Bau amis darah dan pengapnya gorong-gorong perlahan memudar, digantikan oleh aroma antiseptik yang menusuk. Luna duduk di koridor rumah sakit selama dua puluh empat jam terakhir tanpa berkedip. Bajunya yang penuh noda darah kering menjadi saksi bisu betapa tipisnya jarak antara hidup dan mati.
Lampu ruang operasi akhirnya padam. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah, namun memberikan sebuah anggukan kecil. Adrian selamat, meski ia berada dalam kondisi koma yang tidak bisa dipastikan kapan akan berakhir.
Luna tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis di gorong-gorong malam itu. Ia teringat pesan terakhir Adrian. Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan jam tangan Rolex milik Adrian yang kacanya sudah retak. Di balik tutup arloji itu, terdapat sebuah ruang rahasia kecil yang menyimpan sebuah mikrosip dan secarik kertas lusuh dengan alamat sebuah apartemen tua di pinggiran kota.
Sore harinya, Luna berdiri di apartemen itu. Di dalam sebuah kotak besi tersembunyi, ia menemukan surat asli dari ayahnya, tertanggal satu hari sebelum eksekusi itu terjadi.
“Untuk Luna, putri kecilku yang jauh,” tulis ayahnya dengan tulisan tangan yang gemetar.
“Jika kau membaca ini, artinya aku sudah tiada. Aku telah terjebak terlalu dalam dalam labirin Black Mamba yang dibangun Bram. Aku tahu Bram akan membunuhku karena aku berniat membocorkan rahasianya. Maka, aku membuat kesepakatan terakhir dengan satu-satunya orang yang masih memiliki sisa nurani di organisasi itu: Adrian Alister.”
Luna menutup mulutnya dengan tangan. Napasnya tercekat.
“Aku meminta Adrian untuk menarik pelatuk itu. Lebih baik aku mati di tangannya daripada di tangan algojo Bram yang kejam. Sebagai gantinya, Adrian berjanji padaku untuk melindungi nyawamu dengan nyawanya sendiri. Adrian adalah hukuman sekaligus pelindung yang aku pilihkan untukmu. Jangan membencinya, Luna. Dia tidak membunuhku demi uang; dia membunuhku untuk memerdekakanku, dan untuk menyelamatkanmu.”
Surat itu jatuh dari tangan Luna. Seluruh kemarahan yang membakarnya selama ini mendadak padam, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa. Adrian selama ini memikul beban sebagai "pembunuh" hanya agar Luna tetap aman dan ayahnya tidak mati dalam siksaan Bram. Pria itu rela dibenci oleh wanita yang paling ia cintai demi sebuah janji pada orang mati.
Satu bulan kemudian.
Luna masuk ke kamar VIP rumah sakit dengan membawa buket bunga lily putih. Di sana, Adrian masih terbaring kaku dengan berbagai mesin yang menopang hidupnya. Wajahnya yang dulu angkuh kini tampak sangat tenang, hampir seperti malaikat yang sedang beristirahat dari perang yang panjang.
Luna duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Adrian yang penuh bekas luka.
"Aku sudah membaca surat Ayah, Adrian," bisik Luna di telinganya. "Ayah bilang kau bukan pembunuh. Kau adalah penebusan."
Tangan Adrian tidak bergerak. Mesin EKG masih menunjukkan irama yang datar dan stabil. Luna menunduk, mencium kening pria itu.
"Bangunlah, Iblis Utara. Kau belum menyelesaikan hutangmu padaku. Kau belum memintaku menjadi istrimu setelah semua kekacauan ini. Aku tidak akan membiarkanmu pergi semudah ini setelah kau mencuri segalanya dariku... termasuk hatiku."
Tiba-tiba, Luna merasakan tekanan sangat kecil di jemarinya. Sangat halus, hampir tidak terasa. Luna terpaku, menatap monitor jantung. Garisnya mulai bergejolak cepat. Kelopak mata Adrian bergetar hebat.
Perlahan, mata abu-abu yang dingin itu terbuka. Adrian menatap langit-langit ruangan dengan bingung, sebelum matanya beralih dan menemukan wajah Luna yang basah oleh air mata bahagia.
"Luna..." suaranya hanya sebuah gesekan udara yang lemah.
"Ya, ini aku. Kau kembali, Adrian."
Adrian tersenyum sangat tipis, sebuah senyum tulus yang tidak pernah ia tunjukkan saat menjadi pengawal. "Apakah... aku masih harus... melindungimu?"
Luna tertawa di tengah tangisnya, ia memeluk leher Adrian dengan erat. "Tidak. Mulai sekarang, kita akan saling melindungi. Dari dunia, dan dari masa lalu kita sendiri."
Di luar jendela rumah sakit, matahari terbenam dengan warna emas yang indah. Black Mamba telah hancur, Bram telah mati, dan warisan itu telah menjadi berkat bagi banyak orang. Di dalam kamar itu, sang pembunuh dan sang ahli waris akhirnya menemukan satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli dengan 50 miliar rupiah: sebuah awal yang baru.
TAMAT