Detektif Aris menatap papan tulis putih di ruang unit Jatanras yang kini penuh dengan foto-foto pria muda berwajah cerah. Ada mahasiswa berprestasi, model paruh waktu, hingga pekerja kerah putih. Kesamaan mereka hanya satu: mereka lenyap begitu saja setelah memijakkan kaki di kawasan apartemen elit di pusat kota.
Kasus ini seperti mengejar asap. Tidak ada kekerasan di tempat umum, tidak ada saksi mata, dan yang paling membuat Aris frustrasi: semua korban seolah "menghilang dengan sukarela".
"Gue nggak percaya mereka cuma pergi tanpa pamit, Kapten," ujar Aris pada atasannya. "Lihat polanya. Semua korban punya akun di aplikasi kencan yang sama. Dan semua percakapan terakhir mereka mengarah ke satu titik koordinat: Unit 12B, Apartemen Sky-High."
Setelah berminggu-minggu pengintaian yang buntu, Aris memutuskan untuk melakukan langkah paling berisiko dalam kariernya. Ia menyamar. Dengan profil palsu sebagai mahasiswa rantau yang sedang mencari bantuan beasiswa, Aris masuk ke dalam jaring sang predator.
Sore itu, udara terasa berat saat Aris mengetuk pintu Unit 12B. Pintu terbuka, menampakkan seorang pria bertubuh tegap dengan kacamata berbingkai tipis dan senyum yang sangat meneduhkan. Namanya Rian.
"Halo, Aris ya? Masuk, masuk. Maaf berantakan, saya baru selesai belajar," sambut Rian dengan suara yang sangat sopan, hampir menyerupai suara seorang pemuka agama.
Apartemen itu tampak sempurna. Harum aroma kopi mahal dan koleksi buku-buku filsafat yang tertata rapi. Tidak ada kesan seram, tidak ada bercak darah, tidak ada tanda-tanda perjuangan. Rian menyuguhi Aris segelas teh hangat dengan keramahtamahan yang membuat bulu kuduk Aris berdiri—justru karena semuanya terasa terlalu normal.
"Saya senang bisa bantu mahasiswa seperti kamu. Saya juga dulu merantau, saya tahu rasanya sepi di kota besar," ujar Rian sambil duduk di hadapan Aris, matanya menatap tajam namun tampak tulus.
Itulah senjatanya. Manipulasi.
Rian mulai bercerita tentang kebaikan, tentang masa depan, dan tentang betapa pentingnya menjaga kepercayaan. Aris meraba pemancar kecil di balik kancing kemejanya, berharap timnya di luar mendengar setiap kata. Namun, saat Aris hendak meminum tehnya, ia melihat sesuatu di bawah meja kopi yang dilapisi kaca.
Sebuah goresan kecil di kaki meja. Goresan yang tampak seperti bekas cengkeraman kuku yang dipaksakan.
"Kamu kenapa, Ris? Tehnya nggak enak?" tanya Rian. Nada suaranya sedikit berubah. Lebih dingin. Lebih menuntut.
Aris meletakkan gelasnya. "Nggak, Kak Rian. Saya cuma sedikit pusing. Oh ya, saya dengar Kakak koleksi foto ya? Boleh saya lihat?"
Senyum Rian mendadak hilang. Ruangan itu seolah menyempit. "Foto apa yang kamu maksud?"
Aris berdiri, mencoba mencari alasan untuk menuju ke arah kamar mandi, namun langkahnya terhenti saat ia mencium bau yang sangat spesifik dari balik ventilasi udara di sudut ruangan. Bau cairan pembersih dosis tinggi yang bercampur dengan sesuatu yang amis. Sangat samar, tapi bagi seorang detektif, itu adalah bau kematian.
"Gue tahu siapa lo, Rian," bisik Aris, tangannya bergerak cepat menuju pinggang untuk mengambil senjata rahasianya.
Namun, Rian lebih cepat. Ia tidak menerjang dengan kasar. Ia bergerak dengan ketenangan seorang profesional. "Sayang banget, Ris. Padahal profil kamu paling bagus dari semua yang pernah mampir ke sini."
Perkelahian terjadi di ruang sempit itu. Aris menyadari bahwa Rian bukan sekadar pria terpelajar; ia adalah predator yang sudah melatih gerakannya bertahun-tahun. Saat Aris berhasil membanting Rian ke dinding, sebuah panel tersembunyi di balik rak buku terbuka.
Aris tertegun. Di balik rak itu, terdapat sebuah ruangan kecil yang kedap suara. Di dalamnya, terpampang ratusan foto para korban dalam kondisi tak berdaya, tersusun rapi seperti piala kemenangan. Di atas meja kerja Rian, terdapat lusinan ponsel milik para korban yang masih menyala, menampilkan pesan-pesan cemas dari keluarga mereka yang tak pernah dibalas.
"Lo gila..." geram Aris.
"Gue cuma kolektor, Ris. Kolektor jiwa-jiwa yang kesepian," jawab Rian dengan tenang saat polisi akhirnya mendobrak pintu apartemen.
Saat Rian digiring keluar dengan tangan terborgol, ia masih sempat menoleh ke arah Aris dan tersenyum—senyum yang sama yang ia gunakan untuk menjebak ratusan korban lainnya. Di balik dinding apartemen nomor 12B, keadilan akhirnya menemukan jalannya, namun trauma yang ditinggalkan sang predator akan tetap menghantui koridor apartemen itu selamanya.