Gelap. Saluran pembuangan kota itu berbau pesing dan karat, tapi Luna terus berlari. Suara tembakan di atas sana sudah meredup, digantikan oleh sunyi yang jauh lebih menakutkan. Di tangannya, pistol dingin milik Adrian terasa seperti beban seberat gunung.
"Adrian... kau tidak boleh mati," bisik Luna, sebuah kontradiksi yang menyakitkan. Ia seharusnya berdoa agar pria itu tewas, namun hatinya justru meraung ketakutan akan kehilangan.
Tiba-tiba, sebuah langkah kaki bergema di belakangnya. Bukan langkah yang pincang seperti Adrian, melainkan langkah yang mantap, tegas, dan berirama.
"Melarikan diri ke gorong-gorong bukanlah gaya seorang ahli waris 50 miliar, Luna."
Luna berbalik, mengarahkan pistol dengan tangan gemetar. Di bawah remang lampu darurat, sesosok pria paruh baya dengan setelan jas putih bersih berdiri di sana tanpa noda sedikit pun. Pria itu tersenyum lembut—senyum yang sangat Luna kenali.
"Paman... Bram?" Luna terengah. Bram adalah pengacara kepercayaan ayahnya, orang yang membantunya mengurus seluruh warisan itu.
"Ya, sayang. Letakkan senjatanya. Adrian adalah pria yang berbahaya, dia sudah mencuci otakmu," ucap Bram sambil melangkah mendekat.
"Paman, Adrian bilang Black Mamba mengepung rumah! Dia membunuh ayah, tapi dia melindungiku—"
"Adrian memang membunuh ayahmu," potong Bram, suaranya kini terdengar seperti desis ular. "Tapi dia melakukannya atas perintahku. Dan sekarang, dia mengkhianatiku karena dia jatuh cinta pada 'aset' berhargaku. Padahal, aku butuh kode akses itu, Luna. Dan hanya kau yang punya sidik jari serta akses retina untuk membukanya."
Luna membeku. Kebenaran menghantamnya lebih keras dari peluru. Black Mamba bukan milik Adrian. Black Mamba adalah milik Bram. Pengacara yang ia anggap sebagai pelindung adalah dalang di balik kematian ayahnya.
"Jadi Adrian... dia hanya pion?"
"Pion yang membangkang," Bram memberi isyarat ke arah bayangan di belakangnya. Dua pria berbadan besar menyeret sebuah tubuh yang bersimbah darah.
Itu Adrian.
Wajah tampannya hancur, matanya bengkak, dan ia nyaris tidak sadar. Namun, saat ia melihat Luna ditodong senjata oleh Bram, Adrian berusaha menggerakkan tangannya yang patah.
"Lu... na... lari..." suara Adrian hanya berupa bisikan berdarah.
"Adrian!" Luna menjerit, hendak berlari ke arahnya, tapi Bram mencengkeram rambut Luna dengan kasar.
"Cukup dramanya! Buka enkripsi rekening itu sekarang, atau aku akan memotong satu jari pria ini setiap sepuluh detik," Bram menempelkan moncong senjatanya ke telinga Adrian.
Luna gemetar hebat. Di satu sisi, ada harta yang ia benci tapi merupakan peninggalan ayahnya. Di sisi lain, ada pembunuh ayahnya yang kini menjadi satu-satunya pria yang ia cintai.
"Aku akan membukanya," ucap Luna parau. "Tapi biarkan dia pergi."
Bram tertawa terbahak-bahak. "Kau pikir aku bodoh? Setelah rekening terbuka, kalian berdua akan bersatu... di neraka."
Bram menyeret Luna menuju sebuah tablet digital yang diletakkan di atas kotak besi. Luna menempelkan jarinya. Sensor memindai. Access Granted.
Saat layar menunjukkan angka nol yang berderet panjang, mata Bram berbinar penuh ketamakan. "Akhirnya!"
Namun, sebuah alarm berbunyi. Self-destruct initiated in 30 seconds.
"Apa yang kau lakukan?!" Bram berteriak panik.
"Ayahku tidak pernah meninggalkan uang 50 miliar, Paman," Luna tersenyum getir di tengah tangisnya. "Dia meninggalkan jebakan untuk orang yang membunuhnya. Uang itu sudah dipindahkan ke yayasan yatim piatu di seluruh dunia lima menit yang lalu melalui perintah suara di ponsel Adrian yang sempat aku pegang."
"Kau pelacur kecil!" Bram mengangkat senjatanya, siap menarik pelatuk ke arah dahi Luna.
Duar!
Bukan senjata Bram yang menyalak. Adrian, dengan sisa tenaga terakhir yang entah datang dari mana, telah melepaskan tembakan dari pistol kecil yang ia sembunyikan di balik lengan jasnya yang robek. Peluru itu tepat mengenai jantung Bram.
Bram tumbang, tewas seketika dengan mata melotot.
Luna segera berlari memeluk tubuh Adrian yang dingin. "Adrian! Bertahanlah! Tolong!"
Adrian tersenyum lemah, darah keluar dari sudut bibirnya. "Hutangku... lunas, Luna..."
"Tidak! Kau belum lunas! Kau harus hidup untuk meminta maaf padaku setiap hari!" Luna menjerit, mendekap wajah Adrian ke dadanya.
Suara sirine polisi yang asli kini terdengar mendekat ke arah saluran pembuangan. Cahaya senter mulai menyisir lorong.
Adrian memejamkan matanya, napasnya tersenggal. "Luna... di balik arlojiku... ada alamat. Di sana ada surat asli dari ayahmu... dia ingin aku melindungimu... bahkan sebelum aku menarik pelatuk itu..."
"Adrian? Adrian!"
Tubuh Adrian terkulai lemas dalam pelukan Luna. Di tengah kegelapan gorong-gorong Jakarta, Luna meraung memanggil nama pria yang paling ia benci sekaligus paling ia cintai.