Thalia selalu merasa dunianya terlalu sempit untuk jiwanya yang sering melanglang buana. Di usianya yang ke-14, ia lebih suka menghabiskan waktu di taman belakang sekolah, berbicara dengan kucing-kucing liar atau sekadar mengamati barisan semut. Teman-temannya di kelas 2 SMP menyebutnya "si aneh yang tenang", tapi Thalia tidak peduli. Baginya, ketenangan adalah kemewahan yang tidak semua orang punya. Sampai suatu sore, saat langit berubah warna menjadi ungu pekat, sebuah pusaran cahaya biru—seperti robekan pada dimensi udara—muncul di balik pohon beringin tua.
Tanpa logika yang sempat memprotes, Thalia melangkah masuk. Ia tidak mendarat di hutan atau padang rumput, melainkan di atas lantai marmer sedingin es dalam sebuah bangunan yang kemegahannya menghina semua arsitektur modern yang pernah Thalia lihat di YouTube. "Gue... di mana?" gumamnya, refleks menggunakan gaya bicara khasnya saat panik. Sebuah tepukan di bahu membuatnya nyaris melompat. Ia berputar dan menemukan seorang remaja laki-laki dengan mata sebiru samudera dan pakaian yang tampak seperti kostum cosplay kasta tertinggi.
"Hai, Orang Asing. Lo baru aja ngelewatin gerbang interdimensional yang harusnya terkunci," ucap cowok itu dengan nada santai tapi penuh wibawa. Namanya Nikolai. Ia bukan pangeran dalam dongeng yang kaku; ia adalah pewaris takhta Kerajaan Aethelgard yang sedang bosan dengan rutinitas istana. Perkenalan mereka singkat namun intens. Nikolai yang terbiasa dikelilingi orang-orang bermuka dua, merasa tertarik pada kejujuran Thalia yang bahkan berani bilang, "Pegang-pegang mahal, ya!" saat Nikolai mencoba membantunya berdiri.
Logika cerita ini mulai diuji saat Nikolai membawa Thalia ke Hutan Bioluminesensi di balik kastil. Di sana, perbedaan dunia mereka terpampang nyata. Nikolai menunjukkan sihir-sihir kecil yang menghidupkan bunga, sementara Thalia menceritakan tentang teknologi, internet, dan satu hal yang membuat Nikolai terdiam cukup lama: prinsip hidup Thalia sebagai seorang Muslimah. Saat mereka duduk di bukit tertinggi di bawah guyuran cahaya kunang-kunang yang berpendar seirama detak jantung, Nikolai mengutarakan perasaannya. "Di dunia gue, semua hal bisa didapat dengan perintah. Tapi lo... lo adalah sesuatu yang nggak bisa gue perintah buat tinggal."
Konflik memuncak saat Thalia menjelaskan batasan yang ia miliki. "Niko, lo mungkin pangeran di sini. Tapi di duniaku, aku punya 'Raja' yang aturannya harus aku patuhi. Kita nggak bisa pacaran, nggak bisa menjalin hubungan tanpa arah yang jelas dalam agamaku." Kalimat itu bukan keluar dari bibir seorang gadis yang sedang berceramah, tapi dari seorang remaja yang teguh pada identitasnya. Nikolai tidak marah. Ia justru terpesona pada prinsip itu. "Kalau gitu, gue nggak bakal minta lo jadi pacar gue. Gue bakal minta takdir buat jagain lo, sampai pintu dunia kita benar-benar terbuka secara sah suatu hari nanti. Janji?" kelingking mereka bertautan, sebuah kontrak suci melampaui dimensi.
Ketegangan terjadi saat Thalia menyadari bahwa satu malam di Aethelgard hanya berarti satu jam di dunianya. Distorsi waktu ini membuatnya pusing, namun Nikolai tetap mengantarnya kembali ke portal perbatasan dengan berat hati. Perpisahan itu terasa seperti merobek kulit; perih dan membekas. Saat kembali ke rumah, orang tuanya hanya mengira Thalia terlambat pulang karena kerja kelompok. Namun, kerinduan Thalia pada Nikolai menjadi beban yang ia bawa setiap hari ke sekolah. Ia sering menatap langit, bertanya-tanya apakah bintang yang ia lihat sama dengan bintang yang digenggam Nikolai di sana.
Keajaiban itu datang lagi saat Thalia berada di titik terendahnya, duduk sendirian di bukit belakang sekolah. Sebuah suara familiar menyahut gumamannya. Nikolai berdiri di sana, tanpa pengawal, tanpa mahkota, hanya dengan jaket sederhana yang entah ia dapat dari mana. "Takdir itu lucu, Lia. Dia nggak bakal biarin dua orang yang punya janji saling cari tanpa jalan temu." Di bawah langit malam kota yang bising, mereka menyadari bahwa perbedaan agama, dimensi, dan waktu bukanlah penghalang, melainkan cara alam semesta menguji seberapa pantas mereka untuk bersama. Mereka tidak butuh status pacaran untuk merasa saling memiliki; cukup dengan keyakinan bahwa jika Tuhan menghendaki, jarak sejauh antar-galaksi pun akan terasa sedekat urat nadi.