Fahmi memiliki tubuh yang merupakan impian banyak pria: bahu lebar yang kokoh, otot bisep yang tampak menonjol di balik kaus ketat, dan wajah maskulin dengan rahang tegas yang sering disebut-sebut mirip aktor laga. Sebagai Personal Trainer (PT) senior di Elite One Gym—pusat kebugaran paling prestisius di pusat kota—Fahmi adalah magnet. Namun, baginya, otot-otot itu hanyalah alat untuk menafkahi Linda, istrinya, dan anak perempuan mereka yang masih balita.
Fahmi selalu menjaga jarak profesional. Ia tidak pernah melayani obrolan di luar jam latihan, apalagi godaan-godaan halus yang sering datang dari member gym. Hingga suatu hari, seorang member baru bernama Kevin masuk ke dalam daftar kliennya.
Kevin adalah pria necis, bergelimang harta, dan sangat berpengaruh. Awalnya, semua tampak normal. Namun, perlahan, Kevin mulai melintasi batas. Ia sering mengirimkan pesan di tengah malam dengan dalih bertanya soal nutrisi, yang kemudian berujung pada curhatan pribadi. Fahmi tetap membalas dengan formal, sependek mungkin.
Puncaknya terjadi pada suatu malam di ruang ganti VIP setelah sesi latihan terakhir.
"Fahmi, saya punya tawaran posisi asisten pribadi. Ganjinya lima kali lipat dari apa yang kamu dapat di sini," ujar Kevin sambil mendekat. Aroma parfum mewahnya menyesakkan napas Fahmi.
"Maaf, Pak Kevin. Saya lebih suka jadi PT," jawab Fahmi sopan, mencoba beranjak.
Namun, Kevin bukan orang yang biasa ditolak. Ia telah menyiapkan jebakan. Tanpa disadari Fahmi, sebuah kamera tersembunyi telah dipasang di sudut ruangan. Kevin tiba-tiba menarik tangan Fahmi dan sengaja membuat situasi seolah-olah mereka sedang melakukan tindakan asusila di depan kamera tersebut.
Keesokan harinya, Fahmi dipanggil ke ruang manajemen. Foto-foto hasil tangkapan layar yang telah disunting sedemikian rupa terpampang di atas meja.
"Manajemen tidak menoleransi hubungan gelap antara staf dan member, Fahmi," ujar Manajer Gym dengan dingin. "Kevin mengadu bahwa kamu yang menggodanya dan memerasnya dengan uang."
Fahmi terpaku. Ia sadar, di dunia yang penuh uang dan koneksi seperti ini, suaranya tidak akan pernah menang melawan seorang Kevin. Ia ditawarkan pilihan: mengundurkan diri secara diam-diam tanpa pesangon, atau kasus ini dilaporkan ke polisi dengan bukti foto palsu tersebut.
Sore itu, Fahmi pulang dengan bahu yang merosot. Di rumah, ia melihat Linda sedang menyuapi putri mereka. Hatinya hancur jika membayangkan nama baiknya tercoreng dan keluarganya menanggung malu.
"Mas kenapa?" tanya Linda lembut, menyadari ada yang salah.
Fahmi menceritakan semuanya. Tanpa sisa. Ia menangis di pangkuan istrinya. Bukannya marah, Linda justru menggenggam tangan suaminya erat.
"Mas, kehormatan kita tidak ditentukan oleh gedung tinggi itu. Kalau mereka kotor, kita yang harus menjauh. Kita cari jalan lain yang lebih berkah."
Dua minggu kemudian, pemandangan di pinggiran jalan raya dekat komplek perumahan berubah. Tidak ada lagi Fahmi dengan kaus tanpa lengan dan sepatu branded. Kini, ia mengenakan kaus oblong biasa dan celemek berwarna hijau tua. Di depannya bukan lagi set beban besi, melainkan ulekan besar berisi kacang tanah, cabai, dan air asam jawa.
Fahmi memilih berjualan Pecel Madiun.
Awalnya, banyak orang mencibir. Rekan-rekannya di gym menganggapnya gila. "Dari PT elit jadi tukang ulek?" ejek mereka.
Namun, dedikasi Fahmi tetap sama. Ia mengulek bumbu pecel dengan tenaga yang biasa ia gunakan untuk bench press. Gerakannya lincah, otot-otot lengannya terlihat menegang setiap kali ia menghaluskan kacang tanah di atas cobek batu.
Tak butuh waktu lama bagi "Pecel Atlet" milik Fahmi untuk viral. Bukan hanya karena rasanya yang enak dan sayurannya yang segar, tetapi karena penjualnya yang luar biasa tampan dan kekar.
"Mas Fahmi, boleh minta foto bareng nggak?" tanya seorang ibu-ibu pelanggan sambil menyodorkan ponselnya.
Fahmi tersenyum ramah, namun tetap menjaga batasan. "Boleh, Bu. Tapi setelah saya bungkuskan pesanannya ya, biar tidak mengantre."
Setiap hari, warung tenda sederhananya dipenuhi pelanggan. Ada yang datang benar-benar lapar, ada yang datang hanya karena penasaran ingin melihat "Tukang Pecel Terganteng" yang viral di media sosial. Fahmi sering kali merasa risih ketika ada yang mencoba menggodanya, namun ia selalu ingat wajah Linda dan anaknya di rumah. Hal itu menjadi perisai paling kuat baginya.
Suatu hari, sebuah mobil mewah berhenti di depan tendanya. Kevin turun dari mobil, menatap Fahmi dengan pandangan meremehkan sekaligus rindu.
"Lihat kamu sekarang, Fahmi. Jadi tukang pecel yang berbau kencur. Kalau saja kamu ikut aku dulu, kamu tidak perlu berkeringat di pinggir jalan seperti ini," bisik Kevin sinis.
Fahmi berhenti mengulek sejenak. Ia menatap Kevin dengan mata yang kini jauh lebih tenang dan berwibawa.
"Pak Kevin, tangan saya mungkin bau kacang, tapi hati saya bersih. Saya tidak perlu sembunyi dari bayang-bayang bohong saya sendiri. Sekarang, Bapak mau pesan pecel atau cuma mau menghalangi jalan pelanggan lain?"
Kevin terdiam, wajahnya merah padam karena malu. Ia pergi begitu saja setelah menyadari bahwa kekayaannya tidak bisa membeli harga diri Fahmi.
Malam harinya, Fahmi menghitung lembaran uang ribuan dan puluhan ribu hasil jualannya. Jumlahnya mungkin tidak sebanyak gajinya dulu, tapi setiap rupiahnya terasa begitu ringan. Ia masuk ke kamar, melihat anaknya yang tertidur lelap.
Ia mungkin kehilangan karier mewahnya, tapi ia memenangkan pertempuran yang lebih besar: ia tetap menjadi pahlawan bagi anak dan istrinya tanpa harus menjual jiwanya.