Penulis Istiqomah: Kisah SMK Kelas 12
Di kamar sempit berwarna krem, aku menatap layar HP yang memerah karena memori penuh. Sebuah lembar kertas lusuh tergeletak di sampingnya, coretan kata-kata yang belum sempurna dan terasa berat. Uang saku hanya selembar 2000 rupiah, dan laptop yang ia impikan untuk menulis tidak pernah dimiliki.“Kenapa semua terasa begitu sulit?” gumamnya pelan, matanya menatap layar HP yang hampir tak bisa menampung lagi foto-foto tugas dan aplikasi belajar. Ia membayangkan masa depannya—membayar SPP, SPI, dan memiliki HP baru untuk ujian yang semakin dekat. Tapi semuanya terasa jauh, seperti mimpi di langit tinggi yang tak bisa dijangkau.Setiap kali mencoba menulis, jari-jarinya terhenti. Tulisan yang muncul selalu terasa salah, gagal memenuhi harapannya sendiri. Ambarawa hampir putus asa. Ia berpikir, mungkin ia tidak ditakdirkan menjadi penulis. Tapi ada sesuatu dalam hatinya yang tak bisa ia abaikan: keinginan untuk menulis, untuk mengubah kata menjadi cerita, meski dunia seolah menentangnya.
Malam itu, di meja belajar yang remang, ia menulis lagi. HP tua itu menjadi saksi perjuangannya. Meski memori penuh, meski layarnya sering mati sendiri, Ambarawa tetap menulis. Ia menuliskan tentang mimpi, tentang perjuangan, tentang ketakutannya, dan tentang harapannya. Setiap kata yang tercetak di layar kecil itu adalah bukti bahwa ia belum menyerah.Hari-hari berlalu, ujian semakin dekat, dan ia tetap menulis. Ia belajar bersabar dengan keterbatasan, belajar bersyukur atas setiap lembar kertas, setiap menit yang bisa ia gunakan untuk menulis. Meski tahun itu penuh kegagalan, Ambarawa menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada SPP yang terbayar atau HP baru: keberanian untuk terus mencoba, ketekunan yang tak mudah padam, dan keyakinan bahwa ia bisa menjadi penulis suatu hari nanti.
Di akhir tahun, ia menatap kembali coretan-coretan itu. Ia belum menjadi penulis terkenal, tapi ia telah menjadi penulis yang istiqomah—yang tetap menulis meski dunia berkata “tidak mungkin.” Dan itu, baginya, lebih dari cukup.Aku menatap layar HP yang hampir penuh memori. Sebuah lembar kertas lusuh tergeletak di sampingku, berisi coretan kata-kata yang belum sempurna. Uang saku hanya selembar 2000 rupiah, laptop yang kuimpikan untuk menulis pun hanya ada dalam angan.
“Kenapa semua terasa sulit?” gumamku pelan. Aku membayangkan masa depanku—SPP yang harus dibayar, SPI, dan HP baru untuk ujian yang semakin dekat. Tapi semuanya terasa jauh, seperti mimpi di langit tinggi yang tak bisa dijangkau.
Pagi itu, suara ayah terdengar dari ruang tamu:
“Uang ko cepat habis cuma buat beli kuota! Hemat lah!”Aku menarik napas panjang. Aku sudah sehemat mungkin. Kuota digunakan untuk belajar, mencari referensi menulis, dan bahkan menulis cerpen di HP. Tapi kata-kata itu terasa menusuk, menambah beban di hatiku.
Di kamar, kakakku masuk dengan wajah kesal.
“Kamu lagi pakai kuota terus, padahal sisa buat aku tinggal sedikit!” bentaknya.
Aku menghela napas lagi. Pertengkaran tentang uang dan kuota ini sudah sering terjadi. Aku ingin menjelaskan, tapi kata-kata tak keluar. Hati terasa sesak. Aku ingin menulis, ingin melarikan diri ke dunia kata-kata, tapi dunia nyata terus menekanku.Aku menarik napas panjang. Aku sudah sehemat mungkin. Kuota digunakan untuk belajar, mencari referensi menulis, dan bahkan menulis cerpen di HP. Tapi kata-kata itu terasa menusuk, menambah beban di hatiku.
Di kamar, kakakku masuk dengan wajah kesal.
“Kamu lagi pakai kuota terus, padahal sisa buat aku tinggal sedikit!” bentaknya.
Aku menghela napas lagi. Pertengkaran tentang uang dan kuota ini sudah sering terjadi. Aku ingin menjelaskan, tapi kata-kata tak keluar. Hati terasa sesak. Aku ingin menulis, ingin melarikan diri ke dunia kata-kata, tapi dunia nyata terus menekanku.Aku menarik napas panjang. Aku sudah sehemat mungkin. Kuota digunakan untuk belajar, mencari referensi menulis, dan bahkan menulis cerpen di HP. Tapi kata-kata itu terasa menusuk, menambah beban di hatiku.
Di kamar, kakakku masuk dengan wajah kesal.
“Kamu lagi pakai kuota terus, padahal sisa buat aku tinggal sedikit!” bentaknya.
Aku menghela napas lagi. Pertengkaran tentang uang dan kuota ini sudah sering terjadi. Aku ingin menjelaskan, tapi kata-kata tak keluar. Hati terasa sesak. Aku ingin menulis, ingin melarikan diri ke dunia kata-kata, tapi dunia nyata terus Malam itu, setelah rumah tenang, aku kembali duduk di meja belajar. HP tua itu menjadi saksi perjuanganku. Meski memori penuh, meski layar sering mati sendiri, aku tetap menulis. Kata demi kata tercetak di layar kecil itu—tentang mimpi, ketakutan, dan harapanku. Setiap huruf adalah bukti bahwa aku belum menyerah.Hari-hari berlalu, ujian semakin dekat, dan aku tetap menulis. Aku belajar bersabar dengan keterbatasan, bersyukur atas setiap lembar kertas, setiap menit yang bisa digunakan untuk menulis. Meski tahun itu penuh kegagalan, aku menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada uang atau HP baru: keberanian untuk terus mencoba, ketekunan yang tak mudah padam, dan keyakinan bahwa aku bisa menjadi penulis suatu hari nanti.
Di akhir tahun, aku menatap coretan-coretan itu dengan bangga. Aku belum menjadi penulis terkenal, tapi aku telah menjadi penulis yang istiqomah—tetap menulis meski dunia berkata “tidak mungkin.” Dan itu, bagiku, lebih dari cukup.