Rumah di Jalan Teratai itu dulunya adalah sebuah pelukan. Dinding-dindingnya yang kokoh menyimpan aroma kayu manis dan doa-doa Mami yang tak putus. Namun, setahun terakhir, rumah itu berubah menjadi kerongkongan raksasa yang siap menelan kami bulat-bulat. Kebahagiaan kami membusuk, menyisakan bau anyir yang menyeruak dari balik pintu kamar Mami yang selalu terkunci.
Mami bukan lagi wanita ningrat yang lembut. Dia telah menjadi entitas asing. Sejak penyakit yang tak punya nama itu datang, Mami berubah menjadi bayangan. Kulitnya yang dulu sewarna gading, kini serupa kertas perkamen tua yang melapuk, dengan urat-urat hitam menonjol seperti akar pohon terkutuk yang merambat mencari mangsa.
"Santi," panggil Rian suatu malam. Suaranya hanya berupa bisikan, seolah-olah dinding rumah ini punya telinga. "Kau dengar tidak? Di balik dinding kamar Mami."
Aku memasang telinga. Suara itu bukan tikus. Itu adalah suara kuku yang menggaruk kayu—ritmis, konstan, dan penuh nafsu. Setiap jam dua pagi, saat dunia sedang lelap-lelapnya, rumah ini justru terbangun.
"Bukan hanya itu," sela Siska, adik bungsuku yang kian hari kian kurus. "Aku melihat Mami di dapur semalam. Tanpa lampu. Dia memakan daging mentah dengan cara yang... bukan cara manusia. Matanya melotot, tapi pupilnya kosong."
Ketakutan kami mencapai puncaknya saat Tuan Broto mulai sering datang. Pria itu adalah anomali; perawakannya kecil, namun auranya mampu memadamkan cahaya di sekitarnya. Dia mengaku sebagai sepupu jauh, namun kehadirannya lebih menyerupai seorang penjaga gerbang neraka.
"Mami kalian sedang menjalani pembersihan," ucap Tuan Broto dengan suara serak, seolah kerongkongannya dipenuhi kerikil tajam. "Jangan campuri urusannya, atau kalian akan menarik paksa kutukan itu ke diri kalian sendiri sebelum waktunya."
"Kutukan apa?" tuntut Rian.
Tuan Broto tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. "Kutukan kesetiaan. Kalian pikir karir kalian yang melesat itu gratis? Ada harga yang dibayar dengan daging dan darah. Mami kalian adalah inangnya."
Memasuki bulan-bulan terakhir, penderitaan Mami menjadi pertunjukan horor yang tak sanggup kami saksikan namun tak bisa kami tinggalkan. Mami menolak semua jarum medis. Dia menyebutnya "pasak setan". Dia lebih memilih dikelilingi kepulan kemenyan dan rapalan mantra Tuan Broto yang terdengar seperti desisan ribuan ular.
Kematian Mami tidak datang dengan tenang. Malam itu, Jakarta diguyur hujan yang seolah ingin menghanyutkan seluruh dosa kota ini. Petir menyambar, menerangi wajah Mami yang kaku di atas ranjang. Tubuhnya melengkung ke atas—sebuah busur manusia yang mustahil—hingga tulang punggungnya berderak patah. Krak.
"Mami!" Siska menjerit histeris.
Dari lubang telinga, hidung, dan mulut Mami, mulai merembes cairan hitam kental yang bergerak-gerak. Itu bukan darah. Itu adalah kehidupan lain yang sedang berdesakan ingin keluar. Mami menatap kami untuk terakhir kalinya, sudut bibirnya robek membentuk senyuman mengerikan saat dia membisikkan kata terakhirnya: "Perjamuan... selesai."
Lalu, tubuh itu jatuh terkulai, serupa karung kosong yang isinya telah tumpah.
Setelah jasad Mami dibawa dengan kain kafan yang langsung menghitam terserap cairan misterius itu, kami bertiga duduk bersimpuh di kamarnya. Sesuai wasiat, Rian menarik sebuah peti kayu kecil dari bawah ranjang. Gemboknya patah, menyingkap rahasia yang selama ini Mami kunci rapat-rapat.
Di dalamnya hanya ada selembar kertas tua dan sebuah cermin antik berbingkai perak yang permukaannya tampak bergetar.
Aku membaca kertas itu dengan suara yang gemetar hebat:
"Anak-anakku... Mami tidak pernah ikut sekte untuk harta. Mami menjadikan tubuh Mami sebagai penjara bagi mereka agar tidak memangsa kalian. Mami adalah tumbal terakhir dari kutukan keluarga Papi kalian. Sekarang, dengan kematianku, kalian bebas."
Tangis kami pecah. Rasa bersalah menghujam jantung kami. Mami adalah martir. Dia membiarkan dirinya digerogoti demi masa depan kami. Kami saling berpelukan, meratapi pengorbanan suci yang dibungkus dalam kengerian itu.
Namun, tangis Siska tiba-tiba terhenti. Dia menatap ke arah cermin antik di dalam peti itu dengan mata yang kehilangan cahaya.
"Kak... lihat pantulan kita," bisiknya parau.
Aku dan Rian menoleh ke cermin itu. Dunia seolah berhenti berputar. Di dalam cermin, kami tidak melihat wajah kami yang penuh air mata. Kami melihat tiga sosok makhluk dengan kulit kelabu yang mulai membusuk, urat-urat hitam yang menjalar ke leher, dan mata yang mulai kehilangan pupil.
Kami meraba wajah kami. Terasa licin dan basah. Di bawah kulit kami, sesuatu mulai bergerak-gerak, menari-nari dengan lincah, mencari jalan untuk keluar.
Mami tidak pernah memenjarakan kutukan itu. Dia hanya menjadi inkubator, tempat persemaian yang hangat hingga kami cukup dewasa untuk mengambil alih peran itu. Surat itu adalah dusta terakhir untuk memastikan kami tetap berada di rumah ini sampai waktu menetas tiba.
Ternyata, kutukan itu tidak mati bersama Mami; Mami bukan akhir, dia adalah permulaan, dan kamilah perjamuan yang sesungguhnya.