Cover penulis: JK
Genre: Fantasy romance
Team: Ratu Cinta yang hilang
Di dunia Arvelune, cinta bukan hanya perasaan ia adalah energi yang menjaga langit tetap berwarna dan sungai tetap bernyanyi. Energi itu berasal dari satu sosok: Ratu Cinta. Setiap abad, mahkotanya bersinar dan seluruh negeri dipenuhi cahaya mawar. Namun tahun ini, mahkota itu redup. Langit pucat. Burung-burung berhenti bersiul.
Ratu Cinta menghilang.
Dewan Kerajaan membentuk kelompok pencari yang disebut Team Ratu Cinta yang Hilang tim kecil yang dipercaya bukan karena kekuatan terbesar, tapi karena hati yang belum tertutup.
Tim itu terdiri dari empat orang.
Alya, gadis yang bisa merasakan jejak emosi di tempat yang disentuh perasaan kuat.
Raka, penjaga perisai cahaya yang selalu serius dan disiplin.
Damar, pembuat jalur bintang yang bisa membuka jalan rahasia.
Dan Eren, pengantar pesan angin yang mengenal ribuan cerita cinta — meski tak pernah punya kisahnya sendiri.
“Aku tidak yakin ratu benar-benar hilang,” kata Alya saat mereka memulai perjalanan. Tangannya menyentuh tanah gerbang istana. “Rasanya seperti… dia menjauh, bukan diculik.”
“Ratu tidak menjauh,” kata Raka tegas. “Ratu bertugas.”
“Semua yang bertugas tetap punya hati,” jawab Alya pelan.
Perjalanan pertama membawa mereka ke Padang Mawar Tanpa Warna. Dahulu merah menyala, kini kelopaknya transparan seperti kaca. Angin bertiup pelan membawa gema perasaan lama.
Alya memejamkan mata. “Ada rasa lelah. Dalam sekali. Seperti seseorang memberi terus sampai kosong.”
“Ratu Cinta tidak mungkin kosong,” kata Raka.
Damar berlutut, menyentuh kelopak. “Kalau sumbernya dipakai semua orang, tapi tak pernah diisi kembali, ya bisa.”
Eren hanya diam, memandang Alya. Cara gadis itu merasakan dunia membuatnya penasaran sekaligus khawatir.
Malamnya, mereka membuat lingkar api hangat. Api itu menyala sesuai kejujuran hati.
“Kenapa kalian ikut tim ini?” tanya Damar.
“Karena tanggung jawab,” jawab Raka.
“Karena rasa ingin tahu,” kata Damar sendiri.
Alya tersenyum kecil. “Karena aku tidak suka perasaan yang ditinggalkan sendirian.”
Semua menoleh ke Eren.
Ia mengangkat bahu. “Karena aku mengantar terlalu banyak pesan cinta yang tidak pernah dibalas. Aku ingin tahu kenapa cinta bisa hilang.”
Api membesar.
Perjalanan berlanjut ke Jembatan Kenangan tempat setiap orang melihat memori yang paling memengaruhi hatinya. Kabut naik seperti cermin hidup.
Raka melihat dirinya gagal melindungi seseorang di masa lalu.
Damar melihat sahabat yang pergi tanpa pamit.
Eren melihat ratusan surat kembali ke tangannya tanpa pernah dibuka.
Alya melihat seorang wanita bermahkota mawar duduk sendirian di tangga tinggi, menatap langit kosong.
“Itu dia,” bisik Alya. “Dia tidak disembunyikan. Dia menyembunyikan diri.”
“Di mana?” tanya Raka.
“Tempat harapan yang patah berkumpul,” jawab Alya. “Menara Janji.”
Menara Janji berdiri di ujung dunia, terbuat dari batu sumpah yang tak ditepati. Semakin dekat, bisikan masa lalu semakin keras. Banyak pencari sebelumnya menyerah di sini.
Raka hampir berhenti berjalan saat suara dari kenangannya memanggil. Nafasnya berat.
