Bima datang ke Jakarta dengan membawa modal yang menurut orang-orang di kampung pesisir Jawa Tengah adalah sebuah anugerah: wajah setampan ksatria pewayangan, kulit hitam manis yang terbakar matahari laut, dan tubuh tegap yang terbentuk karena memanggul jaring ikan. Di terminal Pulogadung, ia hanyalah pemuda polos yang percaya bahwa Ibukota adalah tempat di mana garis nasib bisa diperbaiki hanya dengan bermodalkan senyum dan kejujuran.
Keberuntungan awal berpihak padanya. Seorang pencari bakat menemukannya saat ia bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Bima ditarik menjadi model iklan produk stamina, lalu merangkak menjadi aktor figuran di sinetron laga. Tubuhnya yang kekar membuat agensi cepat meliriknya. Namun, gemerlap lampu studio hanyalah lapisan tipis yang menutupi kerasnya beton Jakarta. Honor figuran yang sering menunggak dan tuntutan gaya hidup mulai mencekik lehernya.
Suatu malam di sebuah kelab remang-remang di kawasan Jakarta Barat, Bima bertemu dengan sosok yang akan mengubah jalannya. Mami Rosa, seorang germo kelas atas yang matanya setajam silet, melihat potensi besar pada pemuda itu.
"Badanmu terlalu bagus hanya untuk sekadar lewat di depan kamera, Bima," bisik Mami Rosa di balik kepulan asap rokok mentolnya. "Jakarta itu bukan soal kerja keras, tapi soal seberapa berani kamu menjual dirimu. Kamu mau kirim uang berapa ke ibumu di kampung? Tiga ratus ribu dari jadi figuran? Di sini, sekali pijat, kamu bisa dapat tiga juta."
Bima menunduk, meremas gelas birnya. "Saya aktor, Mami. Bukan tukang pijat macam itu."
Mami Rosa tertawa renyah, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Aktor? Kamu itu cuma pajangan. Di tempatku, kamu tetap aktor. Kamu bisa jadi apa saja yang klien minta. Mau jadi ksatria gagah di depan nyonya kaya, atau jadi terapis penurut di depan tuan besar? Semuanya cuma peran, Bima. Bedanya, di sini panggungmu di atas ranjang, bukan di layar kaca."
Tunggakan kos dan rasa lapar akhirnya menjadi guru yang lebih meyakinkan daripada harga diri. Bima pun terjerumus. Ia bertransformasi menjadi terapis pijat plus-plus sekaligus gigolo eksklusif. Di balik pintu hotel berbintang, ia memoles tubuh kekarnya dengan minyak zaitun yang harum, melayani sentuhan wanita-wanita haus perhatian hingga pria-pria kesepian.
Konflik batin mulai menggerogotinya setiap kali ia pulang ke apartemen murahnya. Ia akan berdiri di depan cermin, menatap tubuhnya yang gagah namun terasa kotor. "Siapa aku sebenarnya?" bisiknya pada bayangannya sendiri. Saat melayani wanita, ia merasa seperti lelaki perkasa. Namun saat melayani pria, ia merasakan sensasi yang membingungkan—campuran antara benci pada diri sendiri dan kenikmatan dari validasi yang diberikan. Ia seorang biseksual yang terjepit dalam topeng kejantanan. Padahal dulu dia pria normal yang begitu tertarik terhadap lawan jenis. Karena faktor uang dan utang, akhirnya ia tak bisa kuat bertahan mempertahankan prinsipnya.
Suatu sore, seorang klien pria paruh baya bernama Pak Hendra menyentuh bahunya lembut setelah sesi pijat usai. "Kamu punya mata yang jujur, Bima. Sayang, matamu mulai redup."
Bima menarik napas panjang, berusaha tetap profesional meski dadanya sesak. "Saya cuma capek, Pak. Jakarta itu melelahkan."
"Bukan Jakarta yang capek, tapi sandiwaramu," sahut Pak Hendra sambil menyelipkan beberapa lembar ratusan ribu tambahan. "Kamu terlalu gagah untuk hidup di bayang-bayang begini. Tapi yah, kita semua punya harga, kan?"
Uang memang mengalir deras. Tas bermerk dan jam tangan mewah melingkar di tubuhnya. Namun, untuk membunuh rasa malu dan tetap kuat melayani tiga hingga empat klien sehari, Bima mulai bergantung pada sabu-sabu. Narkoba menjadi teman setianya untuk melupakan kenyataan bahwa ia telah menjadi komoditas. Wajahnya yang hitam manis mulai tampak cekung, otot dadanya mulai bergetar karena saraf yang rusak.
Tragedi itu mencapai puncaknya saat Bima mulai terobsesi pada seorang klien wanita muda bernama Sarah. Bima merasa Sarah adalah pelariannya untuk kembali menjadi lelaki "normal". Namun Sarah ternyata simpanan seorang bandar narkoba besar yang temperamental.
Malam itu, di sebuah apartemen mewah di kawasan Kuningan, Bima dijebak. Ia mengira akan bertemu Sarah untuk melarikan diri bersama, namun yang ia temukan adalah tiga orang berbadan besar.
"Jadi ini gigolo yang berani sentuh milik bos kita?" tanya salah satu pria sambil menghantamkan balok kayu ke perut Bima.
Bima terjerembab, memuntahkan cairan pahit. Tubuh kekar yang dulu ia banggakan kini tak punya daya. "Saya... saya cuma terapis," rintihnya parau.
"Terapis atau pelacur, nasibmu sama!"
Penyiksaan itu berlangsung dingin. Tubuh hitam manis yang dulu dipuja kini penuh memar dan luka sayat. Saat fajar menyingsing, Bima dibuang di sebuah gang sempit di belakang kelab malam tempat ia pertama kali bertemu Mami Rosa. Ia tergeletak di antara tumpukan sampah, mengenakan jas mahal yang kini robek.
Dalam napasnya yang terakhir, Bima membayangkan hamparan laut di kampungnya. Ia seolah mendengar suara ibunya memanggil namanya saat ia masih kecil. Di Ibukota yang kejam ini, ia menyadari bahwa ia telah kalah dalam sandiwara yang ia buat sendiri. Ia mati dalam kesunyian, sementara di atas sana, lampu-lampu Jakarta tetap menyala terang, siap memangsa pemuda-pemuda tampan berikutnya yang datang dengan mimpi yang sama.