Aroma lasagna yang baru matang seharusnya menjadi pelengkap sempurna untuk malam ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Di atas meja jati itu, dua gelas kristal berisi wine merah berkilauan tertimpa cahaya lilin. Kenan merapikan kerah kemejanya, lalu mengecup dahi Vanya dengan kelembutan yang selalu berhasil membuat wanita itu luluh.
"Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang," bisik Kenan. Suaranya rendah, penuh kasih, tipe suara yang tidak akan pernah disangka berasal dari seorang pria yang bisa mematahkan leher lawan dalam tiga detik.
Vanya tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu bidang Kenan. "Tiga tahun yang indah. Aku tidak menyangka hidup dengan pegawai bank sesibuk kamu bisa sebahagia ini."
Kenan terkekeh pelan. Pegawai bank. Itulah topeng yang ia kenakan dengan sempurna. Di mata Vanya, Kenan hanyalah pria kantoran yang pusing dengan suku bunga. Vanya tidak pernah tahu bahwa di balik jam tangan mewahnya, terdapat pemancar sinyal ke markas besar Shadow—organisasi intelijen paling elit di negeri ini.
"Dan aku beruntung memiliki istri guru TK sesabar kamu," balas Kenan sembari menarikkan kursi untuk istrinya.
Vanya duduk dengan anggun dalam balutan dress satin merah yang memeluk lekuk tubuhnya. Kenan tidak tahu bahwa di balik paha mulus istrinya itu, terikat sebuah pisau keramik yang tidak akan terdeteksi pemindai logam mana pun. Vanya bukan sekadar guru TK; dia adalah Black Rose, pembunuh bayaran nomor satu dari organisasi rival, Eclipse.
Makan malam yang romantis itu tiba-tiba terinterupsi. Bzzzt. Bzzzt.
Ponsel Kenan di saku celana dan ponsel Vanya di dalam tas kecilnya bergetar bersamaan. Mereka saling pandang sejenak, memberikan senyum canggung "maaf ada urusan kantor", lalu memeriksa pesan masing-masing secara sembunyi-sembunyi di bawah meja.
Pesan di ponsel Kenan berbunyi: [Shadow Command: Target terdeteksi di koordinat rumahmu. Identitas: Black Rose dari Eclipse. Eksekusi sekarang. Jangan ada saksi.]
Pesan di ponsel Vanya berbunyi: [Eclipse Central: Misi mendesak. Target: Agen Shadow berkode 'Raven'. Lokasi: Apartemenmu. Dia sangat berbahaya. Habisi sebelum fajar.]
Darah Kenan mendidih. Matanya yang semula lembut berubah menjadi sedingin es. Ia menatap istrinya yang masih memegang ponsel dengan jemari gemetar. Vanya adalah Black Rose? Wanita yang tidur di pelukanku setiap malam adalah orang yang membantai sepuluh informanku bulan lalu?
Di sisi lain, jantung Vanya seolah berhenti berdetak. Ia melirik Kenan yang tampak tenang menyesap wine-nya. Kenan adalah Raven? Pria yang membuatkan aku susu hangat setiap malam adalah musuh bebuyutanku yang paling dicari?
"Sayang," ucap Kenan pelan, suaranya kini memiliki nada tajam yang tidak pernah Vanya dengar sebelumnya. "Kau tahu, aku baru ingat ada laporan audit yang belum selesai di ruang kerja."
"Oh, benarkah?" Vanya berdiri, jemarinya perlahan merayap ke balik dress-nya. "Aku juga harus ke dapur. Sepertinya aku lupa mematikan kompor."
Mereka berdiri bersamaan. Suasana hangat itu lenyap, digantikan oleh tekanan udara yang begitu berat hingga napas terasa sesak. Foto pernikahan mereka yang dipajang di dinding seolah menjadi saksi bisu kebohongan besar yang mereka bangun selama tiga tahun.
"Vanya," panggil Kenan dengan suara yang lebih mirip sebuah vonis.
"Ya, Kenan?"
"Jangan ke dapur. Pisau keramikmu ada di balik kain itu, kan?"
Vanya membeku. Detik berikutnya, ia bergerak secepat kilat. Ia menarik pisau dan mengayunkannya ke arah leher Kenan. Trak! Kenan menangkisnya dengan garpu perak, lalu menendang meja makan hingga terbalik untuk menciptakan jarak.
"Raven..." desis Vanya, matanya berkilat penuh amarah dan luka. "Pegawai bank, ya? Kau membohongiku selama tiga tahun!"
Kenan menarik pistol silencer dari balik pinggang celananya. "Dan kau guru TK yang lembut? Kau membunuh menteri luar negeri dengan racun sebulan yang lalu, Black Rose!"
Mereka kini berdiri berhadapan di ruang tamu yang berantakan. Bingkai foto pernikahan mereka jatuh dan retak di lantai, tepat di tengah-tengah mereka.
"Misi tetap misi, Kenan," ucap Vanya, suaranya bergetar antara kebencian dan cinta yang masih tersisa. "Organisasiku memerintahkan kepalamu malam ini."
"Begitu juga denganku," Kenan mengokang senjatanya, namun matanya menatap Vanya dengan rasa sakit yang mendalam. "Tapi aku tidak menyangka... bahwa target yang harus kuhancurkan adalah seluruh duniaku sendiri."
Lampu apartemen tiba-tiba padam. Suara tembakan pertama memecah keheningan malam, diikuti denting pisau yang beradu. Di tengah kegelapan, dua orang yang paling saling mencintai itu kini mulai menari dalam tarian kematian yang mematikan, menyadari bahwa besok pagi, hanya satu dari mereka yang akan tetap bernapas—atau mungkin tidak keduanya.