“Kamu tidak harus menang setiap saat,” kata Alya lembut. “Cukup tetap melangkah.”
Raka mengangguk dan terus maju.
Eren menutup telinga ketika suara-suara menuduhnya pembawa harapan palsu.
“Kamu tidak membuat mereka berjanji,” kata Alya. “Kamu hanya mengantar kesempatan.”
“Bedanya tipis,” jawab Eren.
“Tapi tetap berbeda,” kata Alya.
Mereka tiba di puncak menara. Di sana, duduk Ratu Cinta tanpa singgasana, tanpa cahaya besar. Hanya seorang wanita dengan mata lelah namun hangat.
“Kalian menemukanku,” katanya tenang.
“Kerajaan membutuhkanmu,” kata Raka.
Ratu tersenyum kecil. “Kerajaan membutuhkan fungsi cintaku. Bukan aku.”
Sunyi turun seperti salju.
“Aku memberi dan memberi,” lanjutnya, “tapi tak seorang pun bertanya apakah hatiku juga ingin dipeluk.”
Alya melangkah maju. “Sekarang kami bertanya.”
Ratu menatapnya lama.
“Apa yang kamu rasakan?” tanya Alya.
“Sepi,” jawab Ratu jujur. “Di tengah jutaan perasaan.”
Eren menelan gugup. “Kalau kamu kembali, kamu boleh kembali sebagai dirimu. Bukan hanya simbol.”
“Simbol tidak boleh lelah,” kata Ratu.
“Manusia boleh,” jawab Alya.
Cahaya lembut muncul di sekitar mereka bukan ledakan sihir, tapi pijar hangat seperti lentera.
“Apa kalian tahu risiko dunia tanpa Ratu Cinta?” tanya Ratu.
“Ya,” kata Damar. “Tapi dunia dengan ratu yang terluka juga tidak utuh.”
Ratu terdiam lama, lalu tertawa kecil pertama kalinya terdengar ringan.
“Tim paling jujur yang pernah dikirim mencari ku,” katanya.
Ia berdiri. Mahkota mawarnya bersinar pelan, mengikuti detak hatinya, bukan langit.
Saat mereka turun dari menara, warna kembali ke awan sedikit demi sedikit. Bunga mulai bernapas lagi.
“Terima kasih,” kata Ratu pada Alya. “Kau mendengar yang tak diucapkan.”
Ratu lalu menatap Eren. “Dan kau, pembawa pesan akhirnya membawa pertanyaan yang benar.”
Eren tersenyum malu.
Kerajaan menyambut mereka meriah, tapi Ratu tidak kembali ke singgasana tinggi. Ia memilih berjalan di antara rakyat, menyentuh tangan, mendengar cerita, tertawa bersama. Cintanya tidak lagi seperti matahari yang jauh tapi seperti lampu jendela yang dekat.
Di gerbang taman istana, Eren memberikan Alya sebuah amplop kosong.
“Surat tak tertulis?” tanya Alya.
“Tempat untuk perasaan yang belum siap dikirim,” kata Eren. “Tidak semua harus cepat.”
Alya memegangnya hati-hati. “Kamu belajar dari perjalanan ini ya.”
“Aku belajar dari pembaca hati,” jawab Eren.
“Dan kamu masih bilang tidak punya kisah cinta?”
Eren terkekeh. “Mungkin baru mulai menulis judulnya.”
Langit Arvelune berubah mawar keemasan. Angin terasa hangat, bukan karena sihir besar tapi karena hati yang akhirnya didengar.
Dan sejak hari itu, orang-orang mengerti sesuatu:
Cinta tidak hilang. Kadang hanya butuh ditanya… apakah ia baik-baik saja.
Langit Asteria berubah warna mawar.
Dan untuk pertama kalinya, cinta tidak terasa seperti legenda tapi seperti awal.
Akhirnya ceritanya pun selesai dan terima kasih setelah membaca cerpen!