Langit malam di Jaksel alias Jakarta Selatan selalu punya dua muka: kemewahan yang memuakkan dan kemiskinan yang mencekik. Luna Valencia berdiri di balik meja kasir kafe Le Sourd, menatap rintik hujan yang menghantam kaca jendela. Jam menunjukkan pukul 23.50 WIB. Tinggal sepuluh menit lagi sebelum shift nerakanya berakhir.
Luna mengusap pelipisnya yang berdenyut. Gadis berusia 21 tahun itu hanya ingin pulang ke rumah susunnya, makan mie instan, dan tidur. Namun, pintu kafe tiba-tiba terdorong kasar.
Brak!
Seorang pria terhuyung masuk. Bajunya yang semula putih kini basah kuyup dan ternoda warna merah pekat yang mengerikan. Darah.
"Tutup pintunya... kunci," desis pria itu. suaranya berat, parau, dan penuh otoritas meski ia tampak hampir pingsan.
Luna membeku. Matanya menangkap sosok pria itu secara detail. Rahangnya tegas seperti pahatan marmer, hidung mancung yang sempurna, dan rambut hitam legam yang menempel di dahi karena peluh dan hujan. Pria ini terlalu tampan untuk menjadi seorang kriminal, namun luka tembak di lengannya berkata lain.
"Mas... Anda terluka! Saya panggil ambulans—"
"Jangan!" Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Luna. Genggamannya panas dan kuat. Mata mereka bertemu. Sepasang mata elang berwarna abu-abu gelap yang menatap Luna dengan intensitas yang sanggup menghentikan detak jantung. "Kalau kau telepon polisi atau rumah sakit, nyawamu juga terancam. Sembunyikan aku."
Insting Luna berteriak untuk lari, tapi melihat pria itu jatuh berlutut di depannya, rasa kemanusiaannya menang. Ia mengunci pintu kafe, mematikan lampu depan, dan menyeret pria itu ke gudang belakang.
Di ruang sempit yang berbau kopi itu, Luna merobek kemeja mahal sang pria untuk membersihkan lukanya. Ia tidak tahu bahwa malam itu, ia baru saja menyelamatkan Adrian Alister, sang "Iblis Utara", pemimpin sindikat bawah tanah Black Mamba yang paling ditakuti.
Dua minggu kemudian, hidup Luna berubah total. Ayahnya yang sudah sepuluh tahun menghilang tiba-tiba dikabarkan meninggal dunia di Singapura dan meninggalkan warisan sebesar 50 miliar rupiah serta sebuah rumah mewah di kawasan Menteng.
Luna yang semula bukan siapa-siapa, mendadak menjadi incaran media dan orang-orang jahat yang menginginkan hartanya. Di tengah kebingungan itu, sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti di depan rumah susunnya yang kumuh.
Seorang pria turun dengan setelan jas hitam yang sangat rapi. Kacamata hitam menutupi matanya, tapi Luna mengenali rahang itu. Rahang yang pernah ia bersihkan dari noda darah.
"Siapa Anda sebenarnya?" tanya Luna, suaranya bergetar saat pria itu berdiri tepat di depannya, menghalangi cahaya matahari.
Pria itu membuka kacamatanya. Adrian Alister menatapnya dengan senyum tipis yang dingin. "Namaku Adrian. Mulai detik ini, aku adalah pengawal pribadimu. Aku ditugaskan oleh pengacara ayahmu untuk memastikan kau tetap hidup sampai seluruh aset itu pindah ke tanganmu."
"Aku tidak butuh pengawal seperti kamu!" Luna mencoba menutup pintu, tapi Adrian menahannya dengan satu tangan.
"Kau butuh aku, Luna," bisik Adrian, menunduk hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Luna. Aroma parfum sandalwood dan maskulin yang kuat menyerbu indra penciuman Luna. "Di luar sana, ada sepuluh senapan mesin yang mengincar kepalamu demi uang 50 miliar itu. Hanya aku yang bisa menjamin kau tetap bernapas besok pagi."
Luna menelan ludah. "Kenapa kamu mau melakukan ini?"
Adrian terdiam sejenak. Matanya berkilat gelap. Karena aku berutang nyawa padamu, dan karena aku adalah orang yang seharusnya menarik pelatuk ke arah ayahmu, batin Adrian. Namun, yang keluar dari mulutnya hanyalah, "Karena kau adalah milikku sekarang. Dan aku tidak suka jika barang milikku disentuh orang lain."
Hari-hari berikutnya menjadi neraka yang manis bagi Luna. Adrian sangat posesif. Pria itu tidak membiarkan Luna pergi ke mana pun tanpa pengawasannya. Bahkan saat Luna tidur, Adrian berjaga di depan pintu kamar dengan senjata api yang terselip di balik jasnya.
Di balik sifat dinginnya, Adrian seringkali menunjukkan perhatian yang membuat jantung Luna berdebar. Seperti saat Adrian memasangkan sepatu hak tinggi ke kaki Luna sebelum pesta peluncuran yayasan ayahnya.
"Jangan menatap pria lain malam ini," perintah Adrian sambil mengikat tali sepatu Luna. Posisinya yang berlutut di depan Luna membuat Luna merasa seperti seorang ratu.
"Kenapa? Kamu kan cuma pengawalku," tantang Luna, meski wajahnya sudah memerah.
Adrian berdiri, memangkas jarak di antara mereka hingga Luna terdesak ke tembok. Ia meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Luna, mengurung gadis itu. "Aku bukan cuma pengawal. Aku adalah satu-satunya pria yang boleh melihatmu seperti ini. Mengerti?"
Luna merasa sesak napas. Ia membenci keangkuhan Adrian, tapi ia juga merindukan sentuhannya. Di balik jas rapi itu, Luna tahu ada monster yang siap menerkam siapa saja.
Kehancuran itu datang di malam bulan purnama. Luna tidak sengaja menemukan sebuah berkas rahasia di dalam brankas kerja Adrian. Sebuah foto ayahnya yang diberi tanda silang merah dengan tulisan: Target Tereliminasi. Pelaksana: A.A.
Dunia Luna serasa runtuh. Air matanya jatuh mengenai kertas itu.
"Jadi... ini alasanmu melindungiku?" suara Luna parau saat Adrian masuk ke ruangan.
Adrian membeku di ambang pintu. Ekspresinya yang biasanya tak terbaca kini menunjukkan gurat penyesalan yang dalam. "Luna, aku bisa jelaskan."
"Jelaskan apa?! Kamu membunuh ayahku! Kamu menyelamatkanku di kafe itu hanya untuk menebus rasa bersalahmu? Atau ini bagian dari rencana untuk mengambil semua warisanku?" Luna berteriak, melemparkan foto itu ke wajah Adrian.
Adrian melangkah maju, mencoba meraih tangan Luna, tapi Luna mundur dengan rasa jijik. "Jangan sentuh aku! Kamu monster! Aku benci kamu, Adrian Alister!"
Adrian berhenti melangkah. Wajahnya kembali menjadi sedingin es, namun matanya memancarkan rasa sakit yang nyata. "Ya, aku membunuhnya. Itu tugasku. Tapi melindungimu... itu bukan tugas. Itu adalah satu-satunya hal nyata yang pernah aku lakukan seumur hidupku."
"Pergi! Aku mau kamu pergi dari sini!"
"Aku tidak bisa pergi, Luna," ucap Adrian dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan. "Karena di luar sana, musuh-musuhku dan musuh ayahmu sedang mengepung rumah ini. Jika aku pergi, kau akan mati dalam lima menit."
Tiba-tiba, suara tembakan pecah dari arah taman depan. Lampu rumah padam seketika. Di tengah kegelapan, Adrian menerjang tubuh Luna, mendekapnya erat ke lantai saat peluru menembus kaca jendela di atas mereka.
"Benci aku sesukamu, Luna," bisik Adrian di tengah desingan peluru. Ia mengeluarkan pistolnya, mengokangnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap memeluk kepala Luna dengan protektif. "Tapi malam ini, biarkan si pembunuh ini membelamu untuk terakhir kalinya. Setelah ini, kau bebas membunuhku dengan tanganmu sendiri."
Luna terisak dalam dekapan Adrian. Ia membenci pria ini, tapi di saat maut menjemput, pelukan Adrian adalah satu-satunya tempat yang terasa seperti rumah.