Rumah di Jalan Teratai itu dulunya adalah tempat paling hangat di Jakarta Selatan. Mami, dengan daster batiknya dan wangi minyak kayu putih yang khas, selalu punya cara untuk meredam badai apa pun. Tapi itu dulu. Sebelum penyakit itu datang. Bukan penyakit yang terdaftar di buku medis, melainkan sesuatu yang menggerogoti jiwanya lebih dulu sebelum menghisap daging dari tulangnya.
"Santi, jangan lupa ganti air kompres Mami," suara Siska, adik bungsuku, memecah lamunan.
Aku mengangguk lesu. Di tanganku, baskom plastik berisi air hangat terasa berat, seberat suasana rumah ini setahun terakhir. Kami bertiga—aku, Rian, dan Siska—sudah sepakat untuk berhenti bekerja secara penuh demi merawat Mami. Papi sudah tiada lima tahun lalu, dan Mami adalah segalanya bagi kami.
Namun, Mami yang sekarang bukan lagi Mami yang kami kenal.
Saat aku membuka pintu kamarnya, bau itu langsung menghantam hidungku. Bau amis yang bercampur dengan aroma melati yang terlalu kuat hingga memualkan. Kamar itu gelap gulita. Mami selalu marah jika gorden dibuka. Dia bilang cahaya matahari membuat kulitnya terasa terbakar.
"Mami?" bisikku pelan.
Di atas ranjang besar itu, sesosok tubuh yang tinggal kulit membungkus tulang terbaring kaku. Kulit Mami yang dulu kuning langsat kini berubah menjadi kelabu, dengan urat-urat hitam yang menonjol seperti akar pohon yang merambat di bawah permukaan kulitnya. Yang paling mengerikan adalah tatapannya. Matanya selalu terbuka lebar, menatap sudut langit-langit kamar yang kosong, seolah ada sesuatu yang sedang bertengger di sana.
"Santi... sudah Selasa?" suara Mami parau, lebih mirip suara gesekan amplas di kayu daripada suara manusia.
"Iya, Mi. Ini malam Selasa," jawabku sambil memeras kain kompres.
Mami tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku. Tenaganya luar biasa kuat untuk seseorang yang tidak makan selama dua minggu. "Kunci pintu depan. Jangan biarkan siapapun masuk kecuali mereka yang memakai tanda. Dan ingat... jangan sekali-kali kalian menyentuh peti di bawah ranjangku sebelum napas terakhirku hilang."
Aku bergidik. Ini ritual yang sama setiap Selasa dan Jumat. Mami akan mengunci diri. Kami akan mendengar suara musik aneh—bukan jazz, bukan klasik—tapi suara dentuman kayu dan gumaman ribuan suara yang tumpang tindih dari dalam kamarnya yang tertutup rapat.
Rian, adik laki-lakiku yang paling logis, pernah mencoba mendobrak pintu itu bulan lalu. Dia yakin Mami ikut sekte sesat atau semacamnya karena sering melihat Mami bicara sendiri pada bayangan di cermin. Tapi malam itu, Rian malah jatuh pingsan di depan pintu dengan lebam kebiruan di sekujur lehernya, seolah ada tangan tak terlihat yang mencekiknya. Sejak saat itu, kami tidak lagi berani melawan perintah Mami.
Kesehatan Mami menurun secara drastis dalam skala jam, bukan lagi hari. Malam itu, di bawah guyuran hujan badai, Mami mulai kejang. Tubuhnya melengkung ke atas, tulang punggungnya berbunyi krak yang sangat keras, seolah dipaksa patah dari dalam. Matanya melotot, pupilnya hilang, menyisakan bagian putih yang memerah karena pembuluh darah yang pecah.
"Mami! Mami bertahan!" teriak Siska histeris.
Kami mencoba memegang tangan dan kakinya, tapi kulit Mami terasa panas membara, seolah ada api yang menyala di dalam darahnya. Dia membisikkan satu kata terakhir yang membuat bulu kuduk kami berdiri: "Perjamuan... dimulai."
Lalu, tubuh itu jatuh terkulai. Napasnya berhenti. Tapi yang membuat kami menjerit bukan karena kematiannya, melainkan karena dari lubang telinga, hidung, dan mulut Mami, mulai merayap keluar ribuan ulat berwarna hitam legam dengan kepala merah darah.
Setelah jasad Mami dibawa dengan kain kafan yang basah oleh cairan hitam rembesan dari tubuhnya, kami bertiga duduk bersimpuh di lantai kamar yang kosong itu. Rasa sedih kami tertutup oleh rasa ngeri yang tak terlukiskan. Sesuai janji, Rian menarik peti kayu kecil dari bawah ranjang Mami.
Gemboknya patah dengan sekali sentakan. Kami berharap menemukan jawaban mengapa Mami harus menderita seperti ini. Mungkin dia berhutang pada rentenir gaib, atau mungkin dia menukar jiwanya demi kesuksesan kami bertiga yang memang karirnya melesat tajam dalam setahun ini.
Di dalam peti itu, hanya ada satu cermin antik berbingkai perak dan selembar kertas tua yang tintanya seolah ditulis dengan darah kering.
Santi mengambil kertas itu dan membacanya keras-keras dengan suara bergetar:
"Untuk anak-anakku tercinta... maafkan Mami. Mami tidak pernah ikut sekte untuk kekayaan. Mami justru menyerahkan tubuh Mami sebagai penjara bagi mereka agar tidak memangsa kalian. Mami adalah tumbal terakhir dari kutukan keluarga Papi kalian, dan sekarang, dengan kematianku yang mengenaskan ini, kalian bebas."
Kami terdiam. Jadi Mami menderita demi melindungi kami? Air mata mulai jatuh. Kami merasa bersalah karena telah berprasangka buruk. Tapi Siska, yang sedang menatap ke arah cermin antik di dalam peti, tiba-tiba mematung. Wajahnya pucat pasi, lebih pucat dari jasad Mami tadi.
"Kak... lihat di cermin," bisik Siska menunjuk pantulan kami bertiga.
Aku dan Rian menoleh ke cermin. Di dalam pantulan itu, kami tidak melihat wajah kami sendiri. Kami melihat tiga sosok makhluk dengan kulit kelabu, urat hitam menonjol, dan mata merah tanpa pupil—persis seperti kondisi Mami sebelum meninggal.