“Ini uangnya.”
Tanganku menyerahkan lembaran itu dengan cepat sebelum aku berbalik dan turun dari mobil. Pintu tertutup. Mesin menderu pelan, lalu kendaraan hitam itu meluncur pergi meninggalkanku.
Aku berdiri beberapa detik, mencoba mengumpulkan fokus.
Aduh… kepalaku.
Pandangan terasa berputar. Aku memijat pelipis, menarik napas dalam-dalam.
“Ini di mana…?”
Mataku menyapu sekitar. Jalan aspalnya lebar sekali—terlalu lebar untuk kota kecil yang biasa kulihat. Di kanan-kiri, deretan pohon besar menjulang rapi, sementara bangunan bertingkat berdiri megah di kejauhan.
“Apa-apaan ini…?”
Tiba-tiba telingaku berdenging.
Ngiiing—
Aku meringis.
“Teresa?!”
Suara laki-laki itu terdengar dari belakang.
Aku menoleh cepat. “Siapa—?”
Belum sempat berpikir, dalam satu kedipan mata sosok itu sudah berdiri tepat di depanku.
“Terlalu jauh untuk kabur,” katanya dingin, lalu tangannya mencengkeram pergelangan tanganku.
Aku tertegun.
Ya Tuhan… dia ganteng banget.
Wajahnya tegas, rahangnya tajam, matanya tajam tapi dalam. Untuk sepersekian detik, otakku malah sibuk mengagumi.
Tapi kenapa… bulu kudukku berdiri?
Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku merinding.
“Lepasin!” Aku berusaha menghempaskan tangannya, tapi cengkeramannya kuat sekali.
Jangan-jangan… gue mau diculik? Atau lebih parah lagi?!
Panik mulai menguasai.
Gue harus kabur.
Tanpa pikir panjang, aku membungkuk dan menggigit tangannya sekuat tenaga.
“Ahh!” Dia meringis kesakitan dan refleks melepaskanku.
Ini kesempatan!
Aku langsung berbalik dan berlari secepat mungkin. Napasku memburu, jantungku berdebar tak karuan.
Aku harus cari tempat sembunyi. Sekarang.
Jangan sampai dia menangkapku lagi.
Tapi siapa dia?