“Tidak semua orang mampu menerima kasih sayang dalam bentuk yang berbeda.
Sebagian hanya bisa mencintai dengan cara yang mereka pahami.”
Hai, aku Moly.
Aku adalah anak perempuan pertama dari empat bersaudara.
Sejak kecil, aku dikenal sebagai anak yang ceria, kritis, dan gemar mencoba hal-hal baru. Aku penuh kasih sayang—begitu kata ayahku. Kalimat itu selalu terasa hangat, mengendap di dadaku, dan membuatku merasa dicintai.
Di sekolah, aku termasuk anak yang aktif. Aku bukan yang selalu meraih peringkat satu, tapi juga bukan yang tertinggal. Ranking-ku sering berpindah: dua, tiga, lima, bahkan sepuluh—dan aku baik-baik saja dengan itu. Teman-temanku menyukaiku. Terutama saat pelajaran olahraga, mereka berlomba-lomba membentuk tim denganku. Aku merasa diterima. Aku merasa berarti.
Aku sangat bersyukur atas hidupku. Rasanya, jika suatu hari aku bertemu Tuhan, aku rela membagi uang jajanku agar kami bisa jajan bersama, sebab hidupku terasa sebahagia itu.
Hari-hariku selalu cerah, apa pun keadaannya.
Sampai akhirnya aku mengenal cuaca mendung untuk pertama kali.
Aku baru sadar bahwa jarakku dengan ibuku ternyata sejauh itu. Selama ini aku tidak pernah benar-benar memperhatikannya, karena terlalu sibuk menikmati hidup yang terasa baik-baik saja.
Suatu hari, aku pulang membawa hasil ujian dengan nilai sempurna. Aku sangat bangga—meski sedikit menyontek ke buku, hehe, namanya juga anak-anak, kan? Aku berharap ibuku akan tersenyum. Namun wajahnya tetap datar.
Aku mencoba sekuat yang aku bisa untuk menyenangkan hatinya, tetapi jarak itu tetap terasa. Ibuku selalu berfokus pada ayahku. Jika ayah baik-baik saja, ibuku pun baik—bahkan manis kepadaku. Namun jika terjadi masalah yang melibatkan ayah, aku selalu menjadi tempat luapan amarahnya. Jika adikku menangis, aku yang dimarahi.
Aku tidak membela diri. Aku tidak melawan.
Aku hanya terus menyayangi ibuku.
Setelah lulus sekolah, aku mendapatkan nilai yang baik. Aku diterima bekerja di sebuah perusahaan dan menerima gaji pertamaku. Dengan bangga, aku menyerahkan semuanya kepada ibuku dan adik-adikku.
Ayah?
Pada akhirnya, ayah dan ibuku benar-benar berpisah.
Aku menjadi satu-satunya anak yang berdiri di tengah. Aku tidak mampu membenci ayah seperti adik-adikku. Dan justru karena itu, aku dimusuhi oleh ibuku.
Setiap hari gajian, ibuku terlihat sangat bahagia. Aku merasa disayang. Namun kebahagiaan itu berhenti ketika aku tidak lagi memberikan apa yang biasa aku beri.
Suatu hari, hidup memberiku kabar baik. Seorang lelaki datang melamarku. Ayah setuju, dan kami resmi menikah. Aku berhenti bekerja karena saat itu aku sedang mengandung.
Kehamilanku tidak kuat. Jika terlalu lelah, perutku terasa nyeri. Aku bahkan pernah dirawat selama satu minggu. Namun ibuku sangat membenci keadaanku. Katanya aku adalah anak yang gagal karena tidak mampu menggapai cita-cita.
Padahal, bagiku, ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan. Karena Tuhan lebih tahu apa yang aku butuhkan.
Perlahan, aku mulai sadar: mungkin ibuku memang memiliki perasaan lain terhadapku. Aku tidak tahu sebabnya. Ayah pernah berkata bahwa ibuku seperti ini, tetapi kata ibuku, ayahku seperti itu. Hal itu sempat mengusik pikiranku. Namun suamiku berkata, tidak semua hal perlu kita ketahui jawabannya.
Meski begitu, ada hari-hari ketika rasa benci tetap datang diam-diam.
Hidupku berjalan seperti ini—hangat, penuh cerita, dan plottwist yang tak terduga. Kadang terasa tidak baik, tetapi tetap layak diperjuangkan.
Mungkin aku tidak pernah benar-benar memahami posisi ibuku saat ia masih bersama ayahku. Aku hanya menebak-nebak, mencari jawaban yang tak pernah kutemukan. Yang kutahu, aku sudah berusaha sekuat yang aku bisa untuk memahami. Namun semuanya terasa rumit.
Kepalaku sering sakit. Malam-malamku kerap gelisah. Aku beberapa kali berkonsultasi dengan dokter sebelum menikah, hingga akhirnya disarankan menemui psikiater. Aku membutuhkan obat hanya untuk bisa tidur. Bahkan saat aku terlelap, mimpiku sering datang dengan wajah-wajah yang seram, seolah pikiranku tak pernah benar-benar beristirahat.
Kadang, begitu banyak pertanyaan berdesakan di kepalaku, sampai rasanya dipenuhi suara-suara yang saling bersahutan:
“Apakah saat kita masih anak-anak, wajar bila menerima hal seperti ini?
Apakah anak-anak memang diciptakan untuk sekuat itu?”
“Semuanya hanya bergantung pada cara kita memandang.
Sebesar apa pun luka akan terasa lebih ringan saat kita belajar menerimanya dengan sudut pandang yang lain.
Aku tahu ini tidak mudah.
Namun hari ini, aku memilih menyayangi diriku sendiri.”
Bersambung..
Dan jika mendung di cerita ini masih tertinggal di dadamu,
barangkali novel Jerat Bernama Cinta adalah hujan yang akan melanjutkannya.
Update setiap Selasa & Jumat malam.
Follow dan favoritkan agar tidak ketinggalan cerita berikutnya 🌙