Di Pelabuhan Marunda, ada satu dermaga tua yang selalu sepi, dikenal warga sebagai "Dermaga Hitam". Di sana, dua bangkai kapal karatan mengambang seperti mayat yang tak pernah dikubur. Tak ada yang berani mendekat, apalagi menyentuhnya. Bukan karena takut hantu, tapi karena sejarahnya... sejarah yang pelan-pelan dilupakan atau sengaja dihapus.
Tahun 1997, dua kapal tongkang besar milik perusahaan logistik laut PT. Tirana Jwalita berangkat dari pelabuhan itu, mengangkut muatan besi tua dan bahan industri dari Kalimantan menuju Batam. Nama kapal-kapal itu: Kapal Rimba Laut dan Kapal Sembilang. Keduanya berangkat dalam cuaca tenang, dengan 28 awak gabungan. Mereka dijadwalkan tiba 9 hari kemudian.
Namun hari kesembilan berlalu tanpa kabar.
Hari kesepuluh, radio terakhir sempat menangkap sinyal statis aneh dari arah Laut Natuna. Seseorang, dengan suara tercekat, hanya berkata satu kalimat:
"Kami melihat kapal yang sama persis dengan milik kami... Tapi tak ada awaknya."
Setelah itu hening.
Pencarian besar-besaran digelar. Tidak ditemukan bangkai, tidak juga sinyal darurat. Kedua kapal itu menghilang begitu saja. PT. Tirana Jwalita bangkrut setahun kemudian. Warga menyebut kejadian ini "Kutukan Laut Kembar", karena dua kapal itu dibangun dari cetakan yang sama kembar identik.
Dua puluh tiga tahun kemudian, tepat di bulan yang sama, tanpa peringatan, dua kapal rusak parah tiba-tiba muncul kembali di Dermaga Hitam. Karatan. Tak ada awak. Tak ada catatan. Tak ada penampakan mereka oleh radar pelabuhan. Hanya muncul begitu saja, dalam semalam.
"Kapal itu sudah seperti hantu: lambung terbuka, beberapa bagian hangus seperti terbakar dari dalam. Anehnya, semua muatan masih ada, nyaris tak tersentuh waktu. Tapi lebih aneh lagi: di salah satu ruang kemudi, ditemukan catatan harian yang masih utuh, tertulis dengan tulisan tangan:
'Hari ke-14. Kami tidak
tahu ini laut mana. Kompas tidak bergerak. Langit tak pernah terang. Tapi kami lihat kapal lain, sama persis... Tapi kami tahu itu bukan kami. Mereka melihat kami juga. Tapi mereka... meniru gerakan kami. Seperti cermin. Tapi bukan cermin. Mereka mengikuti tapi lebih cepat. Kami merasa... mereka akan menggantikan kami.'"
Dan ketika tim penyelam dikirim untuk menyelidiki dasar laut di titik itu, mereka hanya sempat mengirim 1 gambar sebelum sinyal terputus dua kapal kembar, berdampingan, tapi tidak tenggelam... Mengambang diam di kedalaman,bersih, tanpa karat, seolah Baru berangkat kemarin.
Entah apa yang kembali ke dermaga itu sekarang.
Tapi satu hal pasti:
"Itu bukan kapal kita."
.....
[Cerita 100% fiksi , pelabuhan Marunda itu ada, namun kapal dan ceritanya itu fiksi]