Di sebuah ruang kerja yang pengap oleh bau perkamen tua dan debu marmer, Mimar Sinan sedang melakukan sesuatu yang lebih rumit daripada sekadar menghitung beban kubah. Ia sedang menghitung rindu.
Jari-jarinya yang kasar karena puluhan tahun memahat batu, kini memegang jangka dengan gemetar. Di depannya terbentang peta Konstantinopel. Sinan bukan hanya seorang arsitek; ia adalah seorang pria yang jatuh cinta pada seseorang yang statusnya setinggi matahari, sementara ia hanyalah bayangan di kaki istana.
Mihrimah Sultan. Putri kesayangan Sultan Suleiman yang Agung. Namanya berarti "Matahari dan Rembulan". Sebuah nama yang menjadi kutukan sekaligus kompas bagi hidup Sinan.
"Tuan Sinan," suara asistennya memecah keheningan. "Sultan bertanya mengapa Anda bersikeras membangun masjid kedua di Edirnekapi dengan hanya satu menara? Bukankah itu akan terlihat... kesepian?"
Sinan terdiam, matanya menatap titik koordinat di atas kertas. Kesepian adalah namaku, Nak, batinnya. Namun yang keluar dari mulutnya hanyalah, "Seni tidak selalu soal kembar yang identik. Kadang, kesunyian adalah bentuk penghormatan yang paling tinggi."
Sebenarnya, Sinan sedang membangun sebuah kode rahasia. Sebuah easter egg arsitektur yang hanya akan terbuka kuncinya oleh alam semesta.
Tahun-tahun berlalu dengan dentang palu dan kucuran keringat. Sinan membangun dua mahakarya untuk sang putri. Satu di Uskudar, di tepi pantai yang menyambut fajar. Satu lagi di Edirnekapi, di puncak bukit tertinggi yang memeluk senja.
Mihrimah sering datang meninjau proyek itu. Ia berdiri di balik tirai sutra, namun Sinan bisa merasakan kehadirannya seperti detak jantung yang mendadak glitch. Mereka tidak pernah berbicara tentang perasaan. Protokol kekaisaran adalah tembok yang lebih tebal daripada benteng Konstantinopel. Bagi Sinan, mencintai Mihrimah adalah seperti menatap matahari langsung; indah, namun akan membutakanmu jika kau terlalu berani.
"Apakah masjid ini akan abadi, Sinan?" tanya Mihrimah suatu sore, suaranya lembut namun berwibawa.
Sinan menunduk dalam, matanya hanya berani menatap ujung kaftan sang putri yang menyentuh debu konstruksi. "Bangunan bisa runtuh oleh gempa, Sultan. Tapi ada hal-hal yang tidak bisa dihancurkan oleh waktu."
"Apa itu?"
"Cahaya," jawab Sinan pendek.
21 Maret. Hari itu adalah titik balik matahari (Equinox). Hari di mana siang dan malam memiliki durasi yang sama persis. Dan yang paling penting, itu adalah hari ulang tahun Mihrimah Sultan.
Sinan berdiri di sebuah dermaga kecil di tengah Selat Bosphorus. Ia sudah tua, punggungnya sudah membungkuk oleh beban ribuan batu yang ia susun menjadi masjid dan jembatan. Namun matanya tetap tajam, menatap ke arah barat, ke arah Masjid Edirnekapi.
Matahari mulai turun, berubah warna menjadi oranye yang membara—persis warna sari yang sering dipakai Mihrimah. Saat bola api itu tepat berada di belakang menara tunggal Edirnekapi, seolah-olah menara itu adalah lilin yang menyala di pesta ulang tahun sang putri, sesuatu yang ajaib terjadi di arah berlawanan.
Sinan berbalik ke arah timur, ke arah Masjid Uskudar.
Di sana, di antara dua menara masjid yang putih, rembulan perak perlahan terbit. Pada detik yang sama ketika matahari terbenam di satu sisi, bulan muncul di sisi lainnya. Matahari dan Rembulan—Mihr-u-Mah—bertemu dalam satu garis cakrawala yang sempurna.
"Selamat ulang tahun, Matahariku," bisik Sinan pada angin.
Air mata jatuh di pipinya yang keriput. Ia tahu, ia tidak akan pernah bisa memeluk Mihrimah. Ia tidak akan pernah bisa membisikkan namanya di telinganya. Namun, ia telah berhasil memaksa seluruh semesta untuk merayakan cinta mereka. Setiap tahun, selama bangunan itu berdiri, matahari dan bulan akan selalu melakukan kencan rahasia di atas langit Istanbul karena perhitungan cintanya.
Malam itu, Sinan pulang dengan hati yang ringan. Ia telah mengubah patah hatinya menjadi sebuah simetri. Ia telah membuktikan bahwa meskipun cinta tidak selalu berakhir dengan "memiliki", cinta bisa berakhir menjadi sesuatu yang abadi—sesuatu yang orang-orang sebut sebagai keajaiban.
Dan di istananya, Mihrimah Sultan berdiri di balkon, menatap bulan yang terbit di antara menara masjidnya, bertanya-tanya mengapa hatinya merasa begitu hangat, seolah-olah seseorang baru saja memeluk jiwanya dari kejauhan.