Suara palu terdengar bertalu-talu.
“Wah, baru pindah ya?” sapa tetangga.
“Iya, Bu.”
Tak lama, ayah menghela napas. “Kayunya kurang.”
“Papa dengar ada usaha kayu dekat hutan,” tambahnya.
“Tapi kalau Papa yang pergi nanti malah ngobrol lama. Lebih baik Hera dan Ken saja.”
“Dekat hutan?” Hera langsung teringat pembicaraan semalam.
“Ambil kayunya lalu langsung pulang. Jangan mendekat ke hutan, ya.”
“Baik.”
Di ujung desa, usaha kayu itu berdiri tak jauh dari garis pepohonan lebat.
“Pak, saya butuh papan kayu segini. Pembayarannya nanti diantar ke rumah kami di samping”
“Oh iya, bawa dulu ini.”
Hera mengangguk, tapi pandangannya tertarik pada hutan di belakang.
“Anak itu sudah tahu kan soal hutan?” bisik salah satu pria.
“Sudah. Pak RT sendiri yang memperingatkan.”
Hera menelan ludah.
(Hutan itu yang katanya nggak boleh didekati…)
Namun anehnya, ada sesuatu yang terasa… memanggil.
Ia melangkah perlahan.
“Kenapa aku nggak bisa berhenti…?”
Satu langkah lagi.
Tiba-tiba
“NAK!!!” teriak salah satu bapak.
“APA?!” Hera tersentak.
Namun satu kakinya sudah melewati batas pepohonan.
Sekejap.
Dunia berubah.
Di antara bayang-bayang pepohonan, Hera melihat barisan prajurit bertubuh kekar berdiri rapi. Mata mereka… ungu. Tajam. Ganas.
“Sial! Aku nggak mau mati!”
Ia berlari secepat mungkin kembali ke desa. Para bapak hanya memandang heran—mereka tak melihat apa pun.
Sampai di rumah, tubuhnya gemetar hebat.
Sore tiba.
Rumah hampir selesai. Semuanya tampak normal.
Hera mulai merasa mungkin pagi tadi hanya halusinasi.
Namun saat ia keluar untuk mencari udara
Ia membeku.
Beberapa pria besar bermata ungu berdiri di belakang seorang pemuda tampan dengan senyum manis.
Hera segera bersembunyi di balik tembok.
“Aku kemari bermaksud meminang anak gadismu, Hera,” ujar pemuda itu lembut, seolah sudah mengenalnya lama.
(Apa? Jadi mereka bukan mau membunuhku… tapi menikahiku?)
Panik menguasainya.
Hera berlari lewat pintu belakang menuju kota.
Namun dunia mendadak sunyi.
Tak ada orang. Tak ada suara. Ayah, ibu, Ken—semuanya menghilang.
Ia kembali ke rumah. Kosong.
Tubuhnya terasa ringan. Ia bisa berlari jauh lebih cepat. Tapi suaranya tak keluar—tercekik ketakutan.
Ia sampai di sebuah sekolah. Anak-anak terlihat di dalam kelas, tapi suasananya terasa asing.
Hera bersembunyi di bawah meja.
Rombongan itu muncul lagi.
“Aku tak akan menyakitimu,” ujar pemuda tampan itu. “Asal kau menikah denganku dengan sukarela.”
Hera tak menjawab. Ia menunggu celah.
Begitu ada kesempatan, ia berlari lagi. Masuk ke sebuah studio seni penuh karya aneh dan indah.
Namun kali ini tubuhnya terasa dikendalikan. Gerakannya melambat.
Saat pria itu hampir menyentuhnya
Tiba-tiba kendali itu lepas.
Hera berlari kembali. Bersembunyi di balik pintu rumah yang ia anggap aman.
Pintu dibuka.
Mereka terkejut.
Seorang mengintip jendela. Hera mencoba kabur
Namun ajudan kurus pemuda itu menahan tangannya.
Ia dibawa masuk ke dalam mobil, duduk di samping pemuda tampan itu.
“Kita selesaikan dari yang terakhir kali, Hera,” suaranya merendah.
Pandangan Hera menggelap.
Dan semuanya… menjadi hitam.
Tamat.