Di sebuah desa yang selalu bersalju, diadakan kompetisi membuat patung salju setiap Februari. Kompetisi itu memiliki aturan yang aneh: setiap peserta harus menggunakan air mata mereka sendiri sebagai bahan perekat patung.
Seorang wanita bernama Hana mengikuti kompetisi itu. Hana adalah seorang wanita yang sangat sedih. Ia baru saja kehilangan suaminya.
Hana membuat patung salju yang menggambarkan suaminya. Ia menggunakan air matanya untuk merekatkan patung itu.
Hana menangis sepanjang hari saat membuat patung itu. Air matanya mengalir deras.
Patung salju Hana menjadi sangat indah dan mengharukan. Patung itu memancarkan kesedihan dan cinta.
Juri terharu dengan patung Hana. Mereka memutuskan untuk memberikan Hana hadiah utama.
Hana tidak merasa bahagia dengan kemenangan itu. Ia hanya merasa semakin sedih.
Seorang anak kecil menghampiri Hana. Anak kecil itu memberikan senyuman kepada Hana. Anak kecil itu mengatakan bahwa patung Hana sangat indah.
Hana tersenyum kepada anak kecil itu. Ia merasa sedikit terhibur. Ia menyadari bahwa air mata tidak selalu berarti kesedihan. Air mata juga bisa berarti cinta dan keindahan. Kompetisi membuat patung salju dengan air mata telah membantu Hana mengatasi kesedihannya.