Di sebuah ruang tamu yang pengap oleh tumpukan barang yang tak kunjung dibereskan, Arini menatap layar laptopnya dengan mata pedih. Jarum jam menunjukkan pukul dua pagi. Di sebelahnya, secangkir kopi hitam yang sudah dingin menjadi saksi bisu ia sedang mengejar deadline laporan bulanan.
Di kamar sebelah, dengkur halus suaminya, Satria, terdengar begitu nyenyak. Satria sudah "dirumahkan" sejak dua tahun lalu—atau lebih tepatnya, ia berhenti mencari kerja setelah lamaran kelimanya ditolak, lalu memutuskan bahwa nasibnya memang bukan sebagai pekerja kantoran.
Namun, bukan hanya Satria yang menjadi beban di pundak Arini,melainkan adanya mertua dan ipar Arini yang menambah beban Arini.
Pintu depan terbuka dengan kasar pukul sepuluh pagi keesokan harinya. Tanpa mengetuk, mertua Arini, Bu Widya, masuk membawa tas belanjaan kosong. Di belakangnya, melangkah adik ipar Arini, Tiara, yang sibuk memoles kuku.
"Arin, beras di dapur habis ya? Ibu mau masak buat makan siang, sekalian buat Tiara. Kasihan dia tadi pagi belum sarapan," ujar Bu Widya tanpa basa-basi, langsung menuju dapur seolah itu adalah rumahnya sendiri.
Arini, yang baru saja hendak memulai rapat daring, menarik napas panjang. "Bu, Arin baru beli beras lima kilo lusa kemarin. Masa sudah habis?"
"Ya habis dong, Rin. Kemarin kan sepupu-sepupu Satria main ke sini, Ibu masakin mereka. Masa keluarga sendiri datang cuma dikasih air putih? Kamu jangan pelit-pelit sama keluarga suami, nggak berkah rezekinya," sahut Bu Widya enteng.
Tiara menimpali sambil menjatuhkan diri di sofa, "Mbak Arin, sekalian titip check-out keranjang belanjaanku ya? Cuma skin care kok, nggak sampai dua ratus ribu. Saldo e-wallet-ku kosong nih."
Sore harinya, Arini mencoba berbicara pada Satria. Ia berharap suaminya itu bisa sedikit memasang badan.
"Mas, aku capek. Gaji aku bulan ini lari ke cicilan motor Tiara, uang belanja Ibu, dan sekarang mereka minta lagi. Kamu kapan mau coba lamar kerja di pabrik depan itu? Mereka lagi buka lowongan."
Satria mengalihkan pandangan dari layar ponselnya—ia sedang asyik main game. "Arin, kamu kan tahu aku ini lulusan sarjana. Masa kerja jadi buruh pabrik? Jatuh harga diri aku. Lagipula, mereka itu keluarga kita. Kalau kita punya, ya kita bagi. Jangan perhitungan jadi istri."
"Kita punya karena aku yang kerja, Mas! Kamu cuma tidur dan main game!" suara Arini mulai meninggi.
"Nah, mulai lagi deh sombongnya," Satria memotong dengan nada santai tapi menyakitkan. "Ingat, surga istri itu di bawah kaki suami. Harusnya kamu bersyukur punya suami sabar kayak aku, yang nggak marah meski kamu bentak-bentak begini."
Arini terdiam. Bukan karena setuju, tapi karena ia sadar ia sedang berbicara dengan tembok yang dicat dengan dalil agama yang dipelintir.
Bom waktu itu akhirnya meledak saat Arini mendapati perhiasan peninggalan almarhumah ibunya hilang dari kotak rias.
"Ibu yang ambil?" tanya Arini dengan suara gemetar di depan mertuanya.
"Cuma pinjam, Rin. Buat bayar tunggakan cicilan motor Tiara. Daripada ditarik leasing, kan malu-maluin keluarga Satria," jawab Bu Widya tanpa rasa bersalah. "Nanti kalau Satria sudah sukses, juga diganti."
Arini menatap Satria yang hanya diam, pura-pura sibuk memperbaiki kipas angin yang sebenarnya tidak rusak. Tidak ada pembelaan. Tidak ada rasa malu. Saat itulah Arini menyadari: mereka bukan keluarga yang sedang kesulitan, mereka adalah parasit yang sudah menemukan inang yang terlalu baik.
"Keluar," kata Arini lirih.
"Apa kamu bilang?" Bu Widya berkacak pinggang.
"Keluar dari rumah ini. Mas Satria, bawa Ibu dan Tiara pergi. Rumah ini disewa atas nama aku, dengan uang aku. Silakan cari tempat lain di mana kalian bisa hidup tanpa harus jadi benalu."
Dan inilah Akhir yang Baru
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, rumah Arini terasa sepi. Sunyi yang aneh, tapi menenangkan. Tidak ada suara TV yang berisik, tidak ada sindiran mertua, dan tidak ada tuntutan adik ipar.
Arini duduk di meja makannya, menyesap teh hangat. Ia kehilangan suaminya, tapi ia menemukan kembali harga dirinya. Ia menyadari bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang terkuras habis sampai kering, dan "berbakti" tidak berarti membiarkan diri dieksploitasi.
Besok, ia akan mengganti ganti kunci pintu depan. Dan lusa, ia akan memulai hidupnya lagi—tanpa ada lagi benalu yang menghisap mimpinya.