Lantai apartemen Pandu kini bukan lagi sekadar kayu, melainkan hamparan daging dan nanah yang mengering. Bau amisnya begitu padat hingga udara terasa seperti lendir. Di sudut ruangan, boneka Dina dan boneka Pandu duduk berdampingan di atas rak, mata biji buah mereka menatap kosong ke arah pintu. Mereka menunggu mangsa baru, dan semesta mengirimkan sesuatu yang jauh lebih menantang: Bram, seorang mantan tenaga medis yang beralih profesi menjadi pembersih tempat kejadian perkara (TKP) khusus kasus mutilasi dan pembunuhan sadis.
Bram masuk dengan pakaian hazmat lengkap dan masker respirator. Ia sudah terbiasa melihat usus yang terburai atau otak yang berceceran, tapi apa yang ia temukan di sini membuatnya hampir tersedak di balik maskernya.
"Apa-apaan ini..." bisik Bram.
Ia melihat ponsel Pandu yang masih berdiri di atas tripod, baterainya hampir habis. Di depannya, dua boneka kain berukuran besar tampak begitu "hidup". Sebagai orang yang paham anatomi, Bram merasa ada yang salah. Proporsi boneka itu terlalu sempurna untuk sekadar mainan.
Bram mendekati boneka Pandu. Ia mengeluarkan pisau bedah dari tas peralatannya. Ia ingin memastikan kecurigaannya. Dengan satu gerakan cepat, ia merobek jahitan di lengan boneka Pandu.
CRAAAK!
Bukannya kapas, darah segar yang kental dan panas menyemprot tepat ke kaca pelindung mata Bram. Di balik lapisan kain goni itu, terdapat otot bisep manusia yang masih berkedut, lengkap dengan urat syaraf yang masih memancarkan aliran listrik sisa kehidupan.
"Mereka masih hidup?" Bram terkesiap, melangkah mundur.
Tiba-tiba, pintu apartemen terbanting menutup. BRAK! Suara itu diikuti oleh tawa melengking anak-anak kecil yang menggema dari dalam dinding.
Boneka Dina mulai bergerak. Ia tidak merangkak lagi; ia melompat ke punggung Bram dengan kecepatan predator. Kuku-kukunya yang terbuat dari beling tajam merobek baju hazmat Bram seperti kertas, masuk ke dalam daging punggungnya.
"Kau... punya... tangan... yang... terampil," bisik Dina di telinga Bram.
Bram berteriak, mencoba membanting tubuhnya ke dinding untuk melepaskan Dina. Tapi boneka Pandu ikut bangkit. Dengan gerakan kaku, Pandu memegang kaki Bram, lalu dengan kekuatan yang tidak masuk akal, ia mematahkan tulang kering Bram.
KRAAAKKK!
Suara tulang yang remuk itu memenuhi ruangan. Bram jatuh tersungkur, meraung kesakitan. Namun, kengerian sebenarnya baru saja dimulai.
Dina tidak ingin membunuh Bram dengan cepat. Ia menginginkan sebuah mahakarya. Ia menyeret tubuh Bram ke tengah ruangan, di mana alat-alat bedah Bram sendiri berserakan. Dina mengambil tang pemotong tulang milik Bram.
"Mari... kita... bedah... sang... dokter," ucap Dina.
Tanpa anestesi, Dina mulai memotong jari-jari tangan Bram satu per satu. Setiap potongan diikuti oleh jeritan yang memecah langit malam. Dina kemudian menjahit jari-jari itu ke wajahnya sendiri, menjadikannya "rambut" baru yang bisa bergerak-gerak dan mencengkeram.
Konflik memuncak saat Bram, dalam sisa kesadarannya, berhasil meraih botol cairan kimia pembersih (H2O2 konsentrasi tinggi) dan menyiramkannya ke wajah Dina. Kain goni itu berasap, mengeluarkan bau kulit terbakar yang sangat menyengat. Dina menjerit kesakitan, suaranya berubah menjadi ribuan suara anak kecil yang menangis.
Namun, itu justru membuat mereka marah.
Boneka Pandu menarik lidah Bram keluar dengan paksa, lalu menggunakan benang kawat berduri untuk menjahit lidah itu ke telinga Bram sendiri. Mereka ingin Bram mendengar setiap rintihan yang keluar dari mulutnya sendiri secara langsung.
Klimaks yang sadis terjadi ketika Dina mulai menguliti wajah Bram selagi ia masih bernapas. Dina mengupas kulit wajah itu dengan sangat hati-hati, lalu menempelkannya ke wajahnya sendiri sebagai "topeng" baru. Bram kini hanya memiliki otot merah yang terekspos, matanya melotot tanpa kelopak, menyaksikan Dina menggunakan kulit wajahnya sendiri untuk tersenyum padanya.
"Sekarang... kau... adalah... koleksi... terbaikku," bisik Dina sambil membawa cermin ke depan wajah Bram yang hancur.
PLOT TWIST FINAL:
Bram tidak mati. Dina menggunakan pengetahuannya tentang formalin dan pengawet yang ditemukan di tas Bram untuk memastikan pria itu tetap sadar selamanya dalam kondisi teruliti. Dina kemudian menjahit tubuh Bram ke dinding apartemen, menjadikannya "wallpaper" hidup yang berdenyut.
Di akhir cerita, apartemen itu berubah menjadi sebuah galeri daging yang luar biasa. Dina duduk di tengah ruangan, kini dengan wajah manusia asli (milik Bram), rambut dari jari-jari, dan baju dari kulit manusia. Ia mengambil ponsel Bram yang baru, membuka aplikasi video pendek, dan memulai siaran langsung.
"Halo semuanya," suara Dina kini terdengar jernih, menggunakan pita suara Bram yang telah ia modifikasi. "Selamat datang di Museum Penderitaan. Siapa yang ingin memesan tiket masuk selanjutnya? Alamatnya ada di deskripsi."
Di layar siaran langsung, ribuan orang menonton dengan takjub, mengira itu adalah efek CGI atau makeup horor tingkat tinggi. Mereka tidak tahu bahwa setiap detak jantung yang mereka dengar di latar belakang adalah suara asli dari para korban yang kini menjadi bagian dari struktur bangunan itu sendiri.
Dina menutup siaran dengan tawa yang begitu nyata, sementara di dinding, mata Bram yang tak bisa berkedip hanya bisa meneteskan air mata darah, terperangkap selamanya dalam jahitan abadi yang ia ciptakan sendiri melalui rasa penasarannya.