Di sebuah pohon mangga yang rindang, hiduplah seekor ulat kecil berwarna hijau bernama Lilo. Ia tinggal di balik daun yang lebar dan setiap hari makan dengan lahap.
Lilo sangat bangga pada tubuhnya yang gemuk dan segar.
“Aku ini calon kupu-kupu indah,” katanya pada semut yang lewat. “Suatu hari nanti aku akan punya sayap cantik.”
Semut hanya tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Suatu pagi, ketika matahari baru naik dan embun masih menempel di daun, datanglah seekor burung pipit. Burung itu hinggap di dahan dan mulai mencari sarapan.
Mata burung itu tajam. Tak lama, ia melihat Lilo yang sedang asyik makan daun.
“Ah, sarapan segar,” gumam burung.
Saat paruhnya hampir menyentuh tubuh Lilo, ulat itu berteriak,
“Hei! Tunggu! Jangan makan aku!”
Burung terkejut. “Lho? Ulat bisa bicara?”
“Tentu saja bisa!” kata Lilo kesal. “Kenapa kau mau memakanku? Aku tidak pernah mengganggumu!”
Burung itu menggeleng pelan. “Aku makan untuk bertahan hidup. Anakku di sarang menunggu makanan.”
Lilo mendengus. “Tapi aku juga ingin hidup! Aku ingin jadi kupu-kupu!”
Burung terdiam sejenak. Angin pagi berembus pelan menggoyangkan daun.
“Kau ingin hidup. Aku juga. Anak-anakku pun ingin hidup,” jawab burung lembut. “Di hutan ini, setiap makhluk saling bergantung.”
Lilo mulai merasa takut. “Jadi… aku memang harus dimakan?”
Burung mengamati tubuh Lilo yang masih kecil. “Belum hari ini,” katanya akhirnya. “Kau masih terlalu kecil. Carilah tempat aman. Cepatlah tumbuh dan bersembunyilah jika ingin selamat.”
Lilo tak menyangka akan diberi kesempatan. Ia segera merayap ke balik daun yang lebih rapat.
Sejak hari itu, Lilo tidak lagi sombong. Ia sadar hidup di alam bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ia makan secukupnya dan mulai mencari tempat yang aman untuk membentuk kepompong.
Beberapa minggu kemudian, seekor kupu-kupu cantik berwarna kuning keluar dari kepompong di dahan yang sama.
Burung pipit yang pernah hampir memakannya melihat kupu-kupu itu terbang.
“Ah, jadi kau berhasil,” gumam burung.
Kupu-kupu itu terbang mengelilingi pohon sebentar, lalu hinggap jauh dari jangkauan paruh burung. Ia kini bisa menjaga dirinya sendiri.
Sejak saat itu, Lilo mengerti bahwa protesnya dulu lahir dari rasa takut. Namun ia juga belajar bahwa kehidupan di alam berjalan dengan keseimbangan. Setiap makhluk punya perannya masing-masing.
Dalam kehidupan, setiap makhluk berjuang untuk bertahan hidup. Daripada hanya marah, lebih baik belajar memahami dan menjadi lebih bijak menghadapi kenyataan.
Tamat.