Apartemen di lantai tiga puluh enam itu selalu berbau sama: perpaduan antara lavender kering, obat-obatan mahal, dan debu yang tidak pernah benar-benar hilang meski disapu setiap jam. Bagi dunia luar, tempat ini adalah kuil suci milik Elara Vance, sang Diva Millennium yang suaranya pernah membuat satu benua menangis. Namun bagi Luna, apartemen ini hanyalah sebuah labirin sunyi yang menyimpan ribuan rahasia dalam bentuk piringan hitam dan kaset-kaset aneh.
Luna merapikan seragam caregiver-nya yang berwarna putih bersih. Di usianya yang baru dua puluh tahun, Luna memiliki ketenangan yang tidak wajar. Ia tidak banyak bicara, langkah kakinya hampir tak terdengar di atas karpet Persia yang tebal, dan matanya selalu bergerak waspada, mencatat setiap detail kecil di kamar Elara yang luas.
"Luna... apakah pertunjukannya sudah mulai?" suara serak itu memecah keheningan.
Luna menoleh. Di atas tempat tidur king-size dengan tiang-tiang ukiran emas, Elara Vance duduk bersandar. Wajahnya yang dulu memuja kecantikan kini dipenuhi garis-garis keriput, dan matanya yang legendaris itu tampak kosong, seolah jiwanya sedang terjebak di suatu tempat di tahun 1990-an.
"Belum, Madam," jawab Luna lembut sambil mendekat. Ia membawa nampan berisi segelas air dan beberapa butir pil penenang. "Malam ini tidak ada pertunjukan. Madam harus istirahat."
"Bohong," Elara mendesis, tiba-tiba tangannya yang kurus mencengkeram pergelangan tangan Luna. Kekuatannya mengejutkan. "Aku mendengar musiknya. Suara piano itu... dia memainkannya lagi. Di kamar sebelah. Kamu dengar, kan?"
Luna terdiam. Di kamar sebelah—ruang koleksi pribadi Elara yang terkunci rapat—hanya ada keheningan. Namun, di dunia Elara, musik itu tidak pernah berhenti. Itu adalah gejala demensia yang dialami sang diva, atau begitulah yang dikatakan dokter. Tapi Luna tahu lebih baik. Luna tahu bahwa apa yang didengar Elara bukan sekadar halusinasi, melainkan gema dari "kenangan" yang bocor dari kaset-kaset yang tersimpan di sana.
"Saya akan memeriksanya, Madam. Sekarang, minum obat ini dulu," Luna membujuk dengan suara yang mematikan saraf waspada siapa pun.
Setelah Elara tertidur pulas akibat pengaruh obat, Luna tidak langsung pergi ke kamarnya. Ia berdiri di depan pintu kayu jati besar yang memisahkan kamar tidur dengan ruang koleksi. Ia meraba saku roknya, mengeluarkan sebuah alat kecil yang tampak seperti walkman tua, namun dengan modifikasi kabel-kabel halus yang mencuat di sisinya.
Ini bukan alat medis. Ini adalah Memory Extractor.
Luna memasukkan kunci duplikat yang ia buat dengan susah payah selama tiga bulan bekerja di sini. Pintu terbuka dengan derit halus. Di dalam, pemandangannya luar biasa. Rak-rak kaca setinggi langit-langit berjejer, berisi ribuan kaset memori yang berkilauan di bawah cahaya lampu remang-remang. Kaset-kaset itu bukan berisi lagu, melainkan fragmen hidup manusia yang dikonversi menjadi data audio-visual.
Kaset-kaset itu berlabel rapi: Konser di Paris 1995, Penghargaan Grammy Pertama, Pernikahan dengan Julian (Gagal).
Luna mengabaikan kaset-kaset megah itu. Ia berjalan ke sudut paling gelap di ruangan itu, sebuah laci kecil yang tidak memiliki label. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Di dalamnya hanya ada satu kaset berwarna hitam legam tanpa tulisan apa pun.
"Ketemu," bisik Luna.
Ia memasukkan kaset itu ke dalam alatnya dan memasang earphone. Saat tombol play ditekan, dunia di sekitarnya seolah memudar. Luna tidak lagi berada di apartemen mewah. Ia melihat melalui mata seseorang—mata Elara muda.
Dalam kenangan itu, Elara sedang berdiri di sebuah ruang ganti yang kumuh, jauh dari kemewahan. Ia sedang menangis, memeluk seorang bayi yang terbungkus kain lusuh. Di depannya, seorang pria dengan wajah yang sangat dikenali Luna sedang membujuknya.
"Buang bayi itu, Elara. Kalau publik tahu kamu punya anak di luar nikah sekarang, karirmu hancur. Pikirkan kontrak kita!" suara pria itu terdengar tajam.
"Tapi dia anakku, Adrian! Dia darah dagingku!" Elara berteriak dalam kenangan itu.
Luna memejamkan mata. Rasa panas menjalar di dadanya. Pria itu—Adrian—adalah ayahnya. Pria yang menghabiskan sisa hidupnya dalam kemiskinan dan penyesalan, selalu menggumamkan nama Elara sebelum meninggal dunia dalam kecelakaan tragis.
Luna mencabut kabelnya saat mendengar suara langkah kaki di luar. Ia segera menyembunyikan kaset itu ke dalam saku tersembunyinya. Ia harus bergerak cepat. Elara bukan hanya pasien yang harus ia rawat. Elara adalah kepingan teka-teki mengapa hidup Luna hancur sejak lahir.
Saat Luna keluar dari ruangan itu, ia berpapasan dengan bayangannya sendiri di cermin besar koridor. Ia melihat seorang gadis muda yang cantik namun tampak hancur di dalam. Ia menyadari satu hal: ia tidak hanya mencuri kenangan. Ia sedang mengambil kembali bagian dari dirinya yang telah dicuri oleh ambisi sang diva bertahun-tahun lalu.