Dunia Aethelgard terbagi menjadi dua lapisan yang tak kasat mata namun sangat nyata, Kerajaan Aethelgard yang megah, dihuni oleh kaum High Elf yang memiliki sihir murni dan kehidupan abadi, serta Distrik Teratai, pemukiman manusia hanya dianggap sebagai debu dalam sejarah panjang dunia.
Lydia adalah seorang putri dari kaum High Elf. Wajahnya seputih salju dengan telinga runcing yang anggun dan mata berwarna zamrud yang bisa melihat aliran mana di udara. Di tangan nya, sihir bukan sekadar alat, melainkan nafas. Namun, Lydia merasa jiwanya terkurung dalam istana kristal yang selalu dingin.
Suatu sore, saat ia menyelinap keluar ke perbatasan hutan terlarang, tempat yang memisahkan dunia Elf dan manusia, Ia pernah mendengar sebuah suara yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Bukan suara nyanyian burung magis atau bisikan pohon purba, melainkan suara gesekan kayu yang menghasilkan melodi penuh kesedihan sekaligus harapan.
Di sana, di bawah pohon beringin tua yang akarnya merayap hingga ke tanah manusia, duduk lah Kael. Ia adalah seorang pemuda manusia dengan pakaian sederhana yang penuh tambalan. Di tangan nya ada sebuah alat musik kayu berdawai, sebuah biola kasar yang ia buat sendiri.
Lydia terpaku. Ia hanya biasa mendengarkan orkestra sihir yang sempurna, merasa melodi Kael jauh lebih "hidup."
"Siapa kau?" Tanya Lydia, suaranya seperti denting perak
Kael terlonjak, biolanya hampir jatuh. Ia menatap sosok di depannya dengan takjub. Belum pernah ia melihat Elf sedekat ini. "Hanya...hanya seorang manusia, Tuan putri," jawab Kael gemetar, langsung menunduk
"Kenapa musikmu terdengar seperti sedang menangis?" Lydia mendekat, mengabaikan peringatan tetua bahwa manusia adalah mahluk yang penuh penyakit dan ketamakan.
"Kael tersenyum pahit. Karena waktu kami singkat. Kami tidak punya keabadian seperti kalian. Setiap nada yang aku mainkan adalah cara agar aku tidak dilupakan oleh angin saat aku sudah tidak ada nanti."
Pertemuan itu adalah awal dari segalanya. Setiap sore, Lydia akan menyelinap keluar untuk bertemu Kael. Ia membawakan buah-buah magis yang bisa menyembuhkan luka, sementara Kael mengajarinya tentang arti "perasaan" yang tidak bisa dibeli dengan sihir.
"Kalian para Elf hidup selamanya, tapi kalian jarang benar-benar merasakan," kata Kael suatu hari saat mereka duduk bersandar di pohon yang sama. "Karena kalian tahu hari esok selalu ada. Bagi kami, hari ini bisa jadi yang terakhir. Itu yang membuat cinta kamu lebih kuat."
Lydia mulai merasakan sesuatu yang tidak diajarkan di akademi sihir. Jantung nya berdegup kencang setiap kali tangan kasar Kael tanpa sengaja menyentuh jemari halusnya saat menunjukkan cara memetik dawai biola.
Namun, perbedaan mereka terlalu besar. Di mata kaum High Elf, menjalin hubungan dengan manusia adalah penghianatan terhadap kemurnian darah. Dan bagi manusia, mendekati Elf adalah tindakan mencari mati.
Suatu malam, rahasia mereka terendus oleh panglima Garda Elf, Thiram, yang juga merupakan tunangan Lydia yang di jodohkan oleh raja.
"Kau mengotori martabatmu dengan bersinggungan dengan mahluk fana itu, Lydia!" Bentak Thiram di aula utama istana.
"Manusia itu akan mati dalam sekejap mata Elf. Kau hanya akan menangisi makamnya selama sisa ribuan tahun hidupmu!"
"Tapi dalam sekejap mata itu dia memberiku lebih banyak kehidupan daripada yang kau berikan dalam seabad!" Balas Lydia berani.
Raja Aethelgard memberikan hukuman yang kejam. Bukan hukuman mati bagi Kael, karena itu dianggap terlalu "mudah." Raja mengutuk hutan perbatasan dengan kabut beracun yang hanya membunuh manusia, namun tidak berbahaya bagi Elf. Tujuannya agar Lydia tidak bisa lagi menemui Kael. Mendengar hal itu, Lydia nekat.
Ia menggunakan sihir terlarang, Mana Transfer, untuk memberikan sebagian dari keabadian nya kepada Kael. Ia tahu resikonya, ia akan kehilangan statusnya sebagai High Elf dan menjadi "setangah manusia” mahluk yang bisa menua dan mati
Di tengah kabut beracun yang mulai turun, Lydia berlari menuju perbatasan. Ia menemukan Kael terbatuk-batuk di bawah pohon beringin tua.
"Lydia... Pergilah... Kabut ini..." Suara Kael melemah.
"Tidak, Kael. Aku memilihmu, " bisik Lydia. Ia merapak mantra kuno. Cahaya hijau zamrud keluar dari dadanya yang mengalir ke tubuh Kael. Kabut itu tiba-tiba tersingkap di sekitar mereka, membentuk sebuah kubah pelindung.
Saat sihir itu selesai, telinga runcing Lydia perlahan memendek. Rambut peraknya berubah menjadi kecoklatan seperti tanah. Ia bukan lagi High Elf yang anggun. Ia kini menjadi mahluk fana.
Kael terbangun, merasa ada kekuatan aneh yang mengalir di nadinya. Ia menatap Lydia yang kini terlihat lebih... Manusiawi. "Apa yang kau lakukan?" Tangisnya. Kau kehilangan segalanya!"
Lydia tersenyum, menyentuh pipi Kael dengan lembut. "Aku tidak kehilangan apa pun. Aku baru saja mendapatkan waktu yang berharga untuk benar-benar hidup bersama mu."
Mereka melarikan diri dari kerajaan, menuju pesisir jauh di mana kasta tidak lagi berarti. Saat itu Kael tetap bermain biola, dan Lydia belajar memasak serta merawat tanaman tanpa bantuan sihir instan.
Meskipun Lydia tahu bahwa suatu saat nanti kulit mereka akan keriput dan nafas mereka akan berhenti, ia tidak pernah menyesal.
Karena baginya, satu tahun mencintai Kael sebagai manusia jauh lebih berharga daripada seribu tahun hidup dingin sebagai Elf yang abadi.
Aku sungguh sangat senang, karena bisa menghabiskan sisa hidup ku bersama seseorang yang kucintai sehidup sematiku.
Sebuah cinta sejati bukan berasal dari suatu kasta atau harta dan lainnya, sebuah cinta sejati tumbuh dari lubuk hati terdalam seseorang. Semakin kamu mencintainya semakin dalam perasaan yang kamu punya untuk nya.
Sihir terhebat bukanlah mengubah logam menjadi emas atau terbang di angkasa, melainkan kemampuan untuk mencintai dan melampaui batas yang ditentukan oleh dunia.
Dan disana sebuah cerita cinta panjang bukan dari ketampanan, tapi dari sebuah melodi yang terdengar di gerbang perbatasan antara Manusia dan High Elf, jika bukan karena suara melodi tersebut, aku pasti tidak mengetahui banyak hal tentang dunia manusia, dan bahkan jika bukan karena pertemuan pertama ku dan Kael juga melodi itu aku pasti tidak akan melepaskan segala nya.
Namun aku tak menyesal sama sekali, menurut ku cinta selama setahun sambil membuat banyak kenangan lebih baik, dari pada cinta bertahun-tahun yang begitu membosan kan.
"Kael... Andai jika kau pergi duluan sebelum diriku, kumohon.. jangan lupakan diriku disana, ingatlah diriku, karena aku akan selalu mengingat mu setiap tidurku atau pun yang lainnya.
"Kamu juga jangan melupakan diri ku, Lydia. Apapun masalah atau rintangan yang kamu hadapi, kita harus bersama-sama bangkit dari semua hal itu.
"Em... Baiklah, Kael. Aku akan mengingat nya.
EVENT GC RUMAH MENULIS..