangani, Arin. Aku sudah menyiapkan apartemen kecil untukmu di pinggiran kota. Kamu bisa bawa pakaianmu, tapi perhiasan dan mobil itu milik perusahaan," ujar Wisnu tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Arini menatap kertas itu. Gugatan Cerai.
"Kenapa, Mas? Apa karena aku belum bisa memberimu anak? Atau karena aku sudah tidak secantik sekretaris barumu itu?" suara Arini bergetar, namun ia menolak untuk menangis di depan laki-laki ini.
Wisnu mendengus remeh. "Jangan drama. Kita sudah tidak selevel. Aku sekarang CEO, Arin. Aku butuh pendamping yang bisa membawaku ke lingkaran sosial yang lebih tinggi, bukan istri yang baunya selalu bau bumbu dapur dan hanya tahu cara menghemat uang belanja."
Arini tertawa getir. Ia teringat tujuh tahun lalu, saat mereka makan mi instan dibagi dua karena uang Wisnu habis untuk modal usaha. Ia teringat bagaimana ia menjual kalung peninggalan ibunya agar Wisnu bisa membeli jas pertamanya untuk bertemu investor.
Tanpa sepatah kata pun, Arini meraih pulpen dan membubuhkan tanda tangannya. Cepat dan tegas.
"Aku pergi. Tapi ingat satu hal, Mas. Pohon yang kau tebang mungkin akan mati, tapi tanah yang kau injak akan tetap subur untuk menanam benih baru. Dan kamu? Kamu baru saja membuang satu-satunya orang yang mencintaimu saat kamu bukan siapa-siapa."
Dua Tahun Kemudian
Gala Entrepreneur of the Year malam itu sangat megah. Wisnu hadir dengan setelan jas mahal, namun wajahnya tampak kuyu. Perusahaannya sedang di ambang kebangkrutan setelah serangkaian investasi bodong yang disarankan oleh istri barunya—yang kini sudah pergi meninggalkannya saat rekeningnya mulai menipis.
Wisnu datang ke sana dengan satu harapan: mendapatkan suntikan dana dari Angel Investor misterius yang baru saja mengakuisisi perusahaan retail terbesar di negara itu.
"Siapa investor itu?" tanya Wisnu pada rekannya.
"Namanya Ibu Arini. Dia sangat tertutup, tapi tangannya dingin. Apa pun yang dia sentuh jadi emas," jawab rekannya kagum.
Jantung Wisnu seakan berhenti berdetak saat melihat seorang wanita melangkah turun dari panggung setelah memberikan pidato singkat. Wanita itu anggun, mengenakan gaun beludru hitam yang elegan, rambutnya disanggul rapi, dan matanya memancarkan kecerdasan yang tajam.
Itu Arini. Istri yang dulu ia buang karena dianggap "tidak selevel".
Wisnu mencoba mendekat, menerobos kerumunan pengawal. "Arin! Arini!"
Langkah Arini terhenti. Ia menoleh, menatap Wisnu melalui kacamata hitamnya yang elegan. Tidak ada benci di matanya, hanya ada kekosongan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
"Mbak Arin, pria ini ingin bicara," ujar asisten Arini.
Arini tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Maaf, jadwal saya sangat padat. Dan saya tidak punya urusan dengan orang dari masa lalu yang sudah saya hapus dari buku kas saya."
"Arin, tolong... perusahaanku butuh bantuanmu. Aku khilaf dulu," rintih Wisnu.
Arini mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Wisnu yang membuat pria itu mematung.
"Kamu dulu bilang kita tidak selevel, Mas. Kamu benar. Levelku sekarang adalah level yang tidak akan pernah bisa kamu jangkau lagi. Selamat menikmati sisa kehancuranmu."
Arini berlalu, langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai aula, meninggalkan Wisnu yang berdiri mematung di tengah keramaian—sendirian, miskin, dan penuh penyesalan.