Lampu-lampu kristal setinggi tiga meter menggantung megah di langit-langit gedung pertemuan mewah itu. Malam ini, Jakarta seolah berhenti berputar hanya untuk merayakan hari jadi pernikahan putri tunggal Jenderal Baskoro. Wangi parfum mahal menyeruak di antara jas-jas bermerek dan gaun sutra yang harganya setara dengan hasil panen satu desa selama setahun.
Di luar gerbang, seorang pria berdiri diam. Namanya Bima. Ia mengenakan jaket kulit yang sudah pecah-pecah permukaannya dan celana kain yang warnanya sudah pudar. Sepatu botnya berlumur tanah, sangat kontras dengan deretan mobil mewah yang mengkilap di sekitarnya.
Sepuluh tahun. Itulah waktu yang dihabiskan Bima di dalam sel gelap penjara Nusakambangan. Sepuluh tahun ia menelan pahitnya dikhianati, dituduh sebagai pengedar narkoba kelas kakap, padahal ia hanyalah seorang sopir pribadi yang terlalu banyak tahu.
Bima melangkah masuk. Para penjaga berseragam safari mencoba menghadangnya, namun Bima menunjukkan sebuah undangan berwarna emas yang sudah agak lecek. "Aku tamu istimewa Jenderal," ucapnya dingin.
Saat ia memasuki aula, percakapan hangat tiba-tiba terhenti. Ratusan pasang mata menatapnya dengan jijik. Di pelaminan, seorang wanita cantik dengan gaun pengantin bertahtakan berlian mematung. Itu adalah Siska, putri Jenderal Baskoro, sekaligus wanita yang sepuluh tahun lalu berjanji akan menunggu Bima, namun justru menjadi orang pertama yang meludahinya saat polisi memborgol tangannya.
"Siapa yang membiarkan sampah ini masuk?" Suara bariton itu menggema. Jenderal Baskoro melangkah turun dari pelaminan dengan gagah. Tanda pangkat di bahunya berkilau sombong.
"Hanya ingin memberikan selamat, Jenderal," ucap Bima datar.
"Selamat?" Baskoro tertawa meremehkan. Ia mengambil segelas wine merah, lalu tanpa ragu menyiramkannya ke wajah Bima. "Narapidana sepertimu tidak pantas menginjakkan kaki di sini. Kamu tahu kenapa kamu bisa keluar? Karena aku ingin kamu melihat betapa tingginya aku sekarang, dan betapa rendahnya kamu di bawah telapak kakiku!"
Siska berjalan mendekat, menggandeng suaminya yang juga seorang pejabat muda. Ia menatap Bima dengan pandangan merendah. "Bima, jangan bikin malu. Kamu itu cuma sopir yang beruntung pernah aku sukai. Sekarang lihat, suamiku adalah calon orang kuat di negeri ini. Pergi sana, sebelum petugas menyeretmu keluar seperti anjing kurap!"
Bima menyeka wine dari wajahnya dengan punggung tangan. Ia tidak marah. Ia justru tersenyum—sebuah senyum yang membuat Baskoro merasa sedikit merinding.
"Jenderal, Anda ingat kasus hilangnya dana bantuan desa sepuluh tahun lalu? Kasus yang katanya 'dirampok' di jalan saat aku yang menyetir?" tanya Bima pelan, namun suaranya entah bagaimana terdengar jelas di seluruh ruangan.
Wajah Baskoro sedikit berubah, namun ia segera menutupi rasa kagetnya. "Diam kamu! Kasus itu sudah selesai. Kamu pelakunya, dan kamu sudah dihukum!"
"Benar. Kasus itu sudah 'selesai' di mata hukum karena Anda yang mengatur hukumnya," lanjut Bima. "Masyarakat desa di kampungku mati kelaparan karena uang sumbangan itu Anda ambil untuk membiayai kampanye Anda. Anda mengorbankan aku, sopir setia Anda, demi kursi yang Anda duduki sekarang."
"Usir dia! Sekarang!" teriak Baskoro panik.
Beberapa pengawal bertubuh besar merangsek maju. Mereka mengira Bima hanyalah orang desa yang lemah. Namun, saat tangan pertama mencoba mencengkeram bahunya, Bima bergerak secepat kilat. Hanya dengan satu gerakan tangan yang efisien, pengawal itu tersungkur dengan tulang kering yang berderak. Bima bukan sekadar sopir; di penjara, ia belajar bertahan hidup dari para petarung paling bengis.
"Jangan buru-buru, Jenderal," Bima merogoh kantong jaketnya, mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam. "Anda pikir selama sepuluh tahun aku hanya diam meratapi nasib? Anda lupa siapa yang memasang kamera pengawas di ruang kerja rahasia Anda? Anda lupa siapa yang mencuci mobil Anda saat Anda membicarakan proyek fiktif di kursi belakang?"
Bima berjalan menuju meja operator yang mengendalikan layar raksasa di belakang pelaminan. Para tamu mulai berbisik-bisik ketakutan.
"Bima! Berhenti! Aku bisa berikan apa saja! Uang? Jabatan? Sebutkan!" teriak Baskoro, kini suaranya gemetar.
Bima berhenti sejenak, menatap kerumunan orang-orang kaya yang selama ini menutup mata atas penderitaan orang kecil. "Uang Anda tidak bisa menghidupkan kembali Ibuku yang meninggal karena tidak punya biaya rumah sakit saat aku di penjara. Uang Anda tidak bisa menebus sepuluh tahun hidupku yang hilang."
Klik.
Layar raksasa di belakang pengantin itu tiba-tiba menyala. Bukan lagi menampilkan foto romantis Siska dan suaminya, melainkan sebuah rekaman video mentah dengan sudut pandang dari bawah meja.
Di video itu, terlihat Jenderal Baskoro sedang duduk bersama beberapa pria berpakaian rapi. Mereka sedang menghitung tumpukan uang tunai di atas meja.
"Ini bagian untuk mengubur saksi kasus tambang itu. Pastikan sopir saya, si Bima, yang membawa tasnya. Setelah itu, panggil polisi. Biarkan dia yang membusuk di penjara," suara Baskoro di rekaman itu terdengar sangat jernih.
Suasana aula mendadak sunyi senyap, sesunyi kuburan.
Video berganti. Kali ini menampilkan dokumen-dokumen rahasia tentang aliran dana proyek bendungan di desa-desa terpencil yang anggarannya dipotong hingga 80 persen, mengakibatkan bendungan itu runtuh dan menewaskan puluhan warga desa setahun yang lalu. Semua bukti, semua tanda tangan, semua percakapan busuk itu terpampang nyata.
"Tuhan tidak tidur, Jenderal. Anda bisa menutup mulut hukum, Anda bisa menyuap hakim, tapi Anda tidak bisa menghapus jejak digital yang aku simpan selama sepuluh tahun," ujar Bima.
Di luar gedung, sirine mobil polisi militer dan KPK mulai terdengar bersahut-sahutan. Bima ternyata sudah mengirimkan salinan bukti-bukti itu ke pusat sejam sebelum ia datang ke pesta. Ia sengaja datang hanya untuk melihat wajah kehancuran sang majikan secara langsung.
Siska menangis histeris, gaun pengantinnya yang mahal kini tampak seperti kain kafan bagi masa depannya. Suaminya yang pejabat muda itu langsung menjauh, mencoba menyelamatkan diri sendiri namun tangannya langsung diborgol oleh petugas yang merangsek masuk.
Jenderal Baskoro jatuh terduduk di kursi pelaminan. Semua kekuasaannya, semua pangkatnya, semua harta yang ia kumpulkan dari keringat rakyat desa, runtuh dalam hitungan menit di tangan seorang pria yang dulu ia sebut "sopir rendahan".
Bima berjalan mendekati Baskoro yang sudah lunglai. Ia mengeluarkan sebuah koin seribu rupiah dari kantongnya, lalu meletakkannya di atas meja depan sang Jenderal.
"Dulu, Anda sering melempar koin ini ke lantai jika aku telat menjemput Anda. Sekarang, ambillah. Ini adalah harga diri Anda yang tersisa," ucap Bima dingin.
Bima berbalik dan melangkah keluar dari gedung itu. Di pintu keluar, ia menghirup udara malam dengan lega. Udara kebebasan yang sesungguhnya. Ia tahu, setelah ini berita akan meledak. Rakyat di desa-desa yang selama ini ditindas akan tahu siapa pencuri sebenarnya.
Ia tidak butuh harta Baskoro. Ia tidak butuh jabatan. Baginya, melihat keadilan tegak dan melihat orang-orang sombong itu memakai baju tahanan oranye adalah kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Bima terus berjalan, meninggalkan kemewahan palsu itu di belakangnya. Di kejauhan, fajar mulai menyingsing di cakrawala Jakarta. Bagi Bima, esok bukan lagi tentang melayani majikan yang busuk, tapi tentang memulai hidup baru sebagai manusia merdeka yang telah melunasi dendamnya dengan cara yang paling terhormat.
Satu per satu, para pejabat itu diseret keluar dengan kepala tertunduk. Media massa mengerumuni mereka seperti lalat. Bima menghilang di kegelapan malam, kembali ke desa kecilnya untuk bersujud di makam ibunya dan berkata, "Ibu, keadilan sudah lunas!"