Lampu neon putih di lorong Cinderella Aesthetic Clinic berkedip pelan, memantul pada lantai marmer yang begitu bersih hingga kau bisa melihat bayangan ketakutanmu sendiri di sana. Kim Ji-soo, seorang perawat muda yang baru seminggu bekerja di klinik elit kawasan Gangnam ini, merapikan seragamnya yang kaku. Di sini, udara selalu berbau kombinasi aneh antara disinfektan, aroma mawar mahal, dan bau samar besi dari darah yang belum kering.
"Ingat Ji-soo, di sini kita tidak hanya menjual medis. Kita menjual rebirth. Kelahiran kembali," ucap Kepala Perawat Choi dengan suara yang sedatar garis EKG pasien mati.
Ji-soo mengangguk patuh. Di Seoul, kecantikan adalah mata uang. Tanpa Double Eyelid Surgery atau rahang V-Line yang sempurna, seorang gadis hanyalah bayangan di balik gedung-gedung pencakar langit. Ji-soo sendiri menghabiskan tiga bulan gajinya hanya untuk suntikan K-Glass Skin agar bisa diterima bekerja di sini.
Malam itu, Ji-soo ditugaskan menjaga lantai empat—lantai VIP bagi pasien yang mengambil "Paket V-Line Total". Saat ia memasuki ruang pemulihan, pemandangan itu membuatnya tercekat. Ada lima pasien di sana. Wajah mereka tertutup perban putih yang melilit ketat, menyisakan lubang untuk mata dan mulut.
Ji-soo mulai memeriksa cairan infus mereka. Namun, tangannya gemetar saat menyadari sesuatu yang janggal. Di papan nama tempat tidur, pasien-pasien itu berasal dari latar belakang berbeda: seorang istri konglomerat Cheongdam-dong, seorang aktris rookie, dan tiga putri pengusaha ternama. Namun, saat ia melihat foto referensi "Wajah Target" di tablet medis sang dokter, semuanya memiliki satu cetakan yang sama.
Mata yang lebar dengan sudut dalam yang tajam, hidung dengan kemiringan tepat 106 derajat, dan bentuk bibir cherry yang identik. Mereka tidak sedang diperbaiki; mereka sedang diduplikasi.
"Kenapa mereka semua terlihat... sama?" bisik Ji-soo pada dirinya sendiri.
"Itu karena kesempurnaan hanya punya satu standar, Ji-soo-ssi."
Ji-soo melonjak kaget. Dokter Park, sang ahli bedah utama yang dikenal memiliki "Tangan Tuhan", berdiri di ambang pintu. Senyumnya sempurna—terlalu sempurna, hasil dari puluhan kali filler dan botox di wajahnya sendiri.
"Standar kecantikan di Korea sedang berevolusi," lanjut Dokter Park sambil berjalan mendekati pasien di ranjang No. 4. "Dulu orang ingin menjadi diri mereka yang lebih baik. Sekarang, mereka ingin menjadi 'Dia'."
"Dia?" tanya Ji-soo ragu.
Dokter Park tidak menjawab. Ia hanya mengelus perban pasien ranjang No. 4 dengan gerakan yang hampir terasa seperti pemujaan.
Rasa penasaran Ji-soo memuncak saat tengah malam tiba. Ia menyelinap ke ruang arsip digital Dokter Park. Dengan tangan gemetar, ia meretas folder tersembunyi berlabel Project: First Love. Di dalamnya, terdapat ribuan foto seorang wanita yang sama. Wanita itu cantik, namun ada aura dingin di matanya. Ji-soo menyadari itu adalah mendiang istri sang pemilik grup Chaebol terbesar di Korea yang dikabarkan hilang secara misterius lima tahun lalu.
Ji-soo menutup mulutnya. Dokter Park bukan sedang melakukan operasi plastik. Ia sedang membangun pasukan. Ia menciptakan ribuan salinan dari satu wanita yang hilang, menyusupkan mereka kembali ke dalam keluarga-keluarga paling berpengaruh di Korea melalui pernikahan dan kontrak agensi.
Tiba-tiba, suara alarm berbunyi dari Ruang Pemulihan No. 4.
Ji-soo berlari kembali ke sana. Ia menemukan pasien di ranjang No. 4 sedang duduk tegak. Perbannya terlepas setengah. Ji-soo mendekat untuk membantu, namun saat kain itu jatuh, Ji-soo jatuh terduduk di lantai.
Di balik perban itu, bukan wajah manusia yang sedang membengkak pasca-operasi. Kulitnya pucat seperti porselen, tidak ada bekas jahitan, tidak ada memar. Wajah itu... persis seperti manekin yang baru keluar dari pabrik. Dan saat pasien itu menoleh, ia tidak berbicara. Suara yang keluar dari mulutnya adalah suara rekaman digital yang halus.
"Apakah... aku sudah cantik, Dokter?"
Pintu ruangan tertutup otomatis. Terkunci.
Ji-soo berbalik dan melihat Dokter Park berdiri di balik kaca jendela kecil dengan tatapan dingin. Di sampingnya, Kepala Perawat Choi memegang sebuah suntikan berisi cairan bening.
"Ji-soo-ssi," suara Dokter Park menggema melalui intercom. "Kau punya struktur tulang pipi yang sangat bagus. Sangat cocok untuk menjadi 'Ranjang No. 6'."
Ji-soo berteriak, menggedor pintu kaca, sementara pasien dari ranjang No. 1, 2, 3, dan 5 mulai bangkit dari tidurnya dengan gerakan yang patah-patah. Mereka semua menoleh ke arah Ji-soo secara serempak. Di bawah lampu neon yang berkedip, Ji-soo melihat lima wajah yang identik tersenyum ke arahnya.
Senyum yang persis sama. Senyum yang tidak pernah sampai ke mata.
Dan di luar sana, di jalanan Gangnam yang gemerlap, ribuan wanita dengan wajah yang sama sedang berjalan, berpapasan, dan mulai mengambil alih kota—satu operasi pada satu waktu.
Lampu di Ruang Pemulihan No. 4 padam sepenuhnya. Hanya terdengar suara langkah kaki porselen yang mendekat ke arah Ji-soo yang terpojok